Kamis, 14 April 2022

PERMASALAHAN DALAM BUDIDAYA IKAN DAN CARA MENGATASINYA

Seperti halnya ikan-ikan jenis lainnya, dalam budidaya juga tidak luput dari kendala-kendala dan permasalahan. Munculnya kendala dan hambatan dalam budidaya disebabkan faktor-faktor alam dan pengelolaan yang kurang tepat. Kendala yang disebabkan oleh faktor alam yaitu adanya serangan penyakit sehingga mengakibatkan kerugian besar bila tidak bisa mengatasinya. Kendala yang diakibatkan pengelolaan yang kurang tepat dapat berupa keahlian sumber daya manusia yang kurang berhati-hati dan kurang ketrampilan, pakan yang digunakan dan manajemen air yang kurang tepat.

Berikut ini beberapa permasalahan yang sering muncul dalam budidaya, penyebab dan cara mengatasinya.

Pertumbuhan Benih Lambat (Kuntet)

Pertumbuhan benih yang lambat dapat disebabkan oleh faktor yang diturunkan induk, faktor fisika kimia air yang kurang mendukung dan kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan kurang baik. Apabila penyebabnya adalah faktor fisika kimia air yang kurang mendukung maka untuk mengatasinya Suhu, pH dan faktor kebersihan air harus selalu diperhatikan dengan cara mengontrolnya setiap saat pH yang terlalu asam akan mengakibatkan pertumbuhan benih lambat. Suhu air yang terlalu rendah juga akan menyebabkan benih menjadi malas makan sehingga kebutuhan gizi dari pakan tidak terpenuhi.

Benih Malas Makan

Benih yang malas makan akan tampak kurus. Akibatnya, banyak sisa pakan yang mengendap pada dasar kolam. Benih yang malas makan dapat disebabkan oleh lingkungan dalam kolam itu sendiri, seperti suhu rendah, suplai oksigen kurang, pH asam, jenis pakan yang diberikan atau benih terserang penyakit, seperti sakit perut dan blooting (tidak dapat buang kotoran) Apabila penyebabnya adalah suhu maka untuk mengatasi suhu air yang terlalu rendah dapat digunakan heater sehingga suhu air akan naik secara perlahan-lahan. Apabila suplai oksigen kurang maka dapat digunakan hi-blow/kincir.

Perut Benih Menggembung Seperti Balon

Kadangkala dijumpai benih dalam kolam dengan perut yang menggembung dan membesar. Benih dengan kondisi seperti itu diperkirakan terkena blooting (tidak bisa buang kotoran). Hal ini biasanya diakibatkan oleh suplai oksigen yang kurang dan kandungan nitrit yang tinggi. Cara mengatasinya, air kolam segera diganti dan dasar perairan disipon. Air kolam yang baru ditambahkan garam. Suplai oksigen ditambah dengan memperbesar hi-blow.

Benih Mengambang di Permukaan Kolam

Benih yang selalu mengambang di permukaan air kolam diperkirakan mengalami gangguan saluran pernapasan. Terganggunya insang dapat diakibatkan adanya bakteri atau adanya limbah yang berupa logam-logam berat atau kimia lainnya. Cara mengatasinya adalah dengan mengganti air kolam dengan air yang baru karena air yang kotor cukup potensial menjadi penyebab gangguan ini.

