Kamis, 14 Juli 2022

DIANOSA PENYAKIT IKAN SECARA SEDERHANA

Faktor X dalam budidaya ikan yang dapat menurunkan produktivitas para pembudidaya pada musim-musim sekarang ini adalah penyakit. Memang banyak faktor bila diteliti lebih mendalam tentang penyebab munculnya wabah penyakit. Dalam usaha budidaya yang intensif, kita mencoba memelihara ikan dalam kondisi yang terkontrol (padat tebar tinggi, pakan tambahan, aerasi dan lain-lain). Semuanya ini mengakibatkan perubahan baik terhadap biologi, nutrisi atau bentuk-bentuk polutan. Dalam banyak hal, kegiatan budidaya telah mengakibatkan banyak kerugian dimana penyakit telah membunuh sebagian besar atau bahkan seluruh stok ikan yang dipelihara. Lebih umum lagi, keberadaan penyakit telah membuat usaha budidaya tidak ekonomis. Kita sebenarnya dapat memelihara dan memproduksi ikan yang sehat baik pada hatchery maupun pada usaha pembesaran. Ini bisa dicapai apabila kita mengerti kompleks interaksi dari faktor-faktor yang menyebabkan suatu penyakit dan menerapkan pengetahuan ini dalam usaha budidaya yang intensif. 

Banyak orang percaya bahwa apabila suatu biological (zat hidup) atau chemical agent (zat kimia) berada dalam atau pada organisme peliharaan, maka organisme tersebut akan menderita sakit. Hal ini memang benar adanya. Terdapat banyak faktor yang menentukan seekor ikan menjadi sakit. Para pakar Aquaculture menggambarkan sebuah diagram keterkaitan faktor-faktor dalam budidaya ikan yang rentan dituding sebagai asal muasal penyakit, sebagai berikut :

Diagram keteraitan faktor budidaya ikan

Faktor utamanya adalah Host (organisme peliharaan / inang), Pathogen (microba, parasit) dan Environment (lingkungan / air). Penyakit merupakan ekspresi dari kompleks interaksi antara host-pathogen-environment.

Analisis deskriptif

Siklus penyebaran penyakit seperti gambar diatas dapat dianalisa dengan pemikiran dasar / logika tanpa diagnosa rumit dan membutuhkan alat ukur / biaya yang mahal. 

Lingkaran pertama adalah inang (ikan), artinya bahwa masuknya penyakit ke dalam tubuh ikan tergantung dari sejauh mana tingkat kesehatan dan kekebalan tubuh ikan tersebut. Kondisi optimal atau ikan sehat dengan gerakan lincah dan sistem metabolisme normal (nafsu makan baik) merupakan modal awal untuk menjaga daya hidupnya. Sebuah ilmu mengatakan bahwa microba berupa bakteri dapat masuk dalam tubuh ikan meskipun dalam kondisi sehat, namun selama bakteri baik dalam tubuh yang berfungsi membantu kerja metabolisme dengan menghasilkan enzym tersebut dapat berperan bagus, maka bakteri pathogen tidak akan bisa menandinginya. Sebaliknya dengan microba virus yang dikenal mematikan tidak akan dapat masuk atau menyerang ke dalam tubuh ikan dengan kondisi tubuh fit. Ia akan menjadi pathogen yang bersifat parasit (menempel dan membunuh) pada ikan yang kurang sehat atau stress. Untuk itu, perlunya kita memperhatikan dan mengenal kondisi ikan budidaya secara kontinu atau perlunya dilakukan sampling (ambil contoh) untuk memastikan kondisi ikan tersebut.

Kedua, masalah Pathogen (microba, bakteri, parasit atau virus) yang merupakan sumber malapetaka penyakit. Dilihat dari segi ekosistem air budidaya, bahwa media budidaya ikan tidak lepas dari mikroorganisme baik fyto atau zoo (tumbuhan atau hewan) yang mewarnai siklus budidaya. Kehadiran mereka justru diharapkan guna menyeimbangkan perairan budidaya, dalam artian bahwa lebih baik budidaya dengan kondisi perairan dengan ekosistem yang terjaga dari pada budidaya dalam air mineral yang steril.

Ekosistem Perairan

Di atas digambarkan, bahwa kondisi perairan sesungguhnya didominasi oleh rangkaian ekosistem yang tak terelakkan, dihuni oleh mikroorganisme, bakteri, virus, jamur dan parasit yang siap mengancam kesehatan perairan dan ikan. Disisi lain hal tersebut dapat dimanfaatkan secara positif dalam kondisi baik. Seperti halnya mikrorganisme (fytoplankton dan zooplankton) yang biasanya membentuk warna air (kehijauan/kecoklatan) merupakan pakan alami untuk ikan. Selain itu, fytoplankton dikenal sebagai pemasok oksigen terlarut (DO) dalam air terbesar dengan bantuan sinar matahari. Namun beberapa jenis fyto dan zooplankton ada yang bersifat toxic (beracun) dalam perairan tidak stabil.

Jenis bakteri dan virus akan muncul seiring dengan menurunnya kualitas air kolam. Banyak faktor yang membuat perubahan tesebut, misalnya tumpukan sisa pakan dan kotoran didasar kolam yang merupakan zat organik yang sifatnya akan membusuk jika tidak terjadi dekomposisi (perombakan), perubahan cuaca dari panas ke hujan atau sebaliknya sehngga mengguncang parameter suhu, pH (keasaman), kandungan oksigen dan parameter fisika dan kimia air lainnya. Puncak kejahatan bakteri dan virus adalah jika mereka dapat memanfaatkan kondisi ikan yang kurang sehat dan menjadikannya wabah yang dapat ditularkan manakala terjadi kontak fisik, air dan bahkan melalui udara ke kolam lainnya.

Sedangkan jamur dan parasit kerap muncul dan memperburuk kondisi perairan yang keruh atau pekat akibat pencemaran ataupun menumpuknya zat organik seperti sisa pakan. Sifat dari jamur dan parasit selalu berkembang biak selama media hidupnya dapat ditempeli. Tak jarang dapat membentuk spora,kista atau telur yang akan semakin merebak pada kolam. Menempel pada tubuh ikan dan menggerogoti sistem jaringan luar epidermis (kulit atau sisik) sehingga menjadikannya luka yang apabila tidak segera diatasi dapat menyebar dan mematikan.  

Faktor yang terakhir adalah lingkungan (air media budidaya). Tidak hanya membahas tentang bagaimana kondisi parameter kualitas air, namun juga hal-hal yang berpengaruh dengan lingkungan tersebut. Keseimbangan air yang merupakan parameter penting dalam pengelolaanya, karena ada beberapa hal yang sering disoroti para pakar budidaya ikan, yakni : parameter air (fisika dan kimia), kepadatan dan pakan ikan.

Keseimbangan Perairan

Macam-macam penyakit ikan air tawar

Beberapa macam penyakit ikan yang menyerang dan telah mewabah di daerah potensi perikanan wilayah indonesia masih menjadi kendala dan pasang surut produktivitas petani budidaya. Keadaan cuaca/iklim dan kondisi lingkungan yang menunjukkan penurunan daya dukung lahan semakin kentara. Disisi lain, tidak diimbanginya mutu perbenihan yang semakin anjlok, meskipun telah muncul berbagai varian genetik ikan air tawar, namun persebarannya kurang merata dan harus dilakukan adapatasi yang memakan waktu mengingat posisi alam indonesia pada belahan bumi tropis.

