Sabtu, 06 April 2019

PENDEDERAN GURAMI

Pendederan benih ikan Gurami adalah suatu kegiatan tahapan pemeliharaan ikan Gurami yang dimulai dari pemeliharaan benih berukuran bayong sampai benih berukuran bungkus korek yang siap dibesarkan di kolam pembesaran.

Pendederan benih ikan Gurami dibagi menjadi 3 tahapan yaitu: Pendederan 1 (D1), Pendederan 2 (D2), dan Pendederan 3 (D3). Pentahapan ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko kehilangan benih yang disebabkan oleh karena hama dan penyakit atau sebab-sebab lain misalnya kualitas air yang jelek.

Tata cara pendederan 1, 2, dan ke 3 hampir sama, perbedaannya terletak pada padat tebar, jumlah dan jenis pakan yang diberikan serta ketinggian air yang digunakan untuk pendederan benih.

Tata Laksana Pendederan
  1. Pertama kali kolam dikeringkan dan dibuat kowenan di tengah kolam atau di dekat saluran pengeluaran dengan ukuran 1 x 1 x 0,4 m. Kowenan ini diberi sedikit tanggul hingga merupakan kolam kecil di dalam kolam. Fungsi kowenan adalah untuk tempat melepaskan bayong pada saat penebaran dan tempat untuk menagkap benih pada waktu panen. 
  2. Kemudian dibuat caren yang menghubungkan antara saluran pemasukan, dengan saluran pengeluaran melintasi kowenan, ukuran caren adalah lebar 30 cm dan dalam 30 cm. Fungsi caren adalah sebagai tempat mengumpulnya benih pada saat air kolam surut dan untuk menggiring benih ke kowenan pada saat pemanenan.
  3. Langkah selanjutnya pemberian kapur (kapur kalsit/kapur pertanian) yang ditebar merata di dasar kolam dengan dosis 200 gr/m². 
  4. Berikutnya adalah pengolahan tanah dasar dengan cara mencangkul atau membalik tanah dasar, kemudian dikeringkan dan diberi pupuk kandang kering sebanyak ±0,5 kg/m², dengan cara disebar atau dionggok-onggokkan di beberapa tempat dan kolam diisi dengan air sampai nyemek-nyemek untuk memberi kesempatan pupuk teruarai menjadi unsur hara yang dibutuhkan oleh plankton yang merupakan pakan alami benih ikan Gurami.
  5. Pemberian pupuk susulan biasanya dilakukan dengan memberikan pupuk SP 36. Dosis yang digunakan adalah 10 – 20 gr/m² dengan cara dilarutkan lebih dulu dalam air sebelum disebar atau dibungkus dalam kantong kain kemudian direndam/ digantung di bawah permukaan air dekat dengan pemasukan air. 
  6. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore hari) dengan jenis pakan seperti pada tabel 1 di atas dengan dosis 3 – 5 ? dari perkiraan berat populasi yang dipelihara. 
  7. Pellet dapat dibuat sendiri berupa campuran dedak halus, tepung ikan, bungkil kelapa dan tepung daun dengan perbandingan 5 : 3 : 1 : 1 Cara pembuatannya sebagai berikut: Keempat bahan tersebut dicampur sampai rata dan diberi air secukupnya kemudian digiling (dengan mesin) selanjutnya dijemur. Bila digilling dengan gilingan daging maka bahan-bahan tersebut perlu dikukus terlebih dahulu. 
  8. Pendederan Gurami dilakukan pada kolam air tenang, penambahan air dilakukan bila air menjadi surut karena peresapan dan penguapan. Pergantian air dapat dilakukan ¼ atau 1/3 bagian sepanjang kualitas airnya sudah jelek. Atau dapat didederkan dengan aliran air yang tidak besar (kecil) namun masih merupakan kolam air tenang.

Sabtu, 02 Maret 2019

PERAWATAN LARVA GURAMI LEPAS SARANG

Pengambilan Larva Lepas Sarang

Pengambilan larva dari dalam sarang biasanya ditandai dengan memasukkan jari ke dalam lubang sarang, bila jari tadi digerumuti larva, maka sarang tadi bisa segera diambil, biasanya dalam kondisi demikian larva sudah berumur ±7 hari.

