Rabu, 08 April 2020

PENGELOLAAN KOLAM YANG KADAR BESINYA TINGGI

Memang untuk kondisi tanah pyrit (besi), sangat berbeda dalam hal pengelolaan persiapan lahan maupun budidayanya dibandingkan dengan tanah normal (bekas lahan sawah). Adapun metode persiapan lahannya:

  • Tanah dikeringkan untuk membuang bahan organik atau lumpur.
  • Tidak dilakukan pembalikan tanah sebab tanah di lapisan bawah masih belum teroksidasi dan mengandung lumpur organik tinggi.
  • Dilakukan pencucian dengan plankton pekat, dengan cara petakan diisi air setinggi 30 cm, lalu dibiarkan sampai planktonnya tumbuh pekat, lalu dibuang pada malam hari. Diulangi beberapa kali sampai warna kuning (karat besi) hilang.
  • Dikapur sesuai angka pH tanah (pH < 5 kapur 5-8 ton; PH 5-6 kapur 2-4 ton; PH>6 kapur 1,5 - 2 ton).
  • Dilakukan pengisian air.

Selasa, 07 April 2020

UPWELLING

Peristiwa upwelling terjadi karena air dari lapisan bawah terangkat ke permukaan dan air yang di permukaan masuk ke lapisan yang lebih dalam. Hal ini dapat terjadi jika suhu permukaan air lebih dingin dibandingkan dengan suhu air di lapisan yang bawah. Air dengan suhu yang lebih tinggi cenderung lebih ringan sehingga akan terangkat ke permukaan.

Namun kejadian kematian masal ikan tidak selalu disebabkan oleh upwelling. Kematian ikan terutama terjadi karena kadar kelarutan oksigen (DO) dalam air sangat rendah dan kondisi ini berlangsung cukup lama (lebih dari 4 jam). Di kolam DO seringkali < 2 ppm, ikan yang hidup di dalamnya sudah terbiasa dengan kondisi DO seperti ini sehingga tidak mengakibatkan kematian, tetapi pertumbuhan ikan akan lebih lambat.

Pada kondisi tertentu DO dalam air bisa < 1 ppm, dan ini sudah membahayakan bagi kehidupan ikan. Tingkat DO ini akan membuat ikan sulit bernafas sehingga mereka akan muncul ke permukaan dan berusaha memanfaatkan lapisan tipis air di permukaan yang mengandung DO lebih tinggi (karena bersentuhan langsung dengan udara). Tetapi jika keadaan ini berlangsung lama maka jumlah oksigen yang diserap oleh ikan tidak akan mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga perlahan-lahan ikan akan lemas, pingsan danmakhirnya mati.

Rendahnya DO dalam air bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah upwelling (seperti yang disebutkan di atas), tidak ada angin sehingga permukaan air sangat tenang mengakibatkan kurangnya difusi oksigen dari udara untuk masuk ke dalam air, cuaca mendung sehingga tidak terjadi fotosintesa yang bisa menghasilkan oksigen.

Untuk mengantisipasi kondisi ini kita harus mewaspadai terjadinya perubahan cuaca. Jika sepanjang hari cuaca mendung (atau bahkan hujan) maka bisa dipastikan pada malam hari DO akan rendah dan pada pagi dini hari DO akan kritis. Antisipasi yang dilakukan adalah dengan menghentikan pemberian pakan sejak siang hari.

Jika ikan merasa lapar maka aktifitasnya akan berkurang sehingga laju konsumsi oksigen juga akan turun. Siapkan pompa air atau kincir, jika sewaktuwaktu dibutuhkan kita dapat menambah kelarutan oksigen dengan mengaerasi air dalam karamba. Sudah tentu efektifitasnya bergantung pada besarnya pompa atau kincir. Tempatkan aerasi pada kolam yang ikannya sudah besar, sebab ikan ini nilainya sudah tinggi karena sudah banyak mengkonsumsi pakan. Jika ikan mati maka kerugiannya lebih besar.