1. KHV (Koi Herpes Virus) 

Koi Herpes Virus yang kabarnya masih menjadi momok bagi pembudidaya ikan mas (Cyprinus carpio sp.). Dari data Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan dan Balai Riset Perikanan Budidaya (Ditkeskanling dan BRPB) bahwa penyebaran virus KHV telah merambah di seluruh nusantara.

Penyebaran penyakit, terutama infeksi virus akan terus menyebar tanpa bisa dikendalikan, karena dapat melelui media udara. Jika kita kembalikan kepada pemahaman tentang sifat virus sendiri yang tidak dapat masuk ke dalam tubuh inang selama ikan tersebut dalam kondisi sehat, berarti masih ada sebuh harapan besar yang dapat kita jadikan tuntunan bahwa begitu pentingnya menjaga kesehatan ikan atau melakukan sebuah langkah pencegahan. Karena apabila sudah terinfeksi dan virus telah dapat merusak sistem organ dalam tubuh ikan, tidak akan ada harapan dan yang terjadi adalah menunggu kematian ikan.

Gejala timbulnya penyakit KHV berawal dari kondisi suhu perairan dan lingkungan yang tidak bersahabat, lonjakan naik turunnya suhu kerap menimbulkan efek negative. Diketahui dari hasil riset internasional bahwa pertumbuhan KHV terjadi pada suhu 15 – 25 oC. Aktivitas serangan virus bersifat akut (mematikan) hingga 80 – 100% kematian pada ikan, menghasilkan kerusakan jaringan cukup luas dan menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Infeksi virus sering dilanjutkan dengan infeksi sekunder oleh bakteri ataupun didahului oleh infeksi sekunder oleh organisme parasit misalnya Argulus (kutu ikan), Lernea dan lain-lain.

Insang Terserang KHV

Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa kondisi ikan mas yang terserang penyakit KHV selalu ditandai dengan luka atau memar merah pada bagian insang ikan. Diawali dengan tingkah laku ikan yang berenang tanpa arah atau memutar-mutar, bernafas dengan terengah-engah (megap-megap) pada permukaan air, keluarnya lendir, mata cekung dan bengkak pada bagian insang. Virus menginfeksi dengan serangan pertama pada insang yang merupakan organ vital dalam pernafasan ikan, kemudian menjangkit pada organ dalam tubuh ikan yakni ginjal dan merusak system pencernaan usus sehingga nafsu makan turun drastis. Virus tetap infectif selama 4 jam didalam air sehingga dapat menular pada ikan yang lain dengan kondisi labil. Infeksi sekunder bakteri juga menyebabkan banyak terjadi luka-luka pada bagian sisik atau tubuh ikan. Hingga sekarang ini, KHV dapat mewabah sewaktu-waktu pada budidaya kolam kita, untuk itu tindakan insentif dalam pencegahan harus tetap dilakukan dengan pengelolaan air yang baik, pemberian multivitamin atau supplemen untuk membantu menguatkan daya tahan tubuh ikan perlu diterapkan.

2. Aeromonas hidrophyla

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri aeromonas ini dapat menjangkit semua jenis ikan air tawar di Indonesia. Dimana-mana bakteri-bakteri ini hampir selalu ditemukan dan hidup di air kolam, di permukaan tubuh ikan dan pada organ-organ tubuh bagian dalam ikan. Bakteri ini mudah berkembang biak dalam kondisi perairan dengan segala suhu dan perubahan lingkungan. 

Keberadaannya tidak begitu berbahaya, namun dalam jumlah yang banyak di perairan, bakteri selalu siaga mengintai kondisi labil ikan dan ketidakstabilan air untuk bergerak dan menimbulkan penyakit. Infeksi yang sering terjadi biasanya berkaitan dengan kondisi stress ikan yang diakibatkan oleh beberapa hal. Untuk itu perlu diperhatikan secara lebih serius. 

Faktor kepadatan (kuantitas) ikan dalam kolam adalah penyebab yang sering mengakibatkan ikan stress. Daya tampung benih harus diperhitungkan secara matang agar tidak terjadi over capacity yang mengakibatkan ikan kekurangan ruang gerak dan oksigen untuk bernafas pada saat usia dewasa, atau dapat dilakukan sortir atau pendederan. 

Malnutrisi atau pola makan yang tidak seimbang antara frekwensi pembarian pakan dan nilai gizi pakan. Kebutuhan pakan ikan dapat dipenuhi dengan adanya pakan alami dalam perairan ataupun pakan buatan yang disuplai dari luar. Untuk lebih memaksimalkan pertumbuhan dan mencegah terjadinya malnutrisi dapat digunakan supplemen tambahan yang membantu menambah nilai gizi pakan. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan ikan dengan melakukan sampling setiap minggunya agar diketahui secara pasti kurang labihnya kebutuhan pakan yang diberikan.

Ikan Terserang Aeromonas

Ilmu pengetahuan yang berkembang menyatakan bahwa Aeromonas hydrophila dapat memanfaatkan albumin, kasein, fibrinogen, dan gelatin sebagai substrat protein. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bakteri ini bersifat proteolotik (Shotts et al. 1985), sehingga berpotensi besar sebagai patogen ikan. Adanya enzim proteolitik akan merusak dinding intenstin, sehingga terjadi penebalan dinding, udem dan semi transparan (Munro 1982). Ketika Aeromonas hydrophila masuk ke dalam tubuh inang, maka toksin yang dihasilkan akan menyebar melalui aliran darah menuju organ.

LPS dapat menyebabkan peradangan, demam, penurunan kadar besi, dan pembekuan darah. Disamping mampu memproduksi eksotoksin dan endotoksin sebagai faktor virulensi, Aeromonas hydrophila patogen juga memiliki kemampuan untuk menempel pada sel tubuh ikan melalui aktifitas adhesins

Serangan yang ditimbulkan bersifat akut dan apabila kondisi lingkungan terus merosot, dapat menyebabkan kematian missal. Ditandai dengan timbulnya luka-luka memar atau borok di sekujur tubuh dan kepala ikan. Penyakit ini dapat menular bebas melalui air, kontak badan dan peralatan yang tersemar olah bekteri tersebut. Untuk itu faktor kepadatan dan kualitas air harus benar-benar dijaga dengan system pencegahan yang lebih efektif.

3. Bintik putih “ich”

Penyebaran penyakit ini sangat cepat, terutama pada suhu optimalnya (15-25°C). pada suhu 30° C atau lebih, penyakit ini akan mati atau siklusnya berhenti. Siklus hidup parasit ini terbagi dalam beberapa fase, yaitu parasiter (tropozoit), pre-kista (tomont), kista (trophont), post-kista (theront).

Siklus Perkembangbiakan "ich"

Siklus hidup ini terjadi selama 6 hari pada suhu 25°C, 10 hari pada suhu 15°C, dan lebih sebulan pada suhu 10° C. Fase parasiter merupakan fase aktif yang membentuk nodula (spot atau bintik) putih di kulit dan epitel insang ikan. Bila sudah dewasa, parasit akan keluar dari nodula dan membentuk pre-kista yang berenang bebas mencari tempat menempel seperti akuarium, serokan, dan tanaman air. Di tempat menempelnya pre-kista akan berkembang menjadi kista yang di dalamnya berisi tomite.

