Kamis, 30 April 2020

PEMBENIHAN LELE DI MUSIM HUJAN

Intensitas hujan yang cukup tinggi akan berdampak pada penurunan kualitas air budidaya, pembenih lele perlu tahu cara menanganinya. Memasuki musim penghujan, sejumlah pembudidaya ikan konsumsi alami kendala dalam usahanya. Pasalnya, kematian atau ikan mulai terkena serangan penyakit kerap dijumpai, khususnya di segmen usaha pembenihan. Tingginya curah hujan akan berdampak kualitas air yang berubah-ubah dan menyebabkan stres pada ikan. 

Tak jarang pembudidaya benih ikan terkena serangan penyakit di kala musim hujan, dengan tingginya intensitas hujan yang turun, akan mempengaruhi beberapa parameter kualitas air kolam pemeliharaan. Seperti, suhu yang turun drastis, ketidakstabilannya kadar keasaman di perairan (pH), yang pada akhirnya berdampak pada stressnya ikan peliharaan. 

Perubahan nilai atau angka parameter kualitas air secara drastis akan berdampak langsung kepada benih ikan. Jika, perubahan suhu yang drastis terjadi akibat curah hujan yang tinggi akan memicu stres pada ikan, sehingga akan lebih mudah terserang bakteri atau jamur. Dalam kondisi tersebut, ikan biasanya akan kehilangan nafsu makannya, kemudian produksi lendir di tubuh ikan akan berlebih. 

Dan pada akhirnya sistem pertahanan tubuhnya lele akan berkurang, dimana lendir pada tubuh lele merupakan salah satu proteksi alami pencegah serangan penyakit. “Tak bedanya seperti manusia, jika sudah terbiasa panas-panasan, berjemur namun mendadak harus memasuki ruangan yang dingin akan berdampak pada kekebalan tubuh yang berkurang sehingga akan pilek, batuk, demam, dan sebagainya,”

Maka dari itu, setiap pembudidaya harus memperhatikan kualitas air di kala musim penhujan. Terlebih lagi, dengan seringnya turun hujan akan menurunkan nilai pH akan semakin turun, jika mencapai di bawah nilai standar 7 - 8 maka nafsu makan ikan serta perumbuhannya kan terganggu. 

Hujan merupakan salah satu kondisi yang tidak mungkin dihindari. Terlebih untuk pembudidaya yang belum mempunyai sarana dan prasarana indoor (dalam ruangan), ini akan cukup merepotkan tatkala musim penghujan datang. 

Kondisi benih lele yang dipelihara di kolam-kolam terpal dan berada di luar ruangan akan lebih mudah terkena penyakit jika memasuki musim penghujan. Alasannya, kualitas air yang sudah terbentuk optimal akan alami perubahan yang cukup ekstrem. Biasanya pH air nilainya 7,5 - 8 jika diterpa hujan lebat terus-menerus selama beberapa jam sudah pasti nlai pH akan turun menjadi 6 - 6,5. 

“Kondisinya juga bisa diperparah jika usaha yang dijalankan berada di lingkungan pabrik yang membuang asap industrinya sembarangan, kemudian secara tidak langsung terbawa oleh air yang turun dari langit dan jatuh ke kolam budidaya. Hal ini tersebut berdampak pada penurunan kualitas air dengan drastis, yang berujung pada kematian dalam jumlah banyak pada benih.” 

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk pembudidaya yang unit kolam-kolamnya belum indoor untuk mengantisipasi terpaan hujan secara terus menerus adalah melakukan pergantian air di setiap kolam-kolam budidaya yang terkena hujan sekitar 30 – 50 % tergantung intensitas hujannya. Jika hanya satu atau dua jam masih tergolong wajar.  

Rabu, 29 April 2020

BUDIDAYA IKAN SECARA POLIKULTUR

Kegiatan polikultur ikan adalah memelihara ikan dari jenis yang berbeda dalam wadah yang sama. Ikan yang dipelihara bisa terdiri dari 2 jenis atau lebih. Prinsip budidaya polikultur adalah memanfaatkan potensi sumberdaya air yang ada, dalam hal ini yang menjadi pertimbangan adalah ketersediaan makanan alamidan mutu air, terutama oksigen. 