Pasanglah plastik gelombang atau sejenisnya di tengah kolam, satu sisi diletakkan sedikit di bawah permukaan air. Lalu hidupkan pompa mengarah ke plastik tersebut sehingga akan terjadi arus yang melalui permukaan plastik. Karena posisi lembaran plastik agak mendongak ke atas maka air yang mengalir akan terdorong ke atas sehingga tercipta seperti air terjun. Hal ini akan menciptakan aerasi sekaligus arus pada permukaan air. Arus yang timbul diharapkan dapat membawa air yang mengandung oksigen lebih tinggi ke kolam di sebelahnya. Sebaiknya pompa sudah dihidupkan sebelum oksigen mencapai titik kritis.

Untuk mencegah kematian maka kepadatan ikan juga harus diatur. Pada musim penghujan, saat matahari jarang muncul sebaiknya padat tebar dikurangi. Jika ikan sudah terlanjur ditebar dan sudah berukuran agak besar maka sebaiknya sebagian ikan dipindahkan ke karamba lain yang kosong. Jaring juga harus sering dibersihkan agar arus air tidak terhambat. Dengan demikian air dalam karamba dapat selalu terganti dengan baik.

Kamis, 02 April 2020

KIAT-KIAT SUKSES MEMELIHARA IKAN

Membasmi penyakit dalam lingkungan hidup ikan tidak mungkin dilakukan. Kita hanya dapat mencegah agar ikan tidak mati karena serangan penyakit. Ikan seperti halnya makhluk hidup lain, akan dapat tumbuh dengan baik jika tubuhnya dalam kondisi sehat.

Kesehatan tubuh ikan ditentukan oleh dua hal, yaitu gizi makanan dan kondisi lingkungan. Oleh karena itu sangat penting untuk menjaga agar kondisi tubuh ikan tetap sehat, sebab seperti halnya manusia, jika sudah sakit maka biaya untuk menyehatkan kondisi tubuh bisa menjadi mahal.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa kondisi lingkungan ideal untuk tempat hidup ikan. Kolam harus bebas dari sampah, termasuk sampah organik, seperti daun-daunan, ranting pohon dan sebagainya. Rumput liar juga harus dihindari. Sebaiknya dinding kolam dilapisi plastik mulsa atau terpal.

Pipa pemasukkan dan pengeluaran air harus terpelihara dengan baik dan mencukupi. Pipa pemasukkan dan pengeluaran air ibarat ventilasi bagi rumah tempat tinggal ikan, jika pemasukkan dan pengeluaran air tidak baik maka ikan dalam kolam akan merasa “pengap” karena air tidak segar.

Kualitas air yang masuk ke kolam harus lebih baik dibandingkan kualitas air dalam kolam, ibaratnya udara segar yang masuk ke dalam rumah. Satu faktor yang juga penting adalah menjaga agar hama dan predator tidak masuk ke dalam kolam. Hama dan predator ibarat tikus dalam rumah, bisa sangat mengganggu dan membahayakan kehidupan.

Bentuk kolam harus rapih, jika ada pematang yang longsor atau bocor harus segera dibetulkan sebab tempat ini bisa menjadi pintu masuk hama dan predator. Pematang dilapisi plastik terpal atau mulsa dengan rapih, jangan sampai bocor. Kebocoran akan mengakibatkan menumpuknya kotoran di tempat tersebut, sehingga menjadi tempat sampah tersembunyi. Bersihkan rumput dan tanaman liar dari kolam. Tanah dasar kolam diratakan dan dipadatkan.

Setelah wadah disiapkan maka air harus diatur, sebab air adalah media hidup ikan. Kualitas air harus dijaga, jangan sampai terlalu kental, warna air tidak boleh pekat, jangan sampai tumbuh lumut. Faktor ketiga adalah pakan, gunakan pakan yang bermutu jangan memilih pakan karena harganya yang murah, tetapi gunakan pakan sesuai dengan mutu yang diperlukan.

Ikan perlu mendapat asupan nutrisi yang baik agar bisa hidup sehat dan tumbuh dengan baik. Pakan diberikan pada pagi hari setelah matahari terbit, jangan diberikan terlalu awal sebab biasanya pada pagi hari sebelum matahari terbit kualitas air masih kurang bagus. Berikan pakan secukupnya sampai ikan berhenti makan tandanya sudah kenyang. Karena itu pakan harus diberikan pelan-pelan, jangan langsung disebarkan dalam jumlah banyak.