Cara pengambilan larva sama seperti pengambilan telur, yaitu sebagai berikut:
  1. Sarang berisi larva dimasukkan dengan hati-hati ke dalam wadah yang sudah berisi air agar tidak ada larva yang lepas.
  2. Wadah yang sudah berisi sarang tadi dibawa ketempat yang teduh, kemudian sarang diurai sedikit demi sedikit dan dikeluarkan dari wadah, jangan sampai ada larva yang ikut terbuang.
  3. Apabila semua bahan sarang sudah dikeluarkan, buanglah sebagian air untuk diganti dengan air yang baru, diulang-ulang sampai air menjadi bersih sehingga larva dapat terlihat dengan jelas.
  4. Larva tadi sementara dibiarkan dalam wadah sebelum ditebar di kolam pemeliharaan larva yang sudah disiapkan atau dapat dipelihara dalam hapa yang terpasang di dalam kolam pendederan.
Pemeliharaan Larva di Kolam
  1. Kolam atau sawah minapadi (penyelang) dikeringkan dan dibuat kowenan dengan ukuran 1 x 1 x 0,4 m dibagian tengah kolam. Kowenan diberi sedikit bangunan tanggul pada tepinya hingga merupakan kolam kecil di dalam kolam. Fungsi kowen ini adalah sebagai tempat untuk melepaskan bayong pada saat penebaran dan tempat untuk menangkap benih pada waktu panen.
  2. Kemudian dibuat caren yang menghubungkan antara saluran pemasukan dengan saluran pengeluaran melintasi kowenan. Ukuran caren: lebar 30 cm dan dalam 30 cm. Fungsi kowenan sebagai tempat mengumpulnya benih pada saat kolam airnya dangkal atau surut dan untuk menggiring benih ke kowenan pada saat pemanenan.
  3. Langkah selanjutnya adalah pemberian kapur kalsit/kapur pertanian dengan dosis 200 gr/m². Maksud dan tujuan pengapuran adalah untuk membunuh organisme penyebab penyakit, memutus siklus hidup parasit dan untuk meningkatkan derajat keasaman tanah dan air kolam.
  4. Berikutnya adalah pengolahan tanah dasar, pemberian pupuk kandang kering sebanyak ±0,5 kg/m², dengan cara disebar atau dionggok-onggokkan di beberapa tempat, kemudian diberi air nyemek-nyemek untuk memberi kesempatan pupuk terurai menjadi unsur hara yang dibutuhkan untuk hidup dan berkembangnya plankton yang merupakan pakan alami ikan Gurami.
  5. Kowenan yang merupakan kolam kecil, pada bagian yang berhubungan dengan caren ditutup dengan tanah kemudian dipenuhi dengan air setinggi 20 – 30 cm.
  6. Selanjutnya larva yang masih memiliki sedikit cadangan makanan dalam tubuhnya dimasukkan ke dalam kowenan tadi. Tanggul kowenan dapat diberi pagar plastik untuk menghindari masuknya binatang-binatang pengganggu.
  7. Bila benih ikan sudah beradaptasi dengan baik (7 hari kemudian) air kolam sedikit demi sedikit dinaikkan sampai tanggul kowenan terendam air, kemudian tanggul yang menghubungkan kowenan dengan caren dibuka supaya benih ikan leluasa berenang keluar mencari makan yang sudah tersedia di lingkungannya yang berupa pakan alami.
  8. Pemberian pupuk susulan dilakukan dengan memberikan pupuk Phospat (SP 36). Dosis yang digunakan adalah 10 – 20 gram/m² dengan cara dilarutkan lebih dulu dalam air sebelum disebar atau dibungkus dalam kantong kain kemudian direndam/digantung di bawah permukaan air dekat dengan pemasukan air.
  9. Pemberian pakan tambahan dilakukan setelah ±15 hari sejak benih Gurami ditebarkan. Pakan tambahan bisa berupa dedak halus, tepung bungkil kelapa, tepung ikan atau pellet (mikro kapsul). Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari, pagi dan sore sebanyak ±5 % dari perkiraan bobot populasi.
  10. Panen benih berukuran biji oyong dilakukan setelah dipelihara selama 30 – 45 hari.  
Pemeliharaan Larva dalam Hapa Terapung
  1. Hapa terbuat dari kain strimin atau jaring dengan mata jaring 2 – 3 mm, ukuran 2 x 1 x 0,6 m.
  2. Pasang hapa di dalam kolam pendederan yang telah disiapkan seperti yang diuraikan di atas.
  3. Pemberian pakan tambahan dilakukan sama seperti pada larva yang dipelihara di kolam, pakan tambahan yang diberikan pada awalnya berupa tepung ikan selanjutnya dapat diberikan tepung bungkil kelapa, tepung dari pellet dengan dosis 5% dari berat populasi.
  4. Panen benih berukuran biji oyong dilakukan setelah dipelihara selama 30 – 45 hari.

