Sabtu, 02 Februari 2019

PENETASAN TELUR DAN PERAWATAN LARVA GURAMI

Telur Gurami yang telah diambil dan dicuci dari dalam sarang selanjutnya dapat ditetaskan dalam paso, baskom, brokoh, akuarium atau bak semen. Telur ikan Gurami akan menetas setelah kurang lebih 45 jam. Organ-organ yang dimiliki embrio sebelum menetas adalah kepala, sepasang rongga mata, jantung dalam pericardium, lipatan sirip, dan kuning telur.

Penetasan Telur dalam Paso, Baskom, Brokoh atau Akuarium Spesifikasi Teknis 
  • Paso, baskom, atau brokoh berdiameter ±50 cm, akuarium 80 x 40 x 40 cm 
  • Ketinggian air 2/3 dari tinggi wadah.
  • Sumber air: air sumur, air irigasi, air harus higinis.
  • Kepadatan 100 – 200 butir/liter.
  • Telur yang tidak menetas berwarna kuning keputihan atau pucet dan harus segera dibuang, demikian juga telur-telur yang terinfeksi oleh jamur.
  • Penyegaran air: diganti seperempat bagian setiap 2 hari sekali setelah secara hati-hati jangan sampai ada telur atau larva yang ikut terbuang. 
  • Di dalam perawatan larva (pasca tetas) belum perlu diberi pakan karena larva akan memanfaatkan cadangan makanannya yang berupa kuning telur, kuning telur ini akan habis ±12 hari.
  • Lama pemeliharaan: sampai dengan cadangan makanan dalam perut larva hampir habis. Warna benih hitam, gesit berenang mengitari wadah. 
Larva yang menjelang habis cadangan makanannya tersebut harus segera dipelihara dalam kolam yang telah disiapkan untuk dipelihara menjadi bayong. Pemindahan larva ke dalam kolam pendederan dilakukan sebelum cadangan makanan yang berupa kuning telur habis sehingga larva dapat menyesuaikan diri dengan jenis makanan yang ada di luar tubuhnya.  
 
Penetasan dalam Bak.  
 
Penetasan dapat dilakukan di bak dan larva yang dihasilkan dapat dipelihara sampai menjadi bayong juga di bak tersebut. Sistem pemeliharaan ini disebut sistem “Clear water
Spesifikasi Teknis
  • Bak yang berukuran 3 x 1 x 0,4 meter berfungsi sebagai tempat penetasan sekaligus tempat pemeliharaan larva sampai menjadi ukuran bayong (bak dapat dibuat lebih dari satu sesuai kebutuhan). 
  • Bak kultur pakan alami 3 x 1 x 1 meter berfungsi sebagai tempat untuk mengkulturkan pakan alami seperti Moina atau Daphnia. Bila akan diberi Arthemia, diperlukan tempat penetasan (ember atau aquarium). 
  • Bak sebelum digunakan dibersihkan, dilap dengan kain yang dibasahi dengan larutan PK atau Formalin (4%) kemudian dibilas dan dikering 
  • Ketinggian air bak penetasan/pemeliharaan larva 25 – 30 cm. 
  • Penyegaran air: dilakukan dengan model resirkulasi dan aerasi, menggunakan pompa resirkulasi (ukuran kecil) dan aerator. Filter: terdiri dari kapas sintetis dibawahnya diberi kapur CaC03 dan arang atau zeloidh dan ditempatkan dalam wadah / ember yang di bagian bawah diberi lubang. 
  • Sumber air: sumur atau saluran air, air harus higinis. 
  • Kepadatan: 5.000 – 7.500 butir telur /larva per bak atau 6 – 10 ekor/liter air.
  • Lama pemeliharaan: sampai dengan ukuran biji oyong (bayong) atau selama ±45 hari. 
  • Pergantian air: dapat dilakukan setiap 7 atau 10 hari sekali dengan 1/3 bagian yang diganti. 
  • Pemberian pakan:
Hari 0 – 12    : Cadangan pakan dalam tubuhnya.
Hari 10 – 21  : pakan alami (Moina/Daphnia/Arthemia)
Hari 22 – 45  : pakan alami + Tubifek atau pakan alami + mikro  kapsul telur.
  • (Bila ada tanda-tanda benih ikan tidak sehat air media diberi metil biru 3 gram/m² selama 15 – 30 menit.