Kunci keberhasilan memelihara ikan adalah dengan memperhatikan tingkah laku ikan dan kondisi air kolam secara teliti dan terus menerus. Jangan meremehkan gejala-gejala yang muncul, sebab hal ini menjadi pertanda ada sesuatu yang tidak baik di dalam kolam. Hal yang disampaikan di atas sebagian besar sudah diketahui secara umum, tetapi sayangnya kita seringkali mengabaikan hal-hal kecil sehingga mengakibatkan kerugian besar.

Rabu, 01 April 2020

MENJAGA STABILITAS PLANKTON DALAM KOLAM

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan plankton didalam perairan, yaitu adanya nutrien atau unsur hara yang menunjang pertumbuhan plankton, sinar matahari, dan kandungan karbondioksida (CO2) di dalam perairan tersebut. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan jika ada kekurangan dari salah satu faktor maka pertumbuhan plankton akan mengalami gangguan.

Faktor yang pertama adalah nutrien. Kebutuhan plankton akan nutrien di dalam perairan cukup besar. Jika kandungan nutrien kurang di dalam perairan, plankton juga akan mengalami kesulitan untuk tumbuh normal, tetapi jika kandungan nutrien terlalu melimpah, juga tidak baik bagi pertumbuhan plankton, karena plankton akan mengalami pertumbuhan yang sangat cepat.

Faktor yang kedua adalah sinar matahari. Plankton tidak akan tumbuh normal jika kurang mendapat sinar matahari, ditandai dengan adanya kecerahan air kolam yang tinggi, dan sulit menumbuhkan plankton. Sebaliknya, jika cuaca terlalu panas/terlalu banyak mendapatkan sinar matahari, pertumbuhan plankton juga semakin mudah merajalela, akibatnya pekolam sulit mengendalikannya.

Faktor yang ketiga adalah kandungan CO2 di dalam perairan. Untuk memenuhi unsur karbon, plankton memanfaatkan senyawa CO2 yang terlarut di dalam perairan, yang dalam proses fotosintesis akan menghasilkan oksigen dan energi yang nantinya akan digunakan plankton untuk tumbuh. Jika CO2 di dalam perairan kurang, akan berpengaruh terhadap pertumbuhan plankton yang ada didalam perairan tersebut.

Jika bahan organik di kolam terlalu tinggi, disarankan air dimasukkan tandon terlebih dahulu beberapa hari untuk diendapkan kotorannya sebelum digunakan di dalam petak budidaya. Tanam tumbuhan air di petak tandon, tergantung tingkat pencemaran di perairan tersebut, berfungsi sebagai filter biologis, dan bisa menyerap bahan organik yang terbawa oleh aliran air dari luar.

Saran yang kedua adalah melakukan cuci plankton pekat. Artinya, kita bisa menurunkan bahan organik tanah dasar dengan cara menumbuhkan plankton pekat di dalam petak sebelum dilakukan persiapan lebih lanjut. Berikutnya masukkan air ke dalam petak setinggi 40-50 cm, tunggu beberapa hari sampai plankton tumbuh pekat. Jika plankton sudah kelihatan pekat, maka air di dalam petak dibuang secara total dilakukan pada jam 1-2 dini hari.

Selasa, 31 Desember 2019

KEPADATAN PADA SISTEM PENGANGKUTAN IKAN GURAMI

Sistem Pengangkutan Benih Gurami
Hal-hal yang perlu dilakukan agar ikan yang diangkut selamat sampai tujuan adalah:
-          Pengangkutan dilakukan pada pagi, sore atau malam hari,
-          Ikan yang diangkut adalah ikan yang sehat dan tidak luka,
-          Air yang digunakan untuk pengangkutan adalah air yang bersih dan higienis,
-          Suhu air yang ideal untuk pengangkutan ikan adalah 20 - 25°C,
-          Banyaknya ikan yang diangkut tergantung dengan kapasitas alat angkut yang digunakan.