Sabtu, 02 Februari 2019

PENETASAN TELUR DAN PERAWATAN LARVA GURAMI

Telur Gurami yang telah diambil dan dicuci dari dalam sarang selanjutnya dapat ditetaskan dalam paso, baskom, brokoh, akuarium atau bak semen. Telur ikan Gurami akan menetas setelah kurang lebih 45 jam. Organ-organ yang dimiliki embrio sebelum menetas adalah kepala, sepasang rongga mata, jantung dalam pericardium, lipatan sirip, dan kuning telur.

Penetasan Telur dalam Paso, Baskom, Brokoh atau Akuarium Spesifikasi Teknis 
  • Paso, baskom, atau brokoh berdiameter ±50 cm, akuarium 80 x 40 x 40 cm 
  • Ketinggian air 2/3 dari tinggi wadah.
  • Sumber air: air sumur, air irigasi, air harus higinis.
  • Kepadatan 100 – 200 butir/liter.
  • Telur yang tidak menetas berwarna kuning keputihan atau pucet dan harus segera dibuang, demikian juga telur-telur yang terinfeksi oleh jamur.
  • Penyegaran air: diganti seperempat bagian setiap 2 hari sekali setelah secara hati-hati jangan sampai ada telur atau larva yang ikut terbuang. 
  • Di dalam perawatan larva (pasca tetas) belum perlu diberi pakan karena larva akan memanfaatkan cadangan makanannya yang berupa kuning telur, kuning telur ini akan habis ±12 hari.
  • Lama pemeliharaan: sampai dengan cadangan makanan dalam perut larva hampir habis. Warna benih hitam, gesit berenang mengitari wadah. 
Larva yang menjelang habis cadangan makanannya tersebut harus segera dipelihara dalam kolam yang telah disiapkan untuk dipelihara menjadi bayong. Pemindahan larva ke dalam kolam pendederan dilakukan sebelum cadangan makanan yang berupa kuning telur habis sehingga larva dapat menyesuaikan diri dengan jenis makanan yang ada di luar tubuhnya.  
 
Penetasan dalam Bak.  
 
Penetasan dapat dilakukan di bak dan larva yang dihasilkan dapat dipelihara sampai menjadi bayong juga di bak tersebut. Sistem pemeliharaan ini disebut sistem “Clear water”
Spesifikasi Teknis
  • Bak yang berukuran 3 x 1 x 0,4 meter berfungsi sebagai tempat penetasan sekaligus tempat pemeliharaan larva sampai menjadi ukuran bayong (bak dapat dibuat lebih dari satu sesuai kebutuhan). 
  • Bak kultur pakan alami 3 x 1 x 1 meter berfungsi sebagai tempat untuk mengkulturkan pakan alami seperti Moina atau Daphnia. Bila akan diberi Arthemia, diperlukan tempat penetasan (ember atau aquarium). 
  • Bak sebelum digunakan dibersihkan, dilap dengan kain yang dibasahi dengan larutan PK atau Formalin (4%) kemudian dibilas dan dikering 
  • Ketinggian air bak penetasan/pemeliharaan larva 25 – 30 cm. 
  • Penyegaran air: dilakukan dengan model resirkulasi dan aerasi, menggunakan pompa resirkulasi (ukuran kecil) dan aerator. Filter: terdiri dari kapas sintetis dibawahnya diberi kapur CaC03 dan arang atau zeloidh dan ditempatkan dalam wadah / ember yang di bagian bawah diberi lubang. 
  • Sumber air: sumur atau saluran air, air harus higinis. 
  • Kepadatan: 5.000 – 7.500 butir telur /larva per bak atau 6 – 10 ekor/liter air.
  • Lama pemeliharaan: sampai dengan ukuran biji oyong (bayong) atau selama ±45 hari. 
  • Pergantian air: dapat dilakukan setiap 7 atau 10 hari sekali dengan 1/3 bagian yang diganti. 
  • Pemberian pakan:
Hari 0 – 12    : Cadangan pakan dalam tubuhnya.
Hari 10 – 21  : pakan alami (Moina/Daphnia/Arthemia)
Hari 22 – 45  : pakan alami + Tubifek atau pakan alami + mikro  kapsul telur.
  • (Bila ada tanda-tanda benih ikan tidak sehat air media diberi metil biru 3 gram/m² selama 15 – 30 menit.