Sabtu, 05 Januari 2019

TEKNIK PENGAMBILAN TELUR GURAMI


Faktor terpenting yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
  • Telur ikan banyak mengandung lemak, telur yang pecah akan meninggalkan lapisan lemak yang dapat menjadi tempat pembiakan bakteri. Oleh karena itu lapisan air yang mengandung lemak ini harus dibuang.
  • Telur dan larva sangat peka terhadap cahaya, karenanya kolam pemijahan harus terlindung dari cahaya yang terlalu kuat, misalnya di tepian kolam ditanami dengan pohon talas berdaun lebar (daunnya dapat digunakan sebagai pakan buatan).
  • Larva yang baru menetas suka melekat pada substrat dengan kelenjar kepalanya, sehingga pada perawatan larva (baik di baskom, di brokoh, atau di kolam) perlu diberi tanaman air berakar mengapung sebagai tempat menempelnya larva seperti Enceng Gondok (Eishomia sp.), Kol air (Pistia Sp.), Apon-apon (Selvinia sp.) atau Mata lele (Azolla sp.)
  • Benih ikan pada umur 2 – 4 minggu baru mampu makan pakan tambahan yang diberikan seperti dedak halus, tepung ikan, dan lain-lain. Pada usia tersebut Labirin sebagai organ pernapasan tambahan mulai terbentuk, yang ditandai seringnya ikan menghirup udara.
  • Masa kritis dari kelangsungan hidup ikan Gurami terjadi pada periode pergantian makanannya dari cadangan makanan berupa kuning telur ke makanan alami yang ada di lingkungan hidupnya, oleh karena itu pada masa-masa ini perlu penanganan yang hati-hati.
Dalam tahapan ini ada dua cara perawatan telur dan larva yaitu:
  • Telur diambil dari sarang dan ditetaskan dalam Paso, Brokoh, Baskom, atau Akuarium.
  • Larva diambil dari sarang setelah berumur kurang lebih  7 hari
Setelah induk-induk memijah, sarang yang telah ada telurnya diambil yaitu 1 – 2 hari setelah terjadi pemijahan, dengan cara sebagai berikut:
  • Menyediakan peralatan yang berupa wadah (baskom, ember, atau brokoh), gayung air atau mangkok dan sendok. 
  • Wadah tadi diisi dengan air kolam, kemudian ditempatkan di muka sarang yang akan diambil larvanya agak dimiringkan menghadap sarang.
  • Ambil sarang dari dalam sosog dan masukkan ke dalam wadah tadi, dengan posisi lubang sarang menghadap ke atas.
  • Setelah sarang diambil, lubang sarang tadi dibuka dengan hati-hati kemudian dengan sedikit ditekan maka telur-telur akan keluar dan mengapung di permukaan air.
  • Selanjutnya telur-telur tadi diambil dengan menggunakan sendok dan ditaruh ke dalam baskom lainnya yang sudah berisi air bersih. Untuk mengambil telur yang masih tertinggal dalam sarang urailah sarang tersebut dimulai dari bagian luar dan bahan sarang dicuci dan dijemur untuk digunakan kembali, telur yang tersisa diambil dengan sendok.
  • Setelah semua telur berada dalam baskom, maka secara berulang-ulang diadakan pemindahan telur-telur tadi ke baskom lain yang berisi air bersih. Perlakuan “pencucian” ini dilakukan sampai telur bersih dari lemak.