Tujuannya adalah untuk memanfaatkan potensi sumberdaya air secara maksimal sehingga bisa memberikan hasil panen tertinggi dengan penambahan input yang minimal. Oleh karena itu kegiatan polikultur tidak dilakukan dalam sistem budidaya intensif yang menggunakan kepadatan tinggi, disertai tambahan input makanan dan aerasi.

Untuk memanfaatkan potensi makanan alami secara maksimal maka dipilih ikan yang mempunyai kebiasaan makan yang berbeda. Salah satu contoh adalah polikultur ikan mas dengan gurami.  Ikan mas yang merupakan ikan omnivorous (pemakan segala) dan cenderung mengambil makanan yang ada di dasar kolam dapat digabungkan dengan ikan gurami yang merupakan ikan herbivorous (pemakan tumbuhan) dan cenderung mengambil makanan yang ada di permukaan (daun-daunan).  Disamping itu ikan gurami mempunyai alat pernapasan tambahan sehingga tidak bersaing memperebutkan oksigen dalam air dengan ikan mas.

Polikultur juga dapat dilakukan antara udang dengan ikan. Di Vietnam dan Bangladesh sudah umum dilakukan budidaya polikultur udang galah dengan ikan karper (sejenis ikan mas).  Pemeliharaan pada umumnya dilakukan di tanah bekas sawah yang sangat subur.

Polikultur antara ikan bandeng dengan tawes juga dapat dilakukan di tambak menggunakan air tawar. Perbandingan antara ikan bandeng dengan tawes adalah 1 : 1 atau 2 : 1. Jumlah ikan bandeng yang ditebar antara 5.000 – 10.000 ekor per hektar, sedangkan jumlah ikan tawesnya menyesuaikan dengan ikan bandeng.  

Faktor yang perlu diperhatikan dalam menerapkan sistem polikultur adalah ketersediaan makanan alami dan kesesuaian jenis ikan yang dipelihara dengan ketersediaan makanan alami tersebut. Oleh karena itu kolam atau tambak perlu dipersiapkan dengan baik agar makanan alami dapat tumbuh dengan baik. Pemberian pupuk organik dan organik harus dilakukan, dosis pupuk organik sekitar 1 ton per hektar, sedangkan pupuk anorganik urea sekitar 100 – 150 kg/ha.

Semakin besar ukuran ikan maka kebutuhan makanannya juga semakin banyak, sehingga ada kalanya makanan alami yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan tersebut.  Untuk mencegah persaingan makanan antar jenis ikan maka kadang kita perlu memberi makanan tambahan.

Jika ingin menambahkan pelet maka dapat diberikan pelet dengan kandungan protein cukup 12-18 % saja sehingga biaya pakan tidak terlalu tinggi. Pada polikultur ikan dengan udang, maka ikan bisa diberi makanan yang terapung, sehingga tidak mengganggu udang yang hidup di dasar kolam.

Selasa, 28 April 2020

CARA MEMBUAT PELLET GURAMI SECARA SEDERHANA

Perlu dipahami bahwa pakan buatan sendiri hanya bersifat pelengkap atau tambahan guna memenuhi kebutuhan energi ikan yang dipelihara. Pakan tambahan atau yang bersifat pelengkap peran utamanya adalah sebagai penyedia energi. Pakan ini bersifat melengkapi pakan komersial buatan pabrik atau pelengkap bagi pakan alami yang tersedia dalam kolam.

Membuat pakan untuk ikan gurami relatif lebih mudah karena ikan ini dikenal sebagai hewan herbivora, yaitu hewan yang suka makan tumbuhan. Oleh karena itu bahan-bahan untuk membuat pakan gurami dapat menggunakan tumbuh-tumbuhan yang terdapat di lingkungan kita. Kita dapat menggunakan daun singkong, kedelai, atau daun lainnya yang disukai oleh gurami. Untuk mengujinya maka daun tersebut bisa kita berikan langsung kepada ikan gurami, jika respon yang diberikan positif (ikan mau memakannya) berarti daun tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku pakan. 