Mati Mendadak

Sering dijumpai mati secara tiba-tiba atau mati mendadak. Bangkainya terapung dipermukaan air. Hal ini membuat panik dan bingung pembudidaya. Apalagi jika yang mati jumlahnya cukup banyak. Kepanikan seperti ini terutama dialami pembudidaya pemula atau yang baru coba-coba. Hal-hal yang dapat menyebabkan gejala mati mendadak dan solusi yang harus dilakukan diantaranya adalah:

a. Suhu air kolam terlalu panas

Jangan sepelekan suhu air kolam. Pertahankan pada kisaran ideal, yakni sekitar 28-30oC terutama yang masih benih sangat sensitif terhadap perubahan suhu yang terlalu panas. akan stres dan napsu makan menurun. Pencemaran dan metabolisme tubuh tidak berfungsi dengan baik. Lama kelamaan akan mati. Solusinya, lindungi bagian atas kolam dengan memasang terpal plastic untuk mencegah masuknya sinar matahari secara langsung ke kolam atau gunakan tanaman enceng gondok untuk menyediakan tempat berlindung (shelter) bagi ikan. Tanaman tersebut juga berfungsi sebagai inang bagi sejumlah mikroorganisme yang dapat dijadikan sumber pakan alami bagi

b. Perubahan mendadak pH air secara ekstrim

Pada tahap awal pembuatan kolam, tingkat keasaman atau pH sudah dikondisikan sedemikian rupa agar memenuhi syarat ideal bagi hidup. Seperti halnya suhu air, pH air kolam juga merupakan hal yang perlu dipertahankan. Biasanya, hujan pertama dapat mengubah pH air dalam waktu singkat. Solusinya, jika turun hujan pada hari pertama, segera ganti air kolam. Penggantian air kolam dilakukan sebagian. Gunakan mesin diesel untuk mengurangi maupun memasok air kolam.

c. Air kolam tercemar zat beracun

Air kolam yang tercemar zat beracun akan menyebabkan kematian dalam jumlah besar. Zat beracun tersebut biasanya berasal dari sisa pakan yang mengendap di dasar kolam. Dalam jumlah banyak, zat beracun yang terkandung di dalamnya akan menyebar ke seluruh air kolam yang pada gilirannya akan meracuni tersebut. Zat beracun juga bisa berasal dari obat-obatan kimia seperti pestisida. Hal ini sangat mungkin terjadi di kolam yang lokasinya berada di areal persawahan. Terlebih, sumber air berasal dari sungai atau saluran irigasi yang juga dimanfaatkan oleh petani padi. Kemungkinan lainnya, zat beracun berasal dari pakan tambahan (pakan hidup) seperti ikan rucah yang telah terkontaminasi limbah beracun sebelumnya. Solusinya, ganti sebagian air kolam dengan air baru. Jangan lupa, saat menguras sebagian air kolam, ujung pipa pompa disel ditempatkan dikeranjang plastik agar tidak ada yang ikut tersedot.

Air Kolam Berwarna Merah Kehitaman

Jika air kolam berwarna merah kehitaman, tandanya air kolam telah tercemar (terjadi polusi). Pencemaran tersebut diakibatkan oleh penumpukan sisa pakan dan sisa kotoran di dasar kolam. Dalam waktu yang lama, penumpukan sisa pakan akan menjadi racun dan membahayakan bagi kesehatan. Penebaran benih yang padat memiliki potensi polusi air lebih tinggi daripada penebaran benih rendah, karena kotoran yang dihasilkan lebih banyak. Begitu juga dengan sisa pakan, karena jatah pakannya lebih banyak. Umumnya, potensi pencemaran terjadi sekitar 2-3 minggu sebelum panen. Solusinya yang harus dilakukan adalah dengan mengganti air sebanyak 40% dari volume air yang ada.

Kamis, 07 April 2022

PENGELOLAAN AIR BUDIDAYA IKAN

Pengaturan Ketinggian Air

Pengaturan ketinggian erat kaitannya dengan kemampuan jelajah ikan dan jumlah tebar (kepadatan). Pada teknik budidaya, pengaturan volume air disesuaikan dengan perkembangan ukuran ikan. Seiring pertumbuhan ikan, kapasitas dukung kolam harus ditambah. Jadi, penambahan volume air pada dasarnya memperbesar daya dukung kolam (carrying capacity) agar ikan dapat hidup optimal.