Sabtu, 08 Desember 2018

PEMIJAHAN GURAMI


Kolam Pemijahan
Kolam pemijahan dapat berupa kolam tanah atau kolam permanen. Satu petak kolam pemijahan luasnya 25 – 50 m2, apabila kolam yang akan digunakan terlalu luas maka kolam tersebut dapat disekat dengan menggunakan anyaman bambu (jaro). Bentuk kolam sebaiknya empat persegi panjang atau mendekati bentuk tersebut.
Kolam dibuat pada lahan terbuka, memperoleh sinar matahari yang cukup, kalau memungkinkan lokasi kolam pemijahan dipilih yang tenang dan sepi. Kolam mendapatkan pengairan yang cukup baik dan higienis dalam kondisi mengalir secara terus menerus.

Perlengkapan Kolam Pemijahan:
Sosog: 
Sebagai tempat sarang terbuat dari bambu, dipasang agak miring ke atas kurang lebih 10 cm di bawah permukaan air, jumlah sosog sama dengan jumlah induk betina. Apabila kolam pemijahan permanen lubang pemijahan dapat dibuat permanen pada dinding kolam, bentuk dan letaknya dapat disesuaikan.
Anjang-anjang:
Adalah tempat untuk meletakkan bahan sarang, terbuat dari bilah-bilah bambu yang dianyam (lubang anyaman 10 x 10 cm). Ukuran atau luas anjang-anjang ini 1 x 1 m2 dan dipasang mendatar tepat di atas permukaan air pada salah satu sudut kolam.
Bahan Sarang:
Terbuat dari ijuk yang halus, serat karung atau serabut kelapa yang sudah dibersihkan dan diletakkan di atas anjang-anjang. Banyaknya bahan sarang ini kurang lebih 1 kg/1 stel induk.
Tata Laksana Pemijahan:
          Untuk pemijahan ikan Gurami urut-urutan pekerjaannya adalah sebagai berikut:
  1. Kolam dibersihkan dari rerumputan atau sampah, kalau memungkinkan kolam tidak dibuat berlumpur dan tidak poreus, selanjutnya kolam dijemur selama 5 – 7 hari.
  2. Masukkan air jernih, aturlah agar kedalaman air kolam antara 60 – 100 cm, biarkan air tetap mengalir walaupun debit airnya kecil.
  3. Selanjutnya perlengkapan pemijahan seperti sosog, anjang-anjang, dan bahan sarang dipasang pada tempat yang sesuai dan benar.
  4. Dua atau tiga hari kemudian induk-induk yang sudah terpilih dimasukkan, satu petak kolam pemijahan hanya diisi dengan 1 stel induk yang terdiri dari 1 ekor pejantan dengan 3 – 4 ekor betina.
  5. Pakan yang diberikan harus cukup setiap hari pakan dapat berupa pellet dan atau daun-daunan yang lunak seperti daun keledai, talas atau kajar, hindari pemberian pakan yang banyak mengandung lemak, misalnya bungkil kelapa dan hindari pula pemberian daun ubi kayu.
  6. Apabila ada induk yang siap memijah, maka mereka akan membuat sarang di dalam sosog. Pembuatan sarang dilakukan bersama antara induk jantan dan induk betina.
  7. Tanda-tanda telah terjadi pemijahan antara lain:
    • Apabila sarang ditusuk dengan lidi maka akan keluar gelembung lemak dan berbau amis atau anyir.
    • Sarang dijaga oleh induknya 
    • Lubang sarang telah ditutup
  8. Biarkan induk tadi berada dalam kolam pemijahan. Bila frekuensi pemijahan sudah mencapai 4 kali memijah setiap induk betina (4 kali bersarang) pindahkan induk-induk tadi ke kolam penampungan induk yang terpisah antara induk jantan dan induk betina. Kemudian kolam pemijahan tadi diolah kembali, lumpur dibuang, kemudian dikeringkan, peralatan yang sudah rusak diganti, baru kemudian induk-induk tadi dimasukkan kembali.
  9. Satu induk Gurami biasanya dapat menghasilkan 2000 – 6000 butir telur, tetapi ada juga yang mencapai 10.000 butir telur tergantung dari kualitas induk, berat induk, umur dan kualitas lingkungan serta pakan yang diberikan.
  10. Setelah terjadi pemijahan, oleh induknya telur yang telah dibuahi disimpan dalam sarang dan dijaganya sampai telur-telur tadi menetas dan berkembang menjadi larva yang sempurna.