Ukuran ikan
Kepadatan
Sistem Pengangkutan
Waktu (jam)
Bayong
1.000 ek/10 L air
Tertutup
3 – 5
Daun kelor
400 – 500 ekr/ 10 L air
Tertutup
3 – 5
Dim
200 – 250 ekr/ 40 L air
Dengan jerigen (terbuka)
8
Bungkus Korek
150 – 200 ekr/ 40 L air
Dengan Jerigen (terbuka)
8
Bungkus Rokok
100 – 150 ekr/ 40 L air
Dengan jerigen (terbuka)
8
Tampelan
25 – 30 kg/ 200 L air, atau 4 – 5 kg/ 40 L air

Dengan Drum (terbuka)
8
Super
25 – 30 kg / 200 L air atau 4 – 5 kg/40 L air
Dengan drum (terbuka)
8
Induk
10 – 15 ekr/ 200 L air
Dengan drum (terbuka)
8

Minggu, 03 November 2019

SISTEM PENGANGKUTAN PADA IKAN GURAMI

Pengangkutan Sistem Terbuka pada Ikan Gurami

Transportasi atau pengangkutan ikan hidup dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengangkutan secara terbuka dan pengangkutan secara tertutup.
Pengangkutan secara terbuka adalah pengangkutan ikan hidup yang dilakukan dengan menggunakan wadah yang terbuka (ember, brokoh, jerigen, drum dan lain-lain).
Sedangkan pengangkutan secara tertutup adalah pengangkutan ikan hidup dengan menggunakan wadah yang tertutup (kantong plastik) yang diberi oksigen.
Pada ikan Gurami sistem pengangkutan agak berbeda dengan jenis ikan air tawar lainnya seperti Tawes, Nila Merah, dan Karper. Ikan Gurami memiliki alat pernafasan tambahan yang disebut labirin, dengan adanya alat pernafasan tambahan ini memungkinkan ikan Gurami dapat mengambil oksigen langsung dari udara bebas. Alat pernafasan tambahan ini mulai terbentuk pada umur 3-4 minggu, sehingga dengan memperhatikan perkembangan pembentukan alat pernafasan tambahan ini kita bisa menentukan apakah benih ini memerlukan tambahan oksigen murni atau tidak dalam pengangkutannya (sistem terbuka atau sistem tertutup).
Pada umumnya pengangkutan benih ikan sampai dengan ukuran daun kelor masih memerlukan oksigen (karena alat pernafasan tambahannya belum sempurna), Cuma dalam pemberian oksigen harus dicampur dengan udara bebas supaya tidak terjadi kejenuhan gas oksigen.
Sedangkan untuk pengangkutan ikan Gurami ukuran dim sampai ukuran ikan konsumsi cara pengangkutannya dengan sistim terbuka (ember, brokoh, jerigen, drum).
Hal-hal yang perlu dilakukan agar ikan yang diangkut selamat sampai tujuan adalah:
-          Pengangkutan dilakukan pada pagi, sore atau malam hari,
-          Ikan yang diangkut adalah ikan yang sehat dan tidak luka,
-          Air yang digunakan untuk pengangkutan adalah air yang bersih dan higienis,
-          Suhu air yang ideal untuk pengangkutan ikan adalah 20 - 25°C,
-          Banyaknya ikan yang diangkut tergantung dengan kapasitas alat angkut yang digunakan.