Tomite inilah yang akan membelah menjadi banyak. Pembelahan tomite menyebabkan kista pecah sehingga tomite keluar. Tomite selanjutnya akan berkembang menjadi bentuk post-kista. Fase inilah yang aktif menyerang ikan. Jumlahnya di dalam air sangat banyak. Setiap kista dapat menghasilkan lebih dari 1.000 post-kista.

Berdasarkan sumber lain, bahwa penyakit ini sering terjadi pada musim hujan dengan suhu berkisar 20 - 24°C, selain itu pH perairan yang cepat naik turun pada musim penghujan juga memperkuat argument bahwa fluktuasi air kolam lebih drastis. 

Ikan Terserang Penyakit Bintik Putih

Ikan yang terserang akan kehilangan fungsi insang sehingga mengganggu respirasi. Selain itu ikan menjadi malas berenang dan Akibat serangan penyakit berbahaya ini, tubuh ikan banyak dijumpai bintik-bintik putih sehingga penyakit ini disebut White spot. Apabila telah menyebar keseluruh tubuh, dapat menimbulkan kematian. Terkesan lebih tragis bahwa pada serangan cukup serius, ikan akan menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding akuarium atau kolam sehingga menimbulkan luka. Luka dapat mengalami infeksi sekunder oleh cendawan.

Walaupun kebanyakan yang diserang adalah benih ikan berukuran 1-5 cm, namun penyakit ini pun sering menyerang ikan besar maupun kecil. Begitu hebat perkembangan siklus hidup dan penyebaran parasit ini, untuk itu perlu lebih significant dalam melakukan tindakan pencegahan, minimal dengan cara memberok ikan pada air mengalir atau kepadatan ikan dikurangi. 

4. Streptococcus

Streptococcosis memang tidak masuk ke dalam daftar penyakit ikan yang dianggap sangat berbahaya oleh Komisi Kesehatan Ikan dan Lingkungan, sebagaimana MAS, KHV, WSSV atau pun VNN. Tetapi, meski tak masuk dalam daftar tersebut, bukan berarti penyakit streptococcosis bisa dianggap remeh oleh para pembudidaya ikan nila. Pada manajemen budidaya yang kurang baik, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian masal. “Pada fase pembesaran, kematian bisa sampai 100%.

Penyakit streptococcosis ini biasanya muncul pada saat adanya perubahan cuaca secara drastis, dari panas ke hujan maupun sebaliknya. “Jika siangnya panas terik, kemudian sore harinya terjadi hujan, penyakit ini berpotensi akan muncul”.

Dalam banyak kasus, bakteri Streptococcus menyerang ikan nila pada ukuran tertentu. “Biasanya pada saat ukuran ikan menjelang 50 gram. Setelah itu, dia akan menyerang lagi saat ikan berukuran antara 100-250 gram,” ujarnya. Ini berarti ancaman yang sama besar ditujukan baik kepada para pendeder (saat ikan berukuran di bawah 50 gram) maupun pembudidaya pembesaran (saat ikan berukuran 100-250 gram).

Bakteri Streptococcus ini akan masuk ke  dalam tubuh ikan nila lewat infeksi melalui sistem pencernaan. Gejala ditandai dengan penampakan perut ikan yang terlihat agak kembung. Selanjutnya bakteri akan masuk aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh, hingga ke ginjal. “Jika dilakukan bedah bangkai ginjal kelihatan pucat dan bengkak,”

Pada fase ini, nafsu makan ikan akan berkurang, sehingga ikan lebih mudah stres, daya tahan menurun. Tahap lanjut, toksin (racun-red) dari bekteri mulai menyebar mengganggu syaraf, hingga akhirnya menyerang syaraf pusat, yaitu otak. “Kalau sudah sampai syaraf, sulit untuk diatasi. Pada fase ini ikan menunjukkan gejala berputar-putar (whirling) menyerupai gangsing, dan akhirnya ikan tersebut mati.

Celakanya, waktu yang dibutuhkan bakteri streptococcus ini dari menginfeksi ikan nila sampai pada fase whirling relatif singkat. “Rata-rata hanya butuh waktu antara 7-14 hari, tergantung dari kondisi ikan nila,” sambung Heny. Serangan bakteri Streptococcus ini ternyata tidak hanya mengakibatkan ikan berputar-putar dan kemudian mati, tetapi juga dapat mengakibatkan penyakit popeye, dengan ciri-ciri; mata menonjol, bengkak dan berdarah. (artikel Akibat Streptococcosis, Rusak Nila Sekolam, 2006)

Penyakit Ikan Mendolo

Kamis, 09 Juni 2022

PARAMETER FISIKA PADA KOLAM BUDIDAYA IKAN

1). Suhu Air

Perubahan suhu yang tinggi dalam suatu perairan akan mempengaruh laju pertumbuhan, laju metabolisme, aktifitas tubuh, syaraf ikan dan kelarutan oksigen dalam air. Suhu optimal untuk pertumbuhan ikan/udang tergantung pada jenis ikanyang dibudidayakan. Perubahan suhu yang terjadi dapat distabilkan atau dikembalikan pada kondisi semula dengan melakukan penambahan air baru (menurunkan suhu) dan menutup atap dengan terpal atau plastik yang menyerap panas untuk menaikkan suhu. Kisaran suhu normal yang optimal bagi pemeliharaan ikan/udang berkisar 27 – 32 C dengan suhu optimal 28-30 C, dengan perbedaan suhu harian maksimal 2 C. Suhu rendah dibawah normal (dibawah 26 C), dapat menyebabkan ikan/udang kehilangan nafsu makan dan menjadi lebih rentan terhadap penyakit. Sebaliknya pada suhu yang terlalu tinggi ikan dapat mengalami stres pernafasan dan bahkan dapat menyebabkan kerusakan insang permanen. Apabila suhu meningkat sampai melebihi 32 C dan apabila ikan masih bertahan hidup, maka penggantn air sebanyak 20% dengan air dingin bisa dilakukan. Pengembalian air hendaknya dilakukan secara perlahan dan peningkatan aerasi. Pengukuran suhu dilakukan 2x sehari yaitu pagi hari jam 05.00-06.00 dan sore hari jam 17.00-18.00 dengan menggunakan alat termometer (gambar 1)

Termometer Air

2). Kecerahan

Kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan. Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan yang ditentukan secara visual dengan menggunakan secchi disk (gambar 2).7

Secchi Disc

Kecerahan menunjukan tingkat kepadatan suspensi terlarut dan plankton. Cara menggunakan piring secchi disk adalah dengan menenggelamkannya di media budidaya sampai secchi disk mulai tidak kelihatan (a) selanjutnya ditarik secara perlahan sampai secchi disk mulai kelihatan (b). Untuk mengetahui tingkat kecerahan maka nilai (a) ditambah nilai (b) dan dibagi dua, itulah nilai tingkat kecerahan air.

Kecerahan diukur secara rutin 2x/hari yaitu pada pagi hari jam 09.00 dan sore hari jam 15.00 WIB. Kecerahan air dipertahankan pada kisaran 30 – 40 cm. Kepadatan plankton kurang (kecerahan > 45 cm) dilakukan pemupukan susulan dengan pupuk organik komersial dengan kandungan nutrien lengkap dosis 0,2 – 0,5 ppm (2 – 5 liter/kg) atau anorganik dengan dosis 2 – 3 ppm (20 – 30 kg/ha). Pemupukan susulan dapat dilakukan 5 – 7 hari sekali hingga plankton tumbuh.