Tanaman dari kelompok Leguminosa sudah sering digunakan sebagai bahan makanan ternak, baik daun maupun biji-bijiannya. Bahan-bahan ini mengandung protein yang cukup tinggi, yaitu sekitar 20 – 30 %. Kita perlu mengolah terlebih dulu bahan baku tersebut agar dapat menghilangkan atau mengurangi dampak negatif dari senyawa anti nutrisi yang terdapat di dalamnya. 

Cara yang biasa digunakan adalah dengan merendam daun / biji-bijian dalam air dicampur kapur selama 24 jam, atau dengan merebusnya di dalam air selama 1 jam. Proses ini akan melarutkan sebagian senyawa anti nutrisi tetapi juga akan menghilangkan sebagian dari vitamin yang terkandung di dalamnya.

Setelah itu bahan-bahan tersebut digiling hingga halus. Untuk menggiling biji-bijian dapat menggunakan gilingan kopi, sedangkan untuk daun-daunan harus dicincang terlebih dulu sebelum digiling. Meskipun mempunyai nilai gizi tinggi, tetapi karena mengandung berbagai senyawa anti nutrisi maka penggunaanbahan baku ini untuk pakan ikan terbatas maksimum 10 kg/100 kg pelet.

Sumber protein hewani yang biasanya mudah didapat adalah bekicot dan keong (Mollusca). Mollusca mengandung protein tinggi, bisa mencapai 60 % (menyamai tepung ikan), selain itu juga mengandung lemak dan asam-asam lemak yang dibutuhkan sebagai sumber energi bagi ikan.  Kandungan lemak keong dan sejenisnya biasanya sekitar 6 %. 

Untuk memanfaatkan hewan ini terlebih dulu harus dikeluarkan dari rumahnya (cangkang), cara sederhana adalah dengan memecah “rumahnya” dan mengambil dagingnya, atau dapat dilakukan dengan merebus dalam air selama 15-20 menit.  Setelah itu keong atau bekicot dipotong-potong lalu dimasukkan dalam gilingan daging.  Prosentase yang digunakan sekitar 5-10 kg/100 kg pelet yang dibuat.

Untuk merekatkan campuran bahan baku yang digunakan menjadi bentuk pelet kita memerlukan bahan yang mengandung kanji, seperti tapioka, tepung jagung, tepung beras, atau tepung terigu. Bahan yang paling murah sudah tentu tapioka atau limbah industri tapioka. Bahan-bahan ini sudah berbentuk tepung sehingga mudah menggunakannya. Agar dapat berfungsi sebagai perekat maka bahan yang mengandung kanji perlu dicampur dengan air panas. Jumlah yang diperlukan bisa mencapai 25-30 kg/100 kg pelet. 

Pada musim panen padi biasanya harga dedak di penggilingan padi menurun. Dedak juga dapat digunakan sebagai sumber energi bagi ikan gurami. Jumlah yang digunakan antara 15-25 kg/100 kg pelet.

Rabu, 22 April 2020

CARA PRODUKSI BENIH IKAN UKURAN SERAGAM

Memang benar bahwa pertumbuhan ikan dalam satu kolam sering kali tidak seragam sehingga pada saat panen ikan yang didapat mempunyai ukuran yang beragam.  Sudah tentu ini merugikan bagi pembudidayaikan karena harga ikan yang kecil tidak sama dengan ikan yang besar.  Keadaan seperti ini dapat terjadi pada ikan apa saja, ikan tawar maupun laut, baik tahap pendederan maupun pembesaran. 

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab ketidak seragaman ukuran ikan.  Faktor pertama adalah ketersediaan makanan dalam jumlah yang tidak mencukupi.  Jika makanan yang tersedia kurang maka akan ada ikan yang tidak mendapat cukup makanan karena kalah dalam persaingan.  Akibatnya sebagian ikan pertumbuhannya jadi terhambat, bahkan pada kondisi yang ekstrem ikan-ikan yang lebih kecil bisa diserang oleh ikan yang besar sehingga mengalami luka-luka dan dapat mengakibatkan kematian. 

Untuk mengatasi hal ini maka makanan perlu ditambah, dengan melakukan pemupukan atau dengan memberikan lebih banyak makanan buatan (pelet). Jika perbedaan ukuran ikan kecil dan besar sudah terlanjur mencolok maka ikan-ikan kecil harus dipisahkan dari ikan besar, dipelihara dalam kolam terpisah sehingga mendapat kesempatan untuk tumbuh dengan baik.