Sabtu, 05 Januari 2019

TEKNIK PENGAMBILAN TELUR GURAMI


Faktor terpenting yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
  • Telur ikan banyak mengandung lemak, telur yang pecah akan meninggalkan lapisan lemak yang dapat menjadi tempat pembiakan bakteri. Oleh karena itu lapisan air yang mengandung lemak ini harus dibuang.
  • Telur dan larva sangat peka terhadap cahaya, karenanya kolam pemijahan harus terlindung dari cahaya yang terlalu kuat, misalnya di tepian kolam ditanami dengan pohon talas berdaun lebar (daunnya dapat digunakan sebagai pakan buatan).
  • Larva yang baru menetas suka melekat pada substrat dengan kelenjar kepalanya, sehingga pada perawatan larva (baik di baskom, di brokoh, atau di kolam) perlu diberi tanaman air berakar mengapung sebagai tempat menempelnya larva seperti Enceng Gondok (Eishomia sp.), Kol air (Pistia Sp.), Apon-apon (Selvinia sp.) atau Mata lele (Azolla sp.)
  • Benih ikan pada umur 2 – 4 minggu baru mampu makan pakan tambahan yang diberikan seperti dedak halus, tepung ikan, dan lain-lain. Pada usia tersebut Labirin sebagai organ pernapasan tambahan mulai terbentuk, yang ditandai seringnya ikan menghirup udara.
  • Masa kritis dari kelangsungan hidup ikan Gurami terjadi pada periode pergantian makanannya dari cadangan makanan berupa kuning telur ke makanan alami yang ada di lingkungan hidupnya, oleh karena itu pada masa-masa ini perlu penanganan yang hati-hati.
Dalam tahapan ini ada dua cara perawatan telur dan larva yaitu:
  • Telur diambil dari sarang dan ditetaskan dalam Paso, Brokoh, Baskom, atau Akuarium.
  • Larva diambil dari sarang setelah berumur kurang lebih  7 hari
Setelah induk-induk memijah, sarang yang telah ada telurnya diambil yaitu 1 – 2 hari setelah terjadi pemijahan, dengan cara sebagai berikut:
  • Menyediakan peralatan yang berupa wadah (baskom, ember, atau brokoh), gayung air atau mangkok dan sendok. 
  • Wadah tadi diisi dengan air kolam, kemudian ditempatkan di muka sarang yang akan diambil larvanya agak dimiringkan menghadap sarang.
  • Ambil sarang dari dalam sosog dan masukkan ke dalam wadah tadi, dengan posisi lubang sarang menghadap ke atas.
  • Setelah sarang diambil, lubang sarang tadi dibuka dengan hati-hati kemudian dengan sedikit ditekan maka telur-telur akan keluar dan mengapung di permukaan air.
  • Selanjutnya telur-telur tadi diambil dengan menggunakan sendok dan ditaruh ke dalam baskom lainnya yang sudah berisi air bersih. Untuk mengambil telur yang masih tertinggal dalam sarang urailah sarang tersebut dimulai dari bagian luar dan bahan sarang dicuci dan dijemur untuk digunakan kembali, telur yang tersisa diambil dengan sendok.
  • Setelah semua telur berada dalam baskom, maka secara berulang-ulang diadakan pemindahan telur-telur tadi ke baskom lain yang berisi air bersih. Perlakuan “pencucian” ini dilakukan sampai telur bersih dari lemak.