Sebaliknya bila plankton padat (kecerahan <30 cm) dapat dilakukan pengenceran dengan air baru atau menghambat pertumbuhan plankton dengan perlakukan pemberian kapur Ca(OH)2 dosis 3 ppm bila pH air kurang dari 8 pada pagi hari (jam 06.00). Pengapuran jenis Ca(OH)2 dapat mengikat CO2 sehingga dapat memperlambat pertumbuhan fitoplankton.

Pupuk organik merupakan sumber nutrien mikro yang dibutuhkan dalam jumlah kecil tetapi sangat penting, dapat digunakan pupuk organik komersial dengan kandungan yang lengkap. Sumber nutrien phospat (P2O5) dapat digunakan pupuk TSP atau SP-36. Sedangkan sumber nitrogen dapat digunakan pupuk Urea atau Natrium Nitrat. Penggunaan pupuk Urea sebagai pupuk susulan harus diperhitungkan jumlah sesuai dengan kondisi lahan. Urea dengan cepat akan terurai membentuk amonia yang tidak diinginkan karena dapat menyebabkan: 1) menjadi racun atau toksin pada ikan; 2) dirubah menjadi nitrat oleh bakteri nitrifikasi yang menyebabkan pH turun; dan 3) Proses nitifikasi menyerap jumlah besar kelarutan oksigen.

Berdasarkan proses ini disarankan lebih baik menggunakan pupuk Natrium Nitrat sebagai sumber nitrogen. Pertumbuhan plankton pada saat budidaya secara visual ditandai dengan adanya perubahan warna air dari awalnya bening menjadi berwarna (hijau muda/coklat muda dan kemudian menjadi hijau/coklat dan seterusnya), perubahan ini disertai dengan menurunnya transparansi. Kejadian8 tersebut merupakan indikasi dari meningkatnya ukuran sel dan bertambah banyaknya jumlah sel yang secara langsung akan berpengaruh terhadap kepadatan plankton

Fitoplankton dalam jumlah tertentu dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas kolam, namun dalam jumlah yang besar (blooming) menimbulkan dampak buruk bagi ekosistem kolam. Oksigen terlarut dan pH air akan berfluktuasi, bahkan beberapa jenis fitoplankton menghasilkan racun bagi ikan. Jika kecerahan air kurang dari 30 cm, perlu ada treatmen untuk memperbaiki kondisi kolam. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain : ganti air, turunkan feeding rate, optimalkan aerasi untuk mencegah die off fitoplankton, dan gunakan ikan herbivora/pemakan plankton seperti ikan nila.

Dalam usaha pembesaran, air media pemeliharaan sebaiknya tidak diganti hingga masa panen. Kecuali jika kondisi perairan mengalami perubahan drastis, paling tidak selama 10 hari pertama sejak penebaran benih, air media tidak boleh kemasukkan atau terkontaminasi air dari luar. Karena akan mengubah pH air, suhu, warna air dan kandungan mikrobiotik serta akan mengundang patogen atau penyebab penyakit. Jika hal ini terjadi, akan mengakibatkan kematian secara massal. Kondisi air selama 10 hari merupakan kondisi air yang ideal bagi ikan. Kondisi ini harus dipertahankan. Selama 10 hari tersebut, mungkin volume air berkurang sedikit demi sedikit. asal kekurangan air tidak melebihi 0,5 meter tidak masalah, tidak perlu ditambah air.

3). Warna Air

Warna air menunjukan jenis plankton yang dominan dalam air. Warna air yang baik adalah hijau muda, hijau kecoklatan menunjukkan dominasi plankton Chloropiceae dan Diatomae. Air yang sehat menunjukkan warna air yang stabil antara pagi hari dan sore hari. Warna air yang tak stabil (berubah-ubah) antara pagi dan sore menunjukkan plakton didominasi jenis zooplankton, yang kurang baik untuk pemeliharaan udang. Pengecekan warna air dilakukan secara rutin pada pagi hari jam 09.00 dan sore hari jam 15.00 WIB, dengan menggunakan plankton net.

Kamis, 02 Juni 2022

SUMBER AIR BUDIDAYA PERIKANAN

Kolam Budidaya Ikan

Air Ledeng / PDAM

Umumnya, mengandung kaporit dalam kadar yang cukup tinggi. Karena itu, sebelum digunakan, air ledeng harus dinetralkan terlebih dahulu menggunakan sodium thiosulfat dengan dosis satu sendok makan untuk 200 liter air. Selanjutnya, air diendapkan selama satu minggu. Proses penetralan ini dapat dilakukan di bak penampungan air atau langsung di kolam pembesaran.

Perairan Umum

Didominasi oleh bakteri-bakteri yang tidak terkontrol. Bakteri inilah yang memicu munculnya penyakit. Jika menggunakan perairan umum, air harus dialirkan ke bak pengendapan atau bak pengolahan. Di bak inilah proses sterilisasi berlangsung, bisa menggunakan disinfektan (kaporit), garlic powder atau blue copper dosisnya sesuai dengan yang tertera pada label kemasan.

Air Sumur

Relatif terkontrol dan aman dari kontaminasi mikroorganisme merugikan (seperti bakteri) dan bahan kimia berbahaya. Namun kandungan bahan organik dalam air sumur terbilang sangat minim. Pada kondisi, normal, air sumur dapat langsung dimasukkan ke kolam pembesaran. Jika masih ragu dengan kualitas air sumur, lakukan sterilisasi menggunakan kaporit, garlic powder atau blue copper. Di beberapa wilayah. terkadang air sumurnya mengandung zat besi atau kapur yang cukup tinggi. Pada kondisi ini, air sumur harus diolah terlebih dahulu agar layak digunakan.

Kadar besi yang cukup tinggi dapat ditekan dengan penambahan zeolit bubuk. Dosisnya 1 0 - 1 5 gram per 500 liter air. Zeolit akan mengikat logamlogam berat, termasuk besi. Namun, jika kadar kapur tinggi (basa) yang menjadi masalah utama air sumur, atasi dengan menumbuhkan plankton atau tambahkan daun ketapang kering (sudah dijemur) ke dalam air. Caranya : masukkan daun ketapang kering ke dalam karung pakan hingga penuh. Selanjutnya, karung ini dibiarkan tenggelam (diberi pemberat) selama 3 - 4 hari di kolam pembesaran. Idealnya, proses pengolahan berlangsung dibak penampungan air. Artinya. pemberian zeolit atau daun ketapang berlangsung di bak tersebut, sebelum air siap digunakan di kolam pembesaran. Namun, jika kondisi tidak memungkinkan, proses pengolahan air ini bisa langsung dilakukan di kolam pembesaran.

Sungai

Air sungai saat menjadi andalan dalam budidaya perikanan skala besar atau kecil. Budidaya ikan di air deras, karamba, tambak, kolam air tawar, pembesaran sebagian besar menggunakan air sungai.