Faktor kedua disebabkan oleh faktor keturunan atau genetik.  Dalam satu populasi (kelompok) ikan yang berasal dari satu kali pemijahan (bisa beberapa induk) biasanya akan didapat 10-20 % ikan yang tumbuhnya lebih lambat, sebaliknya juga akan didapat ikan yang tumbuhnya lebih cepat dari rata-rata. Untuk itulah perlu dilakukan pemisahan ukuran (sortir/grading) ikan pada tahap pendederan. 

Grading dilakukan untuk memisahkan ikan-ikan yang tumbuh lebih cepat dan ikan-ikan yang tumbuh agak lambat.  Ikan yang tumbuh lebih cepat akan mencapai ukuran sebar dalam waktu lebih singkat sehingga dapat lebih cepat dijual.  Bagi pembudidaya pembesar ikan kelompok ini disebut sortiran pertama, dan biasanya bisa dijual dengan harga yang sedikit lebih tinggi dibandingkan harga benih ikan biasa.  Sementara itu kelompok terakhir adalah ikan-ikan yang tumbuhnya sangat lambat, sebaiknya ikan ini tidak dijual sebagai benih sebar karena pertumbuhannya sangat lambat dan bisa merugikan.

Jika grading tidak dilakukan pada tahap pendederan maka keragaman ukuran karena faktor genetik akan berlanjut ke tahap pembesaran. Bahkan ada kalanya pada tahap pendederan keragaman ukuran tersebut belum terlihat mencolok sehingga sulit untuk melakukan grading

Pada tahap pembesaran grading biasanya dilakukan jika jangka waktu pemeliharaan cukup lama, misalnya 8 – 12 bulan.  Hal ini biasa dilakukan pada pemeliharaan ikan-ikan laut seperti kakap dan kerapu. Grading juga dilakukan pada pemeliharaan ikan super intensif.  Pada kondisi ini persaingan tidak hanya terjadi dalam perebutan makanan saja, tetapi juga ruang hidup, oksigen dan sebagainya.

Grading dilakukan bukan hanya untuk memisahkan ukuran tetapi juga untuk penjarangan sehingga semakin besar ukuran ikan kepadatan dalam kolam/jaring akan semakin berkurang.  Melalui proses penjarangan ikan diberi kesempatan untuk dapat tumbuh normal. Jika setelah dilakukan grading ada kelompok ikan yang tidak mau tumbuh atau pertumbuhannya sangat lambat, maka sebaiknya pemeliharaannya dihentikan, ikan dijual atau dilepas.  Kelompok ikan kuntet ini tidak akan mencapai ukuran normal dan hanya menghabiskan biaya pemeliharaan saja

Selasa, 21 April 2020

PENYEBAB PRODUKSI IKAN TIDAK OPTIMAL

Penentuan hasil panen dipengaruhi oleh daya dukung kolam, budidaya ikan dengan kepadatan tinggi harus diimbangi dengan mengganti air secara rutin, misalnya 10-15 % dari jumlah air dalam kolam setiap hari.

Menurunnya mutu air dalam kolam disebabkan oleh menumpuknya kotoran yang dihasilkan dari proses budidaya, yaitu sisa-sisa pellet yang tidak termakan oleh ikan dan kotoran yang dihasilkan oleh ikan itu sendiri.  Kotoran tersebut harus dibuang sebanyak mungkin supaya tidak menjadi sampah dalam kolam.

Penggantian air kolam merupakan salah satu cara untuk membuang kotoran tersebut dan mengganti sebagian dari air yang sudah tercemar dengan air baru yang segar. Oleh karena itu konstruksi kolam harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat membuang kotoran yang terdapat dalam kolam.