Sabtu, 08 Desember 2018

PEMIJAHAN GURAMI


Kolam Pemijahan
Kolam pemijahan dapat berupa kolam tanah atau kolam permanen. Satu petak kolam pemijahan luasnya 25 – 50 m2, apabila kolam yang akan digunakan terlalu luas maka kolam tersebut dapat disekat dengan menggunakan anyaman bambu (jaro). Bentuk kolam sebaiknya empat persegi panjang atau mendekati bentuk tersebut.
Kolam dibuat pada lahan terbuka, memperoleh sinar matahari yang cukup, kalau memungkinkan lokasi kolam pemijahan dipilih yang tenang dan sepi. Kolam mendapatkan pengairan yang cukup baik dan higienis dalam kondisi mengalir secara terus menerus.

Perlengkapan Kolam Pemijahan:
Sosog: 
Sebagai tempat sarang terbuat dari bambu, dipasang agak miring ke atas kurang lebih 10 cm di bawah permukaan air, jumlah sosog sama dengan jumlah induk betina. Apabila kolam pemijahan permanen lubang pemijahan dapat dibuat permanen pada dinding kolam, bentuk dan letaknya dapat disesuaikan.
Anjang-anjang:
Adalah tempat untuk meletakkan bahan sarang, terbuat dari bilah-bilah bambu yang dianyam (lubang anyaman 10 x 10 cm). Ukuran atau luas anjang-anjang ini 1 x 1 m2 dan dipasang mendatar tepat di atas permukaan air pada salah satu sudut kolam.
Bahan Sarang:
Terbuat dari ijuk yang halus, serat karung atau serabut kelapa yang sudah dibersihkan dan diletakkan di atas anjang-anjang. Banyaknya bahan sarang ini kurang lebih 1 kg/1 stel induk.
Tata Laksana Pemijahan:
          Untuk pemijahan ikan Gurami urut-urutan pekerjaannya adalah sebagai berikut:
  1. Kolam dibersihkan dari rerumputan atau sampah, kalau memungkinkan kolam tidak dibuat berlumpur dan tidak poreus, selanjutnya kolam dijemur selama 5 – 7 hari.
  2. Masukkan air jernih, aturlah agar kedalaman air kolam antara 60 – 100 cm, biarkan air tetap mengalir walaupun debit airnya kecil.
  3. Selanjutnya perlengkapan pemijahan seperti sosog, anjang-anjang, dan bahan sarang dipasang pada tempat yang sesuai dan benar.
  4. Dua atau tiga hari kemudian induk-induk yang sudah terpilih dimasukkan, satu petak kolam pemijahan hanya diisi dengan 1 stel induk yang terdiri dari 1 ekor pejantan dengan 3 – 4 ekor betina.
  5. Pakan yang diberikan harus cukup setiap hari pakan dapat berupa pellet dan atau daun-daunan yang lunak seperti daun keledai, talas atau kajar, hindari pemberian pakan yang banyak mengandung lemak, misalnya bungkil kelapa dan hindari pula pemberian daun ubi kayu.
  6. Apabila ada induk yang siap memijah, maka mereka akan membuat sarang di dalam sosog. Pembuatan sarang dilakukan bersama antara induk jantan dan induk betina.
  7. Tanda-tanda telah terjadi pemijahan antara lain:
    • Apabila sarang ditusuk dengan lidi maka akan keluar gelembung lemak dan berbau amis atau anyir.
    • Sarang dijaga oleh induknya 
    • Lubang sarang telah ditutup
  8. Biarkan induk tadi berada dalam kolam pemijahan. Bila frekuensi pemijahan sudah mencapai 4 kali memijah setiap induk betina (4 kali bersarang) pindahkan induk-induk tadi ke kolam penampungan induk yang terpisah antara induk jantan dan induk betina. Kemudian kolam pemijahan tadi diolah kembali, lumpur dibuang, kemudian dikeringkan, peralatan yang sudah rusak diganti, baru kemudian induk-induk tadi dimasukkan kembali.
  9. Satu induk Gurami biasanya dapat menghasilkan 2000 – 6000 butir telur, tetapi ada juga yang mencapai 10.000 butir telur tergantung dari kualitas induk, berat induk, umur dan kualitas lingkungan serta pakan yang diberikan.
  10. Setelah terjadi pemijahan, oleh induknya telur yang telah dibuahi disimpan dalam sarang dan dijaganya sampai telur-telur tadi menetas dan berkembang menjadi larva yang sempurna.