Air Laut

Budidaya system terbuka (open culture) mengggunakan air laut sebagai media kultur. Demikian juga budidaya di air payau seperti di tambak ikan atau udang. Kualitas sumber air dari berbagai sumber sebelum digunakan untuk pemeliharaan dibuatkan tandon sehingga mempunyai indikator parameter kualitas air stabil dan sesuai untuk pemeliharaan ikan yang dibudidaya. Dibawah ini adalah syarat mutu air tandon untuk budidaya udang.

Kamis, 19 Mei 2022

SUPLEMEN AIR BUDIDAYA IKAN

Suplemen air adalah bahan-bahan yang dimasukkan ke dalam air untuk mendukung terciptanya keseimbangan kualitas air kolam. Suplemen air ini berfungsi sebagai penyeimbang asupan nutrisi antara pakan pelet dan pakan alami. Diharapkan dengan penambahan suplemen air, plankton dan mikro organisme yang ada di dalam air tumbuh sehat dan menjadi sumber nutrisi bagi ikan. Karena itu, suplemen air merupakan salah satu faktor penekan FCR, selain suplemen pakan. Suplemen air bekerja menjaga ketersediaan unsur hara dengan memacu pertumbuhan plankton dan mencukupi kebutuhan mineral bagi ikan. Suplemen air yang digunakan dalam teknik budidaya di antaranya probiotik, biang plankton, dan mineral air.

1) Probiotik

Probiotik berasal dari kata ‘Pro’ artinya mendukung dan ‘Biotik’ artinya kehidupan. Probiotik dalam akuakultur di defenisikan sebagai mikroba (jasad renik) yang sengaja diberikan melalui makanan maupun media (lingkungan) dan bersifat menguntungkan bagi mahluk hidup atau hewan budidaya. Probiotik adalah mikroorganisme (bakteri) homogen yang berfungsi sebagai pengendali kualitas air.

Probiotik dalam akuakultur memiliki beberapa fungsi sebagai berikut (Suprapto dan Samtafsir, 2013):17

a. Untuk menguraikan kandungan bahan organik dalam air yang berasal dari pakan, kotoran dan jasad yang mati. Probiotik menjalankan fungsi mengendalikan bakteri-bakteri merugikan di kolam.

b. Menghilangkan senyawa beracun (amonia, nitrit, H₂S) karena bakteri dalam probiotik berperan sebagai pengurai.

c. Menghasilkan enzim dan nutrisi. Bakteri mengandung protein lebih dari 60% sehingga dapat berfungsi sebagai makanan alami baik untuk zooplankton maupun ikan pemakan detritus seperti ikan lele. Pada masa pemeliharaan, probiotik digunakan mulai dari 3 hari setelah bibit berada di kolam hingga masa budi daya usai. Namun, penggunaannya dihentikan jika sedang dalam masa pengobatan dan sterilisasi air kolam. Probiotik baru diaplikasikan tiga hari pascasortir.

2) Biang Plankton

Biang plankton adalah bahan yang mengandung unsur karbon untuk memacu pertumbuhan plankton. Plankton menjadi sumber utama pakan alami ikan dan menjadi parameter biologi kualitas air. Keberadaan plankton memacu pertumbuhan karena menyuplai protein nabati atau melengkapi protein yang terkandung dalam pelet. Biang plankton digunakan saat penyiapan air kolam, pergantian air, dan saat curah hujan tinggi. Biang plankton harus diberikan setiap enam hari sekali selama masa budi daya. Namun, bila perairan masih dalam kondisi hijau (penuh plankton), sebaiknya pemakaian dihentikan.

3) Mineral Air

Tidak semua sumber air mengandung mineral dalam jumlah cukup dan seimbang. Agar hidup dan tumbuh optimal, membutuhkan air kolam dengan kandungan mineral yang cukup. Mineral air adalah bahan-bahan terlarut yang dapat memberikan nilai terapi dan rasa untuk membantu perkembangan dan kesehatan ikan.

Fungsi mineral air dalam pengelolaan air sebagai berikut.

1. Mempercepat pertumbuhan sebagai pembentuk tulang dan jaringan keras.

2. Mempertahankan kondisi koloid beberapa senyawa dalam tubuh.

3. Memelihara keseimbangan asam basa dalam tubuh.

4. Menjaga permeabilitas membran sel dan juga keseimbangan ion dalam darah.

5. Sebagai aktivator jaringan tertentu.

6. Sebagai komponen suatu enzim dalam darah.

7. Berperan penting dalan meningkatkan kepekaan saraf dan otot.

8. Menjaga pH air tetap stabil dalam koridor optimal.

9. Menurunkan kadar amoniak, nitrit, hidrogen, sulfida, dan gas lainnya yang tidak menguntungkan.

Penggunaan mineral air dimulai saat persiapan air kolam (tiga hari sebelum bibit ditebar), dan diulangi setiap tujuh hari sekali. Setiap kali hujan reda, air kolam juga harus ditambahkan mineral air.

Kamis, 12 Mei 2022

PARAMETER KIMIA AIR PADA KOLAM BUDIDAYA IKAN

1). Derajat Keasaman (pH)

Tolok ukur menentukan kondisi suatu perairan adalah pH (puisance negative de H / derajat keasaman). Derajat keasaman suatu perairan menunjukkan tinggi rendahnya konsentrasi ion hidrogen perairan tersebut. Kondisi perairan dengan pH netral sampai sedikit basa sangat ideal untuk kehidupan ikan. Suatu perairan yang ber-pH rendah dapat mengakibatkan aktifitas pertumbuhan menurun atau ikan menjadi lemah serta lebih mudah terinfeksi penyakit dan biasanya diikuti dengan tingginya tingkat kematian

Untuk mengetahui nilai pH suatu perairan dapat digunakan pH meter atau kertas lakmus. Nilai pH untuk pemeliharaan ikan adalah 6 – 9. Pengukuran pH dilakukan 2 x/hari yaitu pada pagi hari jam 05.00 – 06.00 dan sore hari jam 17.00-18.00.

pH meter

Kertas Lakmus

2). Oksigen Terlarut (DO)

Oksigen terlarut yaitu salah satu parameter penting dalam sistem budidaya. Konsentrasi dan kesediaan oksigen terlarut (DO) dalam air sangat dibutuhkan ikan dan organisme air lainnya untuk hidup. Konsentrasi oksigen dalam air dapat mempengaruhi pertumbuhan dan konversi pakan serta mengurangi daya dukung perairan. Menurut (Murwantoko et al., 2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa nilai kadar okisgen 2,2 – 4,3 mg/l masih dalam kategori baik untuk ikan gurami, karena ikan gurami memiliki alat bantu pernafasan. Menurut Wulandari et al. (2014) oksigen terlarut kurang dari 1 mg/l menyebabkan kematian bagi ikan dan jika dibiarkan lama ikan tidak dapat bertahan hidup. Kandungan oksigen terlarut yang optimal bagi ikan adalah > 4 ppm. Oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) yang rendah (< 4 mg/l) dalam air menyebabkan gangguan pada ikan/udang, mulai dari penurunan nafsu makan, timbulnya penyakit sampai terjadi kematian.