Minggu, 11 November 2018

PENGELOLAAN INDUK GURAMI


Ada beberapa hal yang perlu diketahui dari sifat dan tingkah laku induk induk ikan Gurami antara lain:
  • Induk ikan Gurami senang hidup pada perairan yang tenang dan dalam;
  • Dapat berkembang dengan baik pada temperatur 25 – 28°C atau pada ketinggian 100 – 300 m di atas permukaan air laut.
  • Memiliki rasa keindukan yang tinggi, dengan membuat sarang untuk menyimpan telurnya, menjaga dan mengasuh keturunannya sampai larvanya bisa mandiri.
  • Satu ekor pejantan dapat melayani beberapa ekor betina secara bergilir dalam satu kolam pemijahan, tetapi bila dalam 2 kolam pemijahan terdapat lebih dari satu ekor  pejantan biasanya sering terjadi perkelahian antara pejantan-pejantan tadi;
  • Induk jantan dapat memijah dengan baik 2 – 4 minggu sekali, sedang induk betina dapat memijah 6 – 8 minggu sekali, bila kondisi lingkungan dan pakan yang bergizi tercukupi.

Calon- calon induk sebelum ditempatkan pada kolam pemijahan perlu dipelihara dengan baik, pada kolam terpisah antara jantan dan betina agar tidak terjadi pemijahan secara liar. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore hari yaitu pellet dan daun-daunan secara bergantian.

Tanda-tanda induk jantan dan betina
Induk Jantan:
  • Daerah di sekitar pangkal sirip dada berwarna putih kekuningan
  • Dahi menonjol
  • Dagu tebal berwarna kekuningan, dan mulut terlihat agak tumpul.

Induk betina:
  • Daerah di sekitar sirip dada berwarna kehitam-hitaman.
  • Dahi tidak pangkal menonjol, dagu tipis berwarna keputihan dan sedikit kecoklatan


Tanda-tanda induk yang baik digunakan untuk dipijahkan
Induk Jantan:
  • Sisik besar teratur, warna mulus bagian atas gelap dan ke bawah semakin terang, sehat, tidak luka maupun cacat tubuh, badan terkesan gemuk.
  • Berat badan antara 2,0 – 2,5 kg


Induk betina:
  • Daerah pangkal sirip dada nyata berwarna hitam dan tidak sekedar bercak hitam.
  • Sisik besar teratur.
  • Bagian perut membesar dan bila diraba akan terasa lunak.
  • Ujung sirip perut (cambuk) panjang paling tidak mencapai ujung sirip dubur.
  • Warna mengkilap karena banyak lendir dan belum terlalu tua
  • Tidak luka dan cacat tubuh
  • Berat per ekor induk betina ini 1,5 – 2,0 kg


Minggu, 14 Oktober 2018

MENGENAL IKAN GURAMI


Ikan Gurami adalah salah satu jenis ikan budidaya yang banyak dipelihara oleh pembudidaya ikan khususnya di wilayah eks Karisidenan Banyumas sehingga jenis ikan ini menjadi unggulan di wilayah tersebut. Ikan ini memiliki nama yang beragam, orang Jakarta dan Jawa Barat menyebut Ikan Gurame, orang Banyumas menyebutnya Gurameh atau Grameh, orang Sumatera khususnya Sumatera Barat menyebut dengan ikan Kalui.
 