Minggu, 11 November 2018

PENGELOLAAN INDUK GURAMI


Ada beberapa hal yang perlu diketahui dari sifat dan tingkah laku induk induk ikan Gurami antara lain:
  • Induk ikan Gurami senang hidup pada perairan yang tenang dan dalam;
  • Dapat berkembang dengan baik pada temperatur 25 – 28°C atau pada ketinggian 100 – 300 m di atas permukaan air laut.
  • Memiliki rasa keindukan yang tinggi, dengan membuat sarang untuk menyimpan telurnya, menjaga dan mengasuh keturunannya sampai larvanya bisa mandiri.
  • Satu ekor pejantan dapat melayani beberapa ekor betina secara bergilir dalam satu kolam pemijahan, tetapi bila dalam 2 kolam pemijahan terdapat lebih dari satu ekor  pejantan biasanya sering terjadi perkelahian antara pejantan-pejantan tadi;
  • Induk jantan dapat memijah dengan baik 2 – 4 minggu sekali, sedang induk betina dapat memijah 6 – 8 minggu sekali, bila kondisi lingkungan dan pakan yang bergizi tercukupi.

Calon- calon induk sebelum ditempatkan pada kolam pemijahan perlu dipelihara dengan baik, pada kolam terpisah antara jantan dan betina agar tidak terjadi pemijahan secara liar. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore hari yaitu pellet dan daun-daunan secara bergantian.

Tanda-tanda induk jantan dan betina
Induk Jantan:
  • Daerah di sekitar pangkal sirip dada berwarna putih kekuningan
  • Dahi menonjol
  • Dagu tebal berwarna kekuningan, dan mulut terlihat agak tumpul.

Induk betina:
  • Daerah di sekitar sirip dada berwarna kehitam-hitaman.
  • Dahi tidak pangkal menonjol, dagu tipis berwarna keputihan dan sedikit kecoklatan


Tanda-tanda induk yang baik digunakan untuk dipijahkan
Induk Jantan:
  • Sisik besar teratur, warna mulus bagian atas gelap dan ke bawah semakin terang, sehat, tidak luka maupun cacat tubuh, badan terkesan gemuk.
  • Berat badan antara 2,0 – 2,5 kg


Induk betina:
  • Daerah pangkal sirip dada nyata berwarna hitam dan tidak sekedar bercak hitam.
  • Sisik besar teratur.
  • Bagian perut membesar dan bila diraba akan terasa lunak.
  • Ujung sirip perut (cambuk) panjang paling tidak mencapai ujung sirip dubur.
  • Warna mengkilap karena banyak lendir dan belum terlalu tua
  • Tidak luka dan cacat tubuh
  • Berat per ekor induk betina ini 1,5 – 2,0 kg


Minggu, 14 Oktober 2018

MENGENAL IKAN GURAMI


Ikan Gurami adalah salah satu jenis ikan budidaya yang banyak dipelihara oleh pembudidaya ikan khususnya di wilayah eks Karisidenan Banyumas sehingga jenis ikan ini menjadi unggulan di wilayah tersebut. Ikan ini memiliki nama yang beragam, orang Jakarta dan Jawa Barat menyebut Ikan Gurame, orang Banyumas menyebutnya Gurameh atau Grameh, orang Sumatera khususnya Sumatera Barat menyebut dengan ikan Kalui.
 
Ikan Gurami
1.      Morfologi
Ikan ini memiliki ciri khas yaitu bernafas dengan insang dan insang tambahan yang disebut Labirin (Labirint) yaitu perluasan insang pertama yang kaya akan pembuluh darah kapiler, sehingga ikan ini dapat mengambil udara di atas permukaan air dan disimpan dalam rongga insangnya kemudian oksigen diserap oleh pembuluh darah kapiler tersebut. Dengan alat tersebut ikan ini dapat hidup dengan baik pada perairan tenang dan sedikit oksigen.
Ikan Gurami mempunyai bentuk badan yang kokoh dan kekar, pipih dan tinggi, banyak bergerak ke arah vertikal, sehingga ikan ini suka hidup pada air tenang dan dalam. Jari-jari keras dijumpai pada sirip punggung 12-13 buah, sirip dubur 9 – 11 buah. Sirip perut memiliki 1  jari keras dan 5 jari lunak yang sudah berubah menjadi sepasang benang / tali yang panjang yang berfungsi sebagai alat peraga.
Ikan Gurami memiliki tubuh yang berwarna biru kehitaman dengan bagian perut berwarna keputihan, namun ada juga yang berwarna putih kemerahan, kecoklatan pada punggungnya dan bagian perut berwarna kekuning-kuningan. Pada Gurami yang masih muda terdapat 7 – 8 buah garis tegak berwarna hitam dan garis ini hilang setelah dewasa.