Penggunaan probiotik juga dapat dilakukan untuk membantu air kolam merombak sampah tersebut menjadi bahan-bahan yang tidak beracun.  Penggunaan probiotik menjadi penting jika kita tidak mampu mendapatkan sumber air yang baik untuk mengganti air kolam.  Tetapi penggunaan probiotik akan meningkatkan konsumsi oksigen dalam air kolam sehingga perlu diwaspadai kemungkin terjadinya kekurangan oksigen dalam kolam.  Jika hal ini terjadi kita perlu mengaerasi air kolam, baik dengan penggunaan kincir atau dengan pompa yaitu memompa air dari kolam ke dalam kolam lagi setelah “disemburkan” ke udara sehingga air tersebut teraerasi dengan oksigen di udara.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah mutu pakan.  Semakin tinggi kepadatan ikan dalam kolam maka diperlukan pakan yang bermutu tinggi agar ikan patin dapat tetap sehat dan tumbuh dengan cepat.  Jika ikan “dipaksa” untuk hidup di lingkungan yang padat maka mereka membutuhkan masukan pakan dengan nutrisi tinggi agar tahan terhadap serangan penyakit dan perubahan kondisi lingkungan (oksigen, amonia, suhu, dan lain-lain).  Diperlukan pakan yang mengandung cukup vitamin, juga mengandung protein yang bermutu tinggi untuk pembentukan daging ikan.

Tanda-tanda menurunnya mutu air kolam adalah dengan melihat aktifitas ikan, jika ikan tidak terlihat aktif bergerak atau responnya terhadap pakan menurun, nafsu makan kurang, maka kita harus cepat bertindak sebab kondisi ikan sudah tidak sehat.  Secepatnya mengganti air.

Kamis, 16 April 2020

CARA MENJAGA KESEHATAN IKAN SETELAH HUJAN TURUN

Sebelum ikan sakit, ada unsur yang menjadi trigger (penyebab) timbulnya ikan stres yaitu fluktuasi/range pH yang tinggi, pergeseran dominansi fitoplankton, dan penurunan pH yang drastis. Kesemua faktor tersebut menyebabkan ikan stres, dan bila ikan stres dan di perairan ada virus white spot, maka ikan akan terinfeksi virus tersebut dan sakit.

Adapun cara untuk mengatasi bila terjadi hujan lebat.

  1. Dilakukan pengapuran rutin dengan dolomit, bila PH pagi > 8,0 aplikasi dolomit malam hari dan bila pH pagi < 8,0 aplikasi dolomit diberikan pada pagi jam 07.00

Dosis aplikasi dolomit 10 – 15 ppm.

  1. Dilakukan pembuangan air atas pada saat hujan.
  2. Bila perlu dilakukan penambahan kincir.
  3. Dicampurkan ke dalam pakan vitamin C dosis 3 gram/kg pakan.
Bila kematian ikan dengan ciri-ciri terinfeksi white spot, maka harus dilakukan sistem budidaya tertutup dengan aplikasi probiotik.

Selasa, 14 April 2020

MANFAAT PENGGUNAAN PLASTIK HDPE SEBAGAI ALAS KOLAM

Kolam plastik merupakan kolam yang dilapisi dengan plastik berbentuk mulsa atau HDPE. Plastik mulsa atau HDPE berguna untuk mengeliminasi dampak dari dasar kolam yang memiliki bahan organik tinggi, sehingga kualitas air tidak dipengaruhi oleh dasar kolam. Selain itu juga untuk mencegah terjadinya perembesan khususnya pada kolam dengan tanah porous. 

Penumpukan bahan organik di dasar kolam menyebabkan kondisi anaerob. Kondisi ini menghasilkan produk yang bersifat toksik terhadap organisme yang ada dalam air termasuk ikan. 

Plankton pada kolam yang dilapisi dengan plastik lebih padat dibanding dengan plankton pada kolam yang tidak dilapisi plastik. Kecerahan yang rendah pada kolam yang tidak dilapisi dengan plastik akibat lumpur yangmenyebabkan air berwarna coklat.

Kelebihan memakai plastik pada kolam adalah tidak perlu pengolahan tanah dasar, tidak perlu pengapuran dasar, frekuensi penebaran dapat ditingkatkan, masa pemeliharaan dapat diatur, pergantian /penambahan air dapat dikurangi, bocoran kolam bukan lagi masalah utama, dan penurunan pH air akibat kemasaman tanah bukan lagi hambatan. Sedangkan kekurangannya adalah perlu modal awal yang lebih banyak.