Ikan Gurami
1.      Morfologi
Ikan ini memiliki ciri khas yaitu bernafas dengan insang dan insang tambahan yang disebut Labirin (Labirint) yaitu perluasan insang pertama yang kaya akan pembuluh darah kapiler, sehingga ikan ini dapat mengambil udara di atas permukaan air dan disimpan dalam rongga insangnya kemudian oksigen diserap oleh pembuluh darah kapiler tersebut. Dengan alat tersebut ikan ini dapat hidup dengan baik pada perairan tenang dan sedikit oksigen.
Ikan Gurami mempunyai bentuk badan yang kokoh dan kekar, pipih dan tinggi, banyak bergerak ke arah vertikal, sehingga ikan ini suka hidup pada air tenang dan dalam. Jari-jari keras dijumpai pada sirip punggung 12-13 buah, sirip dubur 9 – 11 buah. Sirip perut memiliki 1  jari keras dan 5 jari lunak yang sudah berubah menjadi sepasang benang / tali yang panjang yang berfungsi sebagai alat peraga.
Ikan Gurami memiliki tubuh yang berwarna biru kehitaman dengan bagian perut berwarna keputihan, namun ada juga yang berwarna putih kemerahan, kecoklatan pada punggungnya dan bagian perut berwarna kekuning-kuningan. Pada Gurami yang masih muda terdapat 7 – 8 buah garis tegak berwarna hitam dan garis ini hilang setelah dewasa.

 2.      Taksonomi
Ikan Gurami termasuk ikan dari golongan Labyrinthici karena memiliki alat pernafasan tambahan yang disebut Labirin. Klasifikasi secara lengkap adalah sebagai berikut:
           . Filum                                     : Chordata
           . Kelas                                      : Pisces
           . Bangsa                                  : Labyrinthici
           . Sub Bangsa                            : Anabantoidei
           . Suku                                       : Anabantidae
           . Marga                                   : Osphronemus
           . Jenis                                      : Osphronemus gourami
Sebangsa dengan ikan Gurami adalah ikan Tambakan (Helostoma tensminski) dan ikan Sepat Siam (Tricogaster pectoralis).

3.       Lingkungan hidup
Ikan Gurami di alam banyak dijumpai di rawa – rawa di dataran rendah, tumbuh pada perairan tropis atau sub tropis. Ikan Gurami dapat hidup pada perairan tawar sampai sedikit payau. Hidup dengan baik pada daerah sampai ketinggian 600 m di atas permukaan laut, namun untuk pemijahan yang paling baik dilakukan pada ketinggian 100 – 300 m dari permukaan laut. Konsentrasi pemeliharaan ikan Gurami pada dataran tinggi biasanya usaha pemijahan/ pendederan, sedangkan pada dataran rendah sampai dengan 100 m di atas permukaan air laut lebih cocok untuk usaha pembesaran.
Bila dipelihara pada dataran rendah ikan ini lebih lebih cepat tumbuh dibandingkan di dataran tinggi, karena dataran rendah suhu airnya lebih tinggi bila dibandingkan dengan dataran tinggi. Ikan Gurami dapat tumbuh dengan baik bila dipelihara dalam air dengan suhu 25 – 30°C.
Ikan Gurami lebih senang hidup dalam air yang tenang dan dalam dengan warna air kehijau-hijauan (kaya akan Fitoplankton). Ikan ini sangat peka terhadap suhu yang sangat rendah. Sehingga bila dipelihara dalam air yang bersuhu kurang dari 15°C ikan tidak bisa tumbuh dengan baik bahkan sulit untuk berkembang biak.

4.      Makanan
Dilihat dari makanan dan kebiasaan makan ikan Gurami termasuk jenis ikan Omnivora yaitu pemakan segala, pada benih ikan (bayong) setelah habis cadangan makanan yang ada dalam tubuhnya akan memakaan jasad renik yang ada di sekitarnya yaitu zooplankton seperti Rotifera, Influsoria, Moina, dan Daphnia. Pada stadium yang lebih besar (daun kelor) memakan hewan yang lebih besar seperti Cladocera, cacing-cacingan seperti cacing sutera, larva Chironomid serta tumbuhan renik (fitoplankton).
Benih ikan yang berukuran bungkus korek api sampai dengan bungkus rokok akan cenderung menyukai tumbuh-tumbuhan seperti Hydrilla, Azolla, Pistia (apu-apu), kangkung, dan genjer. Setelah dewasa disamping tumbuhan tersebut ikan Gurami menyukai daun-daunan seperti daun talas-talasan, kobis, pepaya, dan lain-lain.
Dalam budidaya ikan Gurami, kebutuhan protein dapat dipenuhi dengan memberikan pakan berupa pakan buatan (mikro kapsul, pellet) yang mengandung protein tidak kurang dari 25% sedang pakan hijauan biasanya diberikan secara ad libitum (sekenyangnya). Pakan nabati ini akan mengurangi pemberian pakan buatan sampai 1% (yang biasanya diberi 3% menjadi 2 %).