Penambahan ketinggian air kolan harus dilakukan secara bertahap, tidak sekaligus. Jika permukaan air di kolam terlalu tinggi, sedangkan ukuran masih kecil, maka akan kesulitan memperoleh udara ke permukaan kolam. Aktivitasnya pun meningkat. Aktivitas yang tinggi menyebabkan pertumbuhan lambat.

Tidak ada treatment tertentu saat penambahan ketinggian air kolam, kecuali memang bertepatan dengan aplikasi suplemen air. Alirkan air bersih sedikit demi sedikit ke dalam kolam hingga mencapai ketinggian yang diinginkan.

Penggantian Air

Dalam teknik pembesaran pergantian air ditentukan oleh kualitas air. Penggantian air di sini dilakukan hanya separuh. Artinya, separuh air kolam dibuang, dan diganti dengan air baru. Sementara itu, penggantian total hanya dilakukan ketika sortir dan panen. Ada dua parameter fisik untuk menentukan pergantian air, yakni warna dan bau air.

1) Perubahan warna air.

Misalnya, dari hijau ke cokelat atau hitam. Perubahan warna air disebabkan oleh penumpukan sisa metabolisme dan pakan yang tidak termakan. Warna cokelat mengindikasikan kotoran di kolam masih bisa terdekomposisi, tetapi jumlahnya sudah tidak sebanding dengan laju proses dekomposisi. Sebaliknya, jika air sudah berwarna hitam, tandanya proses dekomposisi sudah tidak berjalan sehingga terjadi proses pembusukan.

2) Perubahan bau.

Disebabkan oleh pembusukan bahan organik. Perubahan bau mengindikasikan terjadi penimbunan amoniak. Amoniak yang berlebihan menyebabkan pH air turun (asam). Pada kondisi asam, bakteri patogen akan lebih mudah hidup dan berkembang. Akibatnya, mengalami keracunan dan terserang penyakit hingga berujung pada kematian. Penggantian air pada tahap ini pada dasarnya ditujukan untuk menjaga kualitas air agar tetap stabil. Jika air tidak diganti, respons terhadap pakan menurun dan pemberian suplemen air menjadi sia-sia belaka. Penggantian air umumnya dilakukan saat berukuran 10-12 cm, karena pada saat itu perubahan bau dan warna air kerap terjadi. Penggantian air sebaiknya dilaksanakan pada pukul 5.00-6.00 pagi.

Berikut tahapan penggantian air.

1. Buka saluran pembuangan (water level) di central drain untuk mengurangi volume air kolam hingga tiga perempat dari volume awal

2. Tambahkan air baru menggunakan slang secara perlahan. Pastikan mulut slang berada di bawah permukaan air kolam.

3. Hentikan suplai air baru jika volume air sudah mencapai volume semula.

4. Tambahkan suplemen air seperti pada penyiapan air kolam, yakni biang plankton 20-70 ml/m2, mineral air 2 gram/m2, dan probiotik 2 ml/m2.

Sirkulasi Air

Jika pergantian air dan penambahan suplemen tidak mampu lagi menekan penimbunan amoniak dan kotoran di kolam, segera lakukan sirkulasi air dengan cara memasukkan air ke dalam kolam secara terusmenerus selama 24 jam. Selanjutnya, tambahkan suplemen air (biang plankton, mineral air, dan probiotik) dengan dosis dua kali lipat dari dosis suplemen pada penggantian air kolam. Ulangi sirkulasi air 3 - 4 hari sekali hingga panen. Cara tersebut memungkinkan dilakukan bagi mereka yang memiliki ketersediaan air yang melimpah.

Sebaliknya, bagi mereka yang ketersediaan sumber airnya terbatas, bisa dengan cara mengurangi 50% air kolam dan ditambahkan lagi air baru setiap 5 - 7 hari sekali hingga panen. Usai pemasukan air baru, tambahkan suplemen air (biang plankton, mineral air, dan probiotik) dengan dosis dua kali lipat dari dosis pada penggantian air kolam.