Penyebab DO rendah dalam perairan antara lain: (a) Kematian Plankton (die off), yaitu plankton mengalami kematian mendadak secara massal (die off). Pada kondisi ini konsentrasi oksigen terlarut akan mengalami penurunan yang drastis (depletion), dan berakibat fatal bagi udang jika terjadi pada waktu malam (Boyd,10 1990). Kondisi ini dapat terjadi apabila terjadi blooming plankton yang ditandai dengan rendahnya kecerahan air (<30 cm). Beberapa indikasi kematian plankton secara umum antara lain cepatnya perubahan air menjadi lebih jernih (dalam waktu beberapa jam), kecerahan meningkat drastis diikuti dengan perubahan warna air dari hijau menjadi coklat dan timbul busa di permukaan air. Tindakan korektif biasanya terbatas pada penggantian air, aplikasi kapur untuk mengikat karbondioksida, dan penambahan aerasi sampai kondisi membaik, biasanya membutuhkan waktu 2-3 hari. (b). Blooming Plankton, yang ditandai dengan kecerahan <30 cm akan menyebabkan konsentrasi oksigen mencapai puncaknya pada siang hari bahkan bisa mencapai over saturation dan mencapai titik terendah pada waktu malam sampai pagi hari. Hal ini disebabkan pada waktu malam hari semua organisme air termasuk fitoplankton menggunakan oksigen (untuk respirasi) yang dapat mencapai 60% sampai 80% konsumsi oksigen di kolam (Boyd, 1990). (c). Cuaca Berawan, sinar matahari dan fitoplankton melalui fotosintesis merupakan sumber terjadinya hampir semua oksigen terlarut dalam air (kolam). Karena itu cuaca berawan atau hujan satu atau dua hari hari apalagi kalau terjadi beberapa hari berturut-turut tanpa sinar matahari akan mengurangi fotosintesis yang berarti munculnya kondisi oksigen terlarut yang rendah (Wurts, 1993). (d). Overturns atau pembalikan air di kolam yang disebabkan oleh angin atau hujan deras bisa menimbulkan kondisi oksigen terlarut rendah dengan jalan mencampur air berkualitas rendah dari dasar kolam (anaerob) dengan air berkualitas baik di permukaan (Wurts, 1993). (e) Dekomposisi Bahan Organik oleh bakteri membutuhkan oksigen terlarut sehingga dasar kolam sering dalam kondisi anaerob. Akumulasi limbah yang berlebihan dapat mengakibatkan turunnya oksigen terlarut secara drastis yang biasanya terjadi pada malam atau pagi hari yang bisa menimbulkan oksigen rendah dalam kolam sehingga dapat membahayakan ikan yang dipelihara.

Untuk mengetahui nilai DO suatu perairan dapat digunakan DO meter atau DO teskit. Pengukuran DO dilakukan 2 x/hari yaitu pada jam 05.00 – 06.00 dan sore hari jam 17.00-18.00.

DO meter

3). Nitrogen

Nitrogen didalam perairan dapat berupa nitrogen organik dan nitrogen anorganik. Nitrogen anorganik dapat berupa ammonia (NH3), ammonium (NH4), Nitrit (NO2), Nitrat (NO3) dan molekul Nitrogen (N2) dalam bentuk gas. Sedangkan nitrogen organik adalah nitrogen yang berasal bahan berupa protein, asam amino dan urea.

Agar supaya phitoplankton dapat tumbuh dan berkembang biak dengan subur dalam suatu perairan, paling sedikit dalam air itu harus tersedia 4 mg/l nitrogen (yang diperhitungkan dari kadar N dalam bentuk nitrat), bersama dengan 1 mg/l P dan 1 mg/l K. Kadar N dalam bentuk NH3 dipakai juga sebagai indikator untuk menyatakan derajat polusi. Sebaiknya kadar amonia didalam wadah budidaya ikan tidak lebih dari 0,2 mg/l (ppm). Kadar amonia yang tinggi ini diakibatkan adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestik, industri dan limpasan pupuk pertanian. Pengukuran kadar amonia dan nitrit dilakukan dengan membawa sampel air ke laboratorium lapangan dengan sistim titrasi.

4). Salinitas

Salinitas air tambak diamati secara rutin terutama pada saat akan dilakukan penambahan atau pergantian air tambak. Pengamatan salinitas menggunakan salinometer atau hand refraktometer. Salinitas tergantung pada kondisi daerah tambak dan musim. Namun demikian penambahan atau pergantian air tidak merubah salinitas harian secara drastis lebih 3 ppt untuk menghindari stres pada udang. Pada musim kemarau dapat dilakukan penambahan air 2-5 % per hari untuk mengurangi peningkatan salinitas. Pengukuran salinitas dilakukan dengan metode refraktosalinometri. Alat yang digunakan adalah Refraktosalinometer. Prinsip kerja alat ini adalah dengan memanfaatkan refraksi. Refraksi atau pembiasan cahaya adalah pembelokan cahaya ketika berkas cahaya melewati bidang batas dua medium yang berbeda indeks biasnya. Sebelum digunakan, refractometer harus dikalibrasi terlebih dahulu. Kalibrasi menggunakan air bersih dilakukan untuk mengetahui kinerja alat. Pada bagian kaca prisma ditetesi air bersih lalu diamati melalui eye piece layar display hingga pembacaan menunjukan angka nol (0), lalu permukaan prisma dikeringkan dengan tissue.

Air sampel yang berada diperairan diambil dan kemudian ditetesi pada bagian kaca prisma, lalu prisma ditutup. Pastikan air sampel menyebar secara merata dan tidak ada gelembung udara dipermukaan prisma. Skala salinitas dapat dilihat melalui eye piece yang menunjukkan angka salinitas.

Pengukuran salinitas menggunakan refractometer dan dilakukan pada pagi hari pukul 05:00 sampai 06:00.

5). Alkalinitas

Alkalinitas berperan sebagai penyangga (buffer) perairan terhadap penambahan asam dan basa. Alkalinitas dibutuhkan oleh bakteri nitrifikasi maupun fitoplankton untuk pertumbuhannya. Alkalinitas juga berperan dalam molting udang. Tindakan yang bisa dilakukan untuk meningkatkan alkalinitas adalah pengapuran dengan CaCO3, CaMg(CO3)2, dan Ca(OH)2. Dalam air senyawa tersebut akan bereaksi dengan karbondioksida menghasilkan bikarbonat (HCO3-) sebagai ion utama pembetuk alkalinitas. Pengukuran kadar alkalinitas dilakukan dengan membawa sampel air ke laboratorium lapangan dengan sistim titrasi.

Kamis, 14 April 2022

PERMASALAHAN DALAM BUDIDAYA IKAN DAN CARA MENGATASINYA

Seperti halnya ikan-ikan jenis lainnya, dalam budidaya juga tidak luput dari kendala-kendala dan permasalahan. Munculnya kendala dan hambatan dalam budidaya disebabkan faktor-faktor alam dan pengelolaan yang kurang tepat. Kendala yang disebabkan oleh faktor alam yaitu adanya serangan penyakit sehingga mengakibatkan kerugian besar bila tidak bisa mengatasinya. Kendala yang diakibatkan pengelolaan yang kurang tepat dapat berupa keahlian sumber daya manusia yang kurang berhati-hati dan kurang ketrampilan, pakan yang digunakan dan manajemen air yang kurang tepat.

Berikut ini beberapa permasalahan yang sering muncul dalam budidaya, penyebab dan cara mengatasinya.