Minggu, 13 Oktober 2019

PENANGANAN PANEN PADA IKAN GURAMI

Panen Ikan Gurami

Panen merupakan salah satu kegiatan budidaya ikan yang sangat penting. Dari panen dapat diketahui keberhasilan usaha atau kemajuan pertumbuhan ikan yang kita pelihara dalam periode waktu tertentu.
Pemanenan benih atau ikan konsumsi, sebaiknya dilakukan tindakan khusus karena cara pemanenan ikan Gurami sedikit berbeda dengan ikan Nila Merah, Tawes atau Karper, juga berbeda pemanenan antara benih ikan Gurami yang berukuran besar (konsumsi) dengan ikan yang masih kecil.
Cara pemanenan Benih Ikan Gurami (Bayong s.d. Bungkus Korek)
Pemanenan ikan dapat dilakukan dengan cara dan peralatan yang dapat menjamin kesehatan dan kelangsungan hidup ikan yang dipanen. Panen dilakukan pada cuaca yang cukup dingin dan sejuk, yaitu pada pagi atau sore hari, dan tidak dilakukan pada waktu hujan.  
(1)    Langkah pertama dalam melakukan pemanenan adalah menurunkan ketinggian air kolam secara berangsur-angsur dengan memperkecil aliran air yang masuk dan memasang saringan di saluran pembuangan.
(2)    Bersamaan dengan itu lumpur-lumpur/kotoran-kotoran yang menutupi caren dan kowenan disingkirkan, agar nantinya mempermudah pemanenan.
(3)    Setelah air tinggal di caren dan di kowenan maka aliran air masuk diperkecil lagi, kemudian di kowenan diberi daun-daunan (daun talas, daun papaya, atau daun pisang) yang diletakkan di atas permukaan air, hal ini dilakukan agar benih ikan dapat berlindung di bawah daun-daunan dan akan memberi kenyamanan bagi benih yang akan dipanen.
(4)    Ikan-ikan diring secara perlahan-lahan dan hati-hati ke arah kowenan, dan selama penggiringan tidak melakukan gerakan atau suara yang mengejutkan.
(5)    Setelah terkumpul di kowenan ikan sudah bisa mulai ditangkap. Tangkaplah benih ikan Gurami dengan pelan-pelan dan hati-hati serta tidak menimbulkan kejutan. Dalam menggunakan alat untuk menangkap benih ikan Gurami ini digunakan alat yang sesuai dengan ukuran benih yang akan ditangkap.
(6)    Ikan-ikan yang telah ditangkap kemudian diletakkan ke dalam alat angkut (ember, brokoh), sebaiknya jangan terlalu padat dan segeralah diangkut ke tempat penampungan sementara. Penampungan sementara biasanya berupa tanjar/hapa yang dipasang di kolam atau saluran yang alirannya tidak terlalu kencang.
(7)    Dalam penampungan sementara ini sebaiknya dilakukan seleksi ikan terhadap ukuran serta kesehatannya. Jika sudah terseleksi ikan dipindahkan ke tempat penampungan untuk tujuan tertentu (diberok, diperlakukan sebelum dibawa ke tempat lain) atau langsung dipasarkan. Kolam penampungan benih perlu dilengkapi dengan saluran pemasukan dan saluran pengeluaran yang diberi saringan sehingga memungkinkan terjadinya sirkulasi air.
Cara Pemanenan Ikan Gurami Ukuran Besar (bungkus rokok s.d. konsumsi)
(1)    Panen harus dilakukan pada cuaca yang cukup dingin atau sejuk, yaitu pagi atau sore hari.
(2)    Dalam pemanenan ikan yang berukuran besar ini sebaiknya menggunakan jaring yang dberi pemberat rantai dari ujung ke ujung, hal ini selain untuk mempermudah pemanenan, ikan yang ditangkap dengan jaring relatif lebih sehat dibanding dengan cara yang tidak menggunakan jaring, karena kolam tidak perlu dikeringkan.
(3)    Dalam menggunakan jaring sebaiknya ketinggian air dalam kolam diatur agar mempermudah pelaksanaan penggunaan jaring, caranya jika air kolam dalamnya melebihi ketinggian jaring yang akan kita gunakan maka air kolam terlebih dahulu harus dikurangi secara perlahan-lahan sampai ketinggian airnya 10 cm di bawah tali jaring.
(4)    Rentangkan jaring dari ujung kolam dan ditarik secara perlahan-lahan ke ujung kolam yang lain untuk memperkecil ruang lingkup ikan Gurami. Apabila ruang lingkup ikan sudah sempit, maka di atas airnya kita beri daun-daunan (daun talas, papaya, atau pisang) untuk pelindung.
(5)    Lakukan penangkapan dengan perlahan-lahan dan hati-hati serta hindarkan hal-hal yang bisa mengejutkan ikan. Tangkaplah ikan yang yang sudah terbatas ruang geraknya dengan menggunakan tangan.
(6)    Letakkan hasil tangkapan ke tempat penampungan yang sudah berisi air seperti brokoh, baskom, jerigen, atau drum dengan hati-hati.