Penyiponan

Penyiponan bertujuan untuk mengurangi sisa metabolisme dan sisa pakan yang mengendap di dasar kolam. Caranya, buka outlet sekitar 1-2 menit. Pastikan air yang keluar dari outlet sudah tidak kotor. Tutup kembali outlet seperti sediakala. Ulangi penyiponan minimum 2 - 3 hari sekali hingga panen. Tambahkan air baru jika volume air kolam dirasa sangat kurang.

Pengelolaan Air saat Hujan

Ketika hujan, air menjadi asam. Pada saat itu, air kolam idealnya disirkulasikan agar air hujan di permukaan kolam segera terbuang. Cara lainnya, ganti pipa paralon pembuangan dengan pipa yang ketinggiannya sama dengan permukaan air kolam. Setelah hujan reda, tambahkan suplemen air (probiotik + biang plankton + mineral air) dengan dosis dua kali lipat dari dosis normal. Lakukan cara ini setiap kali turun hujan.

Pengelolaan kualitas air media pemeliharaan udang di tambak :

1. Pengelolaan kualitas air tambak dilakukan melalui (penambahan air, pergantian air, pengaturan kedalaman air, aplikasi probiotik dan sumber karbon, penggunaan kapur, dan aerasi) untuk memperbaiki kualitas air;

2. Pemantauan dan pengamatan kualitas air dilakukan secara visual setiap hari, pengukuran kualitas air dilakukan secara laboratoris secara berkala

3. Pendokumentasian dan pencatatan hasil pemantauan dan pengukuran kualitas air.

Pengelolaan kulitas air media pemeliharaan berperan dalam menentukan keberhasilan budidaya udang. Tingkat kesehatan udang, pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang dipengaruhi oleh interaksi lingkungan, patogen dan kondisi udang. Parameter kualitas air seharusnya dimonitor setiap hari sebagai pedoman untuk manajemen kolam secara keseluruhan sehingga dapat menghindari efek negatif terhadap udang yang dipelihara. Data tersebut dapat digunakan untuk menganalisis jika permasalahan muncul dan sebagai dasar pertimbangan tindakan yang harus dilakukan. Semakin banyak data yang tersedia semakin mudah menganalisis permasalahan dan tindakan yang harus dilakukan. Sebagian besar variabel kualitas air saling mempengaruhi, seperti karbondioksida, oksigen terlarut, pH, fitoplankton, alkalinitas, limbah organik, amonia dan H2S.

Monitoring kualitas air sebaiknya dilakukan minimal dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Hasil monitoring tersebut dijadikan sebagai dasar dalam menentukan tindakan pengelolaan kualitas air misalnya, pada kondisi air pekat (salinitas tinggi dan kelimpahan plankton sangat tinggi) sebaiknya dilakukan pengenceran dengan memperbanyak pergantian air. Salinitas yang terlalu tinggi (melebihi batas normal) dapat menyebabkan pertumbuhan udang terhambat karena proses osmoregulasi terganggu. Apabila demikian, udang lebih banyak mengeluarkan energi untuk proses osmoregulasi dibandingkan untuk pertumbuhan. Osmoregulasi adalah proses pengaturan dan penyeimbangan tekanan osmosis antara dalam dan luar tubuh udang.

Budidaya udang mempunyai standar kualitas air tertentu agar dapat hidup dengan baik untuk mendukung kelangsungan hidup yang tinggi dan pertumbuhan yang optimal. Beberapa variabel kualitas air yang bersifat toksik diharapkan tidak terdeteksi di kolam atau berada dalam jumlah yang sangat kecil (< 0,01 mg/l) seperti nitrit dan hidrogen sulfida (H2S). Oksigen terlarut mempunyai batas minimal yang harus ada dalam ekosistem kolam (> 4 mg/l). Beberapa senyawa toksik masih ditolelir keberadaannya di dalam kolam dalam jumlah tertentu seperti total ammonia nitrogen dan karbondioksida. Karbondioksida dalam jumlah tertentu dibutuhkan oleh fitoplankton untuk fotosintesis, namun dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan keracunan bagi ikan. Beberapa variabel kualitas air berada dalam kisaran tertentu agar ikan/udang bisa tumbuh optimal.