Minggu, 09 September 2018

PENTAHAPAN USAHA BUDIDAYA GURAMI


Ikan Gurami merupakan ikan yang disukai oleh masyarakat, disamping rasa dagingnya lezat, mempunyai pasaran yang baik, harganyapun relatif tinggi bila dibandingkan dengan jenis ikan yang lain. Permintaan ikan Gurami di pasaran terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah makan dan hotel adalah yang berukuran 0,6 – 1,0 kg per ekor atau ukuran “super” (sesuai ukuran permintaan).
Melihat permintaan pasar terhadap ikan Gurami konsumsi maka diperlukan pemeliharaan yang cukup intensif karena Gurami merupakan salah satu ikan yang lambat pertumbuhannya dibandingkan dengan ikan yang lain. Benih lepas sarang bila dipelihara menjadi ukuran super akan membutuhkan waktu ±2 tahun. Oleh karena itu, melalui teknologi budidaya ikan Gurami sistem bertahap petani dapat memperoleh beberapa keuntungan antara lain:
-          Kehilangan / kematian semakin kecil karena resiko ini sudah terbagi dalam bebagai tahapan.
-          Masa pemeliharaan di tingkat pelaku utama menjadi lebih pendek.
-          Pemeliharaan menjadi lebih efisien.
-          Keuntungan pelaku utama dapat berlipat.
Pentahapan usaha budidaya Gurami adalah sebagai berikut:
1.    Tahapan Pemijahan (P) adalah tahapan pertama dalam budidaya ikan Gurami. Yaitu memijahkan ikan Gurami dengan sistem stelan (1 pejantan dengan 3 atau 4 ekor betina). Pada tahan ini akan diperoleh hasil telur atau larva yang berumur ±7 hari.
Kolam Pemijahan Gurami
2.     Tahapan penetasan telur atau pemeliharaan larva (T). Tahapan ini diawali dengan pengambilan telur (umur 1 hari) kemudian ditetaskan dalam suatu wadah atau pengambilan larva setelah berumur 7 hari. Kemudian larva tersebut dipelihara baik dengan metoda “Clear water” maupun dengan metode “Green water” dengan waktu pemeliharaan 30 – 45 hari. Hasil dari tahapan ini adalah benih ukuran biji oyong.
3.      Tahapan Pendederan 1 (D 1)
Adalah tahapan pemeliharaan dari benih ikan Gurami ukuran biji oyong sampai menjadi ukuran daun kelor, dengan waktu pemeliharaan 1,5 – 2 bulan
Benih Gurami Ukuran Daun Kelor
4.      Tahapan Pendederan 2 (D 2)
Adalah tahapan pemeliharaan dari benih ukuran daun kelor sampai menjadi benih ukuran dim, dengan waktu pemeliharaan sekitar 2 – 3 bulan.
5.      Tahapan Pendederan 3 (D 3)
Adalah tahapan pemeliharaan benih ukuran dim menjadi benih ukuran bungkus korek dengan waktu pemeliharaan sekitar 3 – 4 bulan.
6.      Tahapan Pembesaran 1 (B I)
Adalah tahapan pemeliharaan dari ukuran bungkus korek menjadi ukuran bungkus rokok dengan waktu pemeliharaan sekitar 3 – 4 bulan.
7.      Tahapan Pembesaran 2 (B 2)
Adalah tahapan pemeliharaan ikan Gurami berukuran bungkus rokok menjadi ukuran tampelan, dengan waktu pemeliharaan sekitar 4 – 5 bulan.
8.      Tahapan Pembesaran 3 (B 3)
Adalah tahapan pemeliharaan ikan Gurami berukuran tampelan menjadi ukuran konsumsi atau lebih dikenal dengan ukuran “Super” dengan waktu pemeliharaan 4 – 5 bulan.
Ukuran-ukuran ikan Gurami tersebut menjadi ukuran yang dipakai di kalangan pembudidaya dan pedagang ikan di wilayah eks Karisidenan Banyumas Jawa Tengah. Waktu pemeliharaan untuk setiap periode atau tahapan pendederan dan pembesaran terdapat kisaran kurang lebih 1 bulan tergantung dari kondisi lokasi dan teknologi yang diterapkan.
Apabila permintaan pasar terhadap ikan Gurami ukuran konsumsi selalu meningkat maka pada akhirnya permintaan setiap ukuran juga akan meningkat sehingga pembudidaya tidak terlalu lama memeliharanya. Disamping itu dengan memperpendek masa pemeliharaan, ikan akan lebih terkontrol sehingga akan meningkatkan derajat kelulusan hidup ikan.