 2.      Taksonomi
Ikan Gurami termasuk ikan dari golongan Labyrinthici karena memiliki alat pernafasan tambahan yang disebut Labirin. Klasifikasi secara lengkap adalah sebagai berikut:
           . Filum                                     : Chordata
           . Kelas                                      : Pisces
           . Bangsa                                  : Labyrinthici
           . Sub Bangsa                            : Anabantoidei
           . Suku                                       : Anabantidae
           . Marga                                   : Osphronemus
           . Jenis                                      : Osphronemus gourami
Sebangsa dengan ikan Gurami adalah ikan Tambakan (Helostoma tensminski) dan ikan Sepat Siam (Tricogaster pectoralis).

3.       Lingkungan hidup
Ikan Gurami di alam banyak dijumpai di rawa – rawa di dataran rendah, tumbuh pada perairan tropis atau sub tropis. Ikan Gurami dapat hidup pada perairan tawar sampai sedikit payau. Hidup dengan baik pada daerah sampai ketinggian 600 m di atas permukaan laut, namun untuk pemijahan yang paling baik dilakukan pada ketinggian 100 – 300 m dari permukaan laut. Konsentrasi pemeliharaan ikan Gurami pada dataran tinggi biasanya usaha pemijahan/ pendederan, sedangkan pada dataran rendah sampai dengan 100 m di atas permukaan air laut lebih cocok untuk usaha pembesaran.
Bila dipelihara pada dataran rendah ikan ini lebih lebih cepat tumbuh dibandingkan di dataran tinggi, karena dataran rendah suhu airnya lebih tinggi bila dibandingkan dengan dataran tinggi. Ikan Gurami dapat tumbuh dengan baik bila dipelihara dalam air dengan suhu 25 – 30°C.
Ikan Gurami lebih senang hidup dalam air yang tenang dan dalam dengan warna air kehijau-hijauan (kaya akan Fitoplankton). Ikan ini sangat peka terhadap suhu yang sangat rendah. Sehingga bila dipelihara dalam air yang bersuhu kurang dari 15°C ikan tidak bisa tumbuh dengan baik bahkan sulit untuk berkembang biak.

4.      Makanan
Dilihat dari makanan dan kebiasaan makan ikan Gurami termasuk jenis ikan Omnivora yaitu pemakan segala, pada benih ikan (bayong) setelah habis cadangan makanan yang ada dalam tubuhnya akan memakaan jasad renik yang ada di sekitarnya yaitu zooplankton seperti Rotifera, Influsoria, Moina, dan Daphnia. Pada stadium yang lebih besar (daun kelor) memakan hewan yang lebih besar seperti Cladocera, cacing-cacingan seperti cacing sutera, larva Chironomid serta tumbuhan renik (fitoplankton).
Benih ikan yang berukuran bungkus korek api sampai dengan bungkus rokok akan cenderung menyukai tumbuh-tumbuhan seperti Hydrilla, Azolla, Pistia (apu-apu), kangkung, dan genjer. Setelah dewasa disamping tumbuhan tersebut ikan Gurami menyukai daun-daunan seperti daun talas-talasan, kobis, pepaya, dan lain-lain.
Dalam budidaya ikan Gurami, kebutuhan protein dapat dipenuhi dengan memberikan pakan berupa pakan buatan (mikro kapsul, pellet) yang mengandung protein tidak kurang dari 25% sedang pakan hijauan biasanya diberikan secara ad libitum (sekenyangnya). Pakan nabati ini akan mengurangi pemberian pakan buatan sampai 1% (yang biasanya diberi 3% menjadi 2 %).