Pertumbuhan Benih Lambat (Kuntet)

Pertumbuhan benih yang lambat dapat disebabkan oleh faktor yang diturunkan induk, faktor fisika kimia air yang kurang mendukung dan kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan kurang baik. Apabila penyebabnya adalah faktor fisika kimia air yang kurang mendukung maka untuk mengatasinya Suhu, pH dan faktor kebersihan air harus selalu diperhatikan dengan cara mengontrolnya setiap saat pH yang terlalu asam akan mengakibatkan pertumbuhan benih lambat. Suhu air yang terlalu rendah juga akan menyebabkan benih menjadi malas makan sehingga kebutuhan gizi dari pakan tidak terpenuhi.

Benih Malas Makan

Benih yang malas makan akan tampak kurus. Akibatnya, banyak sisa pakan yang mengendap pada dasar kolam. Benih yang malas makan dapat disebabkan oleh lingkungan dalam kolam itu sendiri, seperti suhu rendah, suplai oksigen kurang, pH asam, jenis pakan yang diberikan atau benih terserang penyakit, seperti sakit perut dan blooting (tidak dapat buang kotoran) Apabila penyebabnya adalah suhu maka untuk mengatasi suhu air yang terlalu rendah dapat digunakan heater sehingga suhu air akan naik secara perlahan-lahan. Apabila suplai oksigen kurang maka dapat digunakan hi-blow/kincir.

Perut Benih Menggembung Seperti Balon

Kadangkala dijumpai benih dalam kolam dengan perut yang menggembung dan membesar. Benih dengan kondisi seperti itu diperkirakan terkena blooting (tidak bisa buang kotoran). Hal ini biasanya diakibatkan oleh suplai oksigen yang kurang dan kandungan nitrit yang tinggi. Cara mengatasinya, air kolam segera diganti dan dasar perairan disipon. Air kolam yang baru ditambahkan garam. Suplai oksigen ditambah dengan memperbesar hi-blow.

Benih Mengambang di Permukaan Kolam

Benih yang selalu mengambang di permukaan air kolam diperkirakan mengalami gangguan saluran pernapasan. Terganggunya insang dapat diakibatkan adanya bakteri atau adanya limbah yang berupa logam-logam berat atau kimia lainnya. Cara mengatasinya adalah dengan mengganti air kolam dengan air yang baru karena air yang kotor cukup potensial menjadi penyebab gangguan ini.

Mati Mendadak

Sering dijumpai mati secara tiba-tiba atau mati mendadak. Bangkainya terapung dipermukaan air. Hal ini membuat panik dan bingung pembudidaya. Apalagi jika yang mati jumlahnya cukup banyak. Kepanikan seperti ini terutama dialami pembudidaya pemula atau yang baru coba-coba. Hal-hal yang dapat menyebabkan gejala mati mendadak dan solusi yang harus dilakukan diantaranya adalah:

a. Suhu air kolam terlalu panas

Jangan sepelekan suhu air kolam. Pertahankan pada kisaran ideal, yakni sekitar 28-30oC terutama yang masih benih sangat sensitif terhadap perubahan suhu yang terlalu panas. akan stres dan napsu makan menurun. Pencemaran dan metabolisme tubuh tidak berfungsi dengan baik. Lama kelamaan akan mati. Solusinya, lindungi bagian atas kolam dengan memasang terpal plastic untuk mencegah masuknya sinar matahari secara langsung ke kolam atau gunakan tanaman enceng gondok untuk menyediakan tempat berlindung (shelter) bagi ikan. Tanaman tersebut juga berfungsi sebagai inang bagi sejumlah mikroorganisme yang dapat dijadikan sumber pakan alami bagi

b. Perubahan mendadak pH air secara ekstrim

Pada tahap awal pembuatan kolam, tingkat keasaman atau pH sudah dikondisikan sedemikian rupa agar memenuhi syarat ideal bagi hidup. Seperti halnya suhu air, pH air kolam juga merupakan hal yang perlu dipertahankan. Biasanya, hujan pertama dapat mengubah pH air dalam waktu singkat. Solusinya, jika turun hujan pada hari pertama, segera ganti air kolam. Penggantian air kolam dilakukan sebagian. Gunakan mesin diesel untuk mengurangi maupun memasok air kolam.

c. Air kolam tercemar zat beracun

Air kolam yang tercemar zat beracun akan menyebabkan kematian dalam jumlah besar. Zat beracun tersebut biasanya berasal dari sisa pakan yang mengendap di dasar kolam. Dalam jumlah banyak, zat beracun yang terkandung di dalamnya akan menyebar ke seluruh air kolam yang pada gilirannya akan meracuni tersebut. Zat beracun juga bisa berasal dari obat-obatan kimia seperti pestisida. Hal ini sangat mungkin terjadi di kolam yang lokasinya berada di areal persawahan. Terlebih, sumber air berasal dari sungai atau saluran irigasi yang juga dimanfaatkan oleh petani padi. Kemungkinan lainnya, zat beracun berasal dari pakan tambahan (pakan hidup) seperti ikan rucah yang telah terkontaminasi limbah beracun sebelumnya. Solusinya, ganti sebagian air kolam dengan air baru. Jangan lupa, saat menguras sebagian air kolam, ujung pipa pompa disel ditempatkan dikeranjang plastik agar tidak ada yang ikut tersedot.

Air Kolam Berwarna Merah Kehitaman

Jika air kolam berwarna merah kehitaman, tandanya air kolam telah tercemar (terjadi polusi). Pencemaran tersebut diakibatkan oleh penumpukan sisa pakan dan sisa kotoran di dasar kolam. Dalam waktu yang lama, penumpukan sisa pakan akan menjadi racun dan membahayakan bagi kesehatan. Penebaran benih yang padat memiliki potensi polusi air lebih tinggi daripada penebaran benih rendah, karena kotoran yang dihasilkan lebih banyak. Begitu juga dengan sisa pakan, karena jatah pakannya lebih banyak. Umumnya, potensi pencemaran terjadi sekitar 2-3 minggu sebelum panen. Solusinya yang harus dilakukan adalah dengan mengganti air sebanyak 40% dari volume air yang ada.

Kamis, 07 April 2022

PENGELOLAAN AIR BUDIDAYA IKAN

Pengaturan Ketinggian Air

Pengaturan ketinggian erat kaitannya dengan kemampuan jelajah ikan dan jumlah tebar (kepadatan). Pada teknik budidaya, pengaturan volume air disesuaikan dengan perkembangan ukuran ikan. Seiring pertumbuhan ikan, kapasitas dukung kolam harus ditambah. Jadi, penambahan volume air pada dasarnya memperbesar daya dukung kolam (carrying capacity) agar ikan dapat hidup optimal.

Penambahan ketinggian air kolan harus dilakukan secara bertahap, tidak sekaligus. Jika permukaan air di kolam terlalu tinggi, sedangkan ukuran masih kecil, maka akan kesulitan memperoleh udara ke permukaan kolam. Aktivitasnya pun meningkat. Aktivitas yang tinggi menyebabkan pertumbuhan lambat.

Tidak ada treatment tertentu saat penambahan ketinggian air kolam, kecuali memang bertepatan dengan aplikasi suplemen air. Alirkan air bersih sedikit demi sedikit ke dalam kolam hingga mencapai ketinggian yang diinginkan.