Minggu, 12 Agustus 2018

PEMBENIHAN GURAMI

Ikan Gurami (Osphronnemus gourami Lac) di alam merupakan ikan rawa yang memiliki bentuk pipih, badannya tertutup oleh sisik yang berukuran besar dan teratur (termasuk jenis sisik stenoid), agak kasar, serta kuat. Panjang tubuhnya sampai pangkal ekor kira-kira 3 – 4 kali dari tinggi badannya dengan kepala lancip selagi muda dan tumpul setelah dewasa. Sirip punggung panjang dan lebar, setiap ekor ujungnya membulat, sirip dubur panjang dan lebar. Sirip perut dengan jari-jari yang berubah menjadi alat peraba memanjang seperti benang atau tali. Bentuk demikian menunjukkan bahwa ikan Gurami merupakan penghuni air tenang dan dalam.
Ikan Gurami mempunyai satu ciri khas yaitu adanya organ pernafasan tambahan selain insang yang disebut dengan labirin. Labirin mempunyai pembuluh darah kapiler yang dapat mengambil oksigen langsung dari udara yang ada di ruangan labirin. Udara ini diambil pada saat ikan muncul di permukaan air dan udara tersebut ditelannya dan disimpan dalam rongga labirin.
Adanya alat pernafasan tambahan memungkinkan ikan Gurami dapat hidup di perairan yang kekurangan oksigen tetapi jika ikan Gurami tidak mempunyai kesempatan untuk menghirup udara bebas misalnya permukaan air tertutup sama sekali sehingga di atas permukaan air tidak ada ruangan udara maka ikan ini akan mati.
Kolam Pembenihan Gurami
Usaha produktif induk ikan Gurami pada umur 3 – 7 tahun dengan jumlah telur berkisar antara 2.000 – 10.000 butir per ekor induk. Induk-induk ikan Gurami akan bertelur setiap ±2 bulan sekali apabila lingkungan dan pakan yang bergizi tercukupi. Induk-induk sebelum memijah akan membuat sarang terlebih dahulu. Sarang dapat terbuat dari rumput-rumputan kering, ijuk halus, serabut kelapa, atau serat karung. Bahan sarang ini disusun sedemikian rupa dan ditempatkan dalam sebuah lubang sarang yang disebut dengan “sosog”. Telur-telur yang sudah dibuahi akan disemprotkan ke dalam sarang dan selama periode pengeraman (inkubasi) akan dijaga oleh induknya hingga telur menetas (36 – 45 jam berikutnya) sampai menjadi larva yang sudah kuat untuk berenang. Larva pasca tetas masih memerlukan cadangan makanan yang berupa kuning telur yang akan habis antara 19 – 12 hari, sesudahnya benih ikan Gurami ini akan mengkonsumsi makanan yang berada di sekitarnya yang berupa pakan alami/ zooplankton.
Persentase penetasan bagi telur ikan Gurami begitu penting karena jumlah telur yang diperoleh dari seekor induk betina relatif sedikit. Di dalam usaha pembenihan pengawasan terhadap penetasan telur dan pemeliharaan larva diharapkan cukup baik karena pada tahapan ini sangat sensitif terhadap berbagai macam faktor seperti suhu, penyakit, polusi air, dan sebagainya.