Penggantian Air

Dalam teknik pembesaran pergantian air ditentukan oleh kualitas air. Penggantian air di sini dilakukan hanya separuh. Artinya, separuh air kolam dibuang, dan diganti dengan air baru. Sementara itu, penggantian total hanya dilakukan ketika sortir dan panen. Ada dua parameter fisik untuk menentukan pergantian air, yakni warna dan bau air.

1) Perubahan warna air.

Misalnya, dari hijau ke cokelat atau hitam. Perubahan warna air disebabkan oleh penumpukan sisa metabolisme dan pakan yang tidak termakan. Warna cokelat mengindikasikan kotoran di kolam masih bisa terdekomposisi, tetapi jumlahnya sudah tidak sebanding dengan laju proses dekomposisi. Sebaliknya, jika air sudah berwarna hitam, tandanya proses dekomposisi sudah tidak berjalan sehingga terjadi proses pembusukan.

2) Perubahan bau.

Disebabkan oleh pembusukan bahan organik. Perubahan bau mengindikasikan terjadi penimbunan amoniak. Amoniak yang berlebihan menyebabkan pH air turun (asam). Pada kondisi asam, bakteri patogen akan lebih mudah hidup dan berkembang. Akibatnya, mengalami keracunan dan terserang penyakit hingga berujung pada kematian. Penggantian air pada tahap ini pada dasarnya ditujukan untuk menjaga kualitas air agar tetap stabil. Jika air tidak diganti, respons terhadap pakan menurun dan pemberian suplemen air menjadi sia-sia belaka. Penggantian air umumnya dilakukan saat berukuran 10-12 cm, karena pada saat itu perubahan bau dan warna air kerap terjadi. Penggantian air sebaiknya dilaksanakan pada pukul 5.00-6.00 pagi.

Berikut tahapan penggantian air.

1. Buka saluran pembuangan (water level) di central drain untuk mengurangi volume air kolam hingga tiga perempat dari volume awal

2. Tambahkan air baru menggunakan slang secara perlahan. Pastikan mulut slang berada di bawah permukaan air kolam.

3. Hentikan suplai air baru jika volume air sudah mencapai volume semula.

4. Tambahkan suplemen air seperti pada penyiapan air kolam, yakni biang plankton 20-70 ml/m2, mineral air 2 gram/m2, dan probiotik 2 ml/m2.

Sirkulasi Air

Jika pergantian air dan penambahan suplemen tidak mampu lagi menekan penimbunan amoniak dan kotoran di kolam, segera lakukan sirkulasi air dengan cara memasukkan air ke dalam kolam secara terusmenerus selama 24 jam. Selanjutnya, tambahkan suplemen air (biang plankton, mineral air, dan probiotik) dengan dosis dua kali lipat dari dosis suplemen pada penggantian air kolam. Ulangi sirkulasi air 3 - 4 hari sekali hingga panen. Cara tersebut memungkinkan dilakukan bagi mereka yang memiliki ketersediaan air yang melimpah.

Sebaliknya, bagi mereka yang ketersediaan sumber airnya terbatas, bisa dengan cara mengurangi 50% air kolam dan ditambahkan lagi air baru setiap 5 - 7 hari sekali hingga panen. Usai pemasukan air baru, tambahkan suplemen air (biang plankton, mineral air, dan probiotik) dengan dosis dua kali lipat dari dosis pada penggantian air kolam.

Penyiponan

Penyiponan bertujuan untuk mengurangi sisa metabolisme dan sisa pakan yang mengendap di dasar kolam. Caranya, buka outlet sekitar 1-2 menit. Pastikan air yang keluar dari outlet sudah tidak kotor. Tutup kembali outlet seperti sediakala. Ulangi penyiponan minimum 2 - 3 hari sekali hingga panen. Tambahkan air baru jika volume air kolam dirasa sangat kurang.

Pengelolaan Air saat Hujan

Ketika hujan, air menjadi asam. Pada saat itu, air kolam idealnya disirkulasikan agar air hujan di permukaan kolam segera terbuang. Cara lainnya, ganti pipa paralon pembuangan dengan pipa yang ketinggiannya sama dengan permukaan air kolam. Setelah hujan reda, tambahkan suplemen air (probiotik + biang plankton + mineral air) dengan dosis dua kali lipat dari dosis normal. Lakukan cara ini setiap kali turun hujan.

Pengelolaan kualitas air media pemeliharaan udang di tambak :

1. Pengelolaan kualitas air tambak dilakukan melalui (penambahan air, pergantian air, pengaturan kedalaman air, aplikasi probiotik dan sumber karbon, penggunaan kapur, dan aerasi) untuk memperbaiki kualitas air;

2. Pemantauan dan pengamatan kualitas air dilakukan secara visual setiap hari, pengukuran kualitas air dilakukan secara laboratoris secara berkala

3. Pendokumentasian dan pencatatan hasil pemantauan dan pengukuran kualitas air.

Pengelolaan kulitas air media pemeliharaan berperan dalam menentukan keberhasilan budidaya udang. Tingkat kesehatan udang, pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang dipengaruhi oleh interaksi lingkungan, patogen dan kondisi udang. Parameter kualitas air seharusnya dimonitor setiap hari sebagai pedoman untuk manajemen kolam secara keseluruhan sehingga dapat menghindari efek negatif terhadap udang yang dipelihara. Data tersebut dapat digunakan untuk menganalisis jika permasalahan muncul dan sebagai dasar pertimbangan tindakan yang harus dilakukan. Semakin banyak data yang tersedia semakin mudah menganalisis permasalahan dan tindakan yang harus dilakukan. Sebagian besar variabel kualitas air saling mempengaruhi, seperti karbondioksida, oksigen terlarut, pH, fitoplankton, alkalinitas, limbah organik, amonia dan H2S.

Monitoring kualitas air sebaiknya dilakukan minimal dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Hasil monitoring tersebut dijadikan sebagai dasar dalam menentukan tindakan pengelolaan kualitas air misalnya, pada kondisi air pekat (salinitas tinggi dan kelimpahan plankton sangat tinggi) sebaiknya dilakukan pengenceran dengan memperbanyak pergantian air. Salinitas yang terlalu tinggi (melebihi batas normal) dapat menyebabkan pertumbuhan udang terhambat karena proses osmoregulasi terganggu. Apabila demikian, udang lebih banyak mengeluarkan energi untuk proses osmoregulasi dibandingkan untuk pertumbuhan. Osmoregulasi adalah proses pengaturan dan penyeimbangan tekanan osmosis antara dalam dan luar tubuh udang.

Budidaya udang mempunyai standar kualitas air tertentu agar dapat hidup dengan baik untuk mendukung kelangsungan hidup yang tinggi dan pertumbuhan yang optimal. Beberapa variabel kualitas air yang bersifat toksik diharapkan tidak terdeteksi di kolam atau berada dalam jumlah yang sangat kecil (< 0,01 mg/l) seperti nitrit dan hidrogen sulfida (H2S). Oksigen terlarut mempunyai batas minimal yang harus ada dalam ekosistem kolam (> 4 mg/l). Beberapa senyawa toksik masih ditolelir keberadaannya di dalam kolam dalam jumlah tertentu seperti total ammonia nitrogen dan karbondioksida. Karbondioksida dalam jumlah tertentu dibutuhkan oleh fitoplankton untuk fotosintesis, namun dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan keracunan bagi ikan. Beberapa variabel kualitas air berada dalam kisaran tertentu agar ikan/udang bisa tumbuh optimal.