Selasa, 29 Maret 2022

PERSIAPAN WADAH PEMELIHARAAN LARVA IKAN NILA

Pemeliharaan larva hasil pemijahan secara outdoor umumnya dilakukan di kolam pemijahan. Setelah memijah, induk betina dan jantan dipindahkan kembali ke kolam pemeliharaan induk. Setelah menetas, larva masih mepunyai cadangan makanan berupa kuning telur (yolk). Umur cadangan makanan tersebut berkisar 2 - 4 hari, tergantung jenis ikan. Kuning telur akan diserap habis dalam waktu antara 3 - 6 hari setelah menetas.

Fase penting dalam pemeliharaan larva ikan yaitu saat habisnya kuning telur sebagai cadangan makanannya. Saat kuning telur habis, larva akan mencari pakan yang sesuai dengan ukuran bukaan mulutnya. Jika pakan tersebut mudah ditemukan, pertumbuhan larva akan berlangsung dengan baik. Sebaliknya, larva akan mengalami kematian jika tidak tersedia pakan yang ukurannya sesuai dengan bukaan mulutnya.

Pada pembenihan di luar ruangan, penyediaan makanan untuk larva sudah dipersiapkan lewat penyediaan pakan alami melalui pemupukan dengan kotoran ayam. Ketersediaan pakan alami dalam jumlah terbanyak hendaknya tepat pada saat kuning telur ikan sudah terserap habis. Setelah 5 - 7 hari, larva mulai memakan pakan alami yang tersedia. Berkurangnya persediaan pakan ditandai dengan munculnya larva ikan di permukaan untuk mencari makanan. Jika demikian, berikan pakan tambahan berupa pelet atau tepung halus.

Pemberian pakan tambahan hendaknya merata ke seluruh area kolam. Hal ini untuk menjamin bahwa semua larva mempunyai kesempatan yang sama dalam mendapatkan makanannya sehingga tumbuh dengan baik dan mempunyai ukuran yang relatif seragam.

Tidak seperti pembenihan di luar ruangan (outdoor), pemeliharaan larva di dalam ruangan ini sangat tergantung pada ketersediaan pakan alami yang diberikan secara langsung kepada larva. Larva mulai dilatih untuk mengonsumsi pakan berupa artemia ataupun rebusan kuning telur yang diencerkan dengan air matang pada 2- 3 hari paska menetas (saat kuning telur masih tersedia). Tahapan ini dilakukan dalam waktu 3 - 4 hari.

Selanjutnya, larva mulai dilatih untuk mengonsumsi daphnia atau cacing rambut (tubifex). Agar bersih, tubifex perlu dicuci dengan larutan PK (kalium permanganat) dengan dosis 1 ppm selama 2 - 3 menit dan dibilas dengan air bersih sebelum diberikan pada larva. Pemberian pakan harus dilakukan secara bertahap dalam jumlah yang tidak terlampau banyak di awal pemberian. Setelah 5 - 7 hari, larva mulai dilatih untuk mengonsumsi pakan buatan berupa tepung pelet yang dibentuk sebagai pasta dengan air hangat. Pasta diletakkan pada tempat pakan berupa piring berlubang yang digantung dengan kedalaman 10 cm dari permukaan air.

Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam pemeliharaan larva agar angka mortalitas larva dapat ditekan seminimal mungkin, yaitu sebagai berikut:

Persiapan Wadah Pemeliharaan

Larva Ikan Nila

Persiapan wadah pemeliharaan larva merupakan hal yang harus dilakukan sebelum memulai pemeliharaan. Kegiatan persiapan tersebut melalui beberapa proses di antaranya pengeringan, pembersihan, perbaikan (wadah produksi, instalasi air, instalasi listrik, instalasi udara, serta saluranpembuangan), dan pengisian air. Penyiapan wadah pemeliharaan larva bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang optimal bagi larva sehingga bisa hidup, tumbuh dan berkembang, serta mengurangi serangan bakteri atau jamur. Wadah pemeliharaan larva harus sudah disiapkan 1 - 2 hari sebelum larva ditebarkan.

Persyaratan untuk pemeliharaan larva adalah air yang digunakan harus bersih dan jernih serta suhu air dan udaranya harus stabil dan tidak berfluktuasi. Sumber air bersih bisa berasal dari sumur pompa atau sumur gali. Untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air dan menguapkan gas-gas lain yang merugikan, sebelum digunakan sebagai media pemeliharaan, air diaerasi terlebih dahulu selama 1 - 2 hari atau dengan menampungnya terlebih dahulu dalam bak tandon air. Pada bak tandon tersebut juga dipasang aerasi dari blower atau aerator selama 24 jam.

Untuk mencegah timbulnya jamur dan bibit penyakit pada larva ikan, berikan larutan larutan methylene blue (MB) pada media pemeliharaan dengan takaran sesuai dengan aturan yang tercantum pada label kemasan. Perlakuan ini diberikan minimal 1 - 2 hari sebelum larva ikan dimasukkan.

Untuk menjaga suhu air tetap dalam kondisi stabil, lengkapi wadah pemeliharaan dengan heater atau sumber panas yang berasal dari pemanas ruangan berupa lampu listrik atau kompor. Persiapan selanjutnya adalah pemasangan instalasi penetasan. Pada tahapan ini, penggunaan aerasi dari blower atau aerator ke dalam wadah pemeliharaan diperlukan untuk menyuplai oksigen terlarut. Hal ini karena larva patin sangat peka terhadap kekurangan oksigen. Aerasi dipasang pada setiap bak atau wadah pemeliharaan larva. Tekanan aerasi dibuatsedemikian rupa agar tidak terlalu kencang sehingga larva tidak mudah stres. Untuk mengurangi goncangan akibat gelembung air yang terlalu besar, pada ujung selang aerator bisa ditempatkan sebuah batu aerasi. Selama pemeliharaan larva berlangsung, aerasi harus selalu dihidupkan.

Selasa, 01 Maret 2022

PENGELOLAAN INDUK IKAN NILA

Menyiapkan Calon Induk

Calon induk yang akan digunakan sebagai bakalan penghasil bibit ikan nila harus diperhatikan kualitasnya. Banyak induk ikan nila yang ada di masyarakat sudah menurun kualitasnya. Induk yang kualitas genetisnya kurang baik, jika dipijahkan akan menghasilkan keturunan yang jelek dan kualitas benihnya rendah. Karena itu sebaiknya menggunakan induk yang berasal dari institusi yang ditunjuk sebagai penyedia benih, misalnya balai penelitian perikanan.

Induk yang akan digunakan adalah induk yang siap memijah atau induk yang belum siap memijah. Jika menggunakan induk yang siap memijah, dana yang disediakan cukup besar karena harganya relatif mahal. Sebaliknya jika menggunakan bakalan induk, diperlukan waktu pemeliharaan untuk membesarkan bakalan induk hingga mencapai ukuran dan umur untuk siap memijah (matang kelamin).

Tanda-tanda induk nila berkualitas baik sebagai berikut :

- Kondisi sehat.

- Bentuk badan normal.

- Sisik besar dan tersusun rapi.

- Kepala relatif kecil jika dibandingkan dengan badan.

- Badan tebal dan berwarna mengkilap (tidak kusam).

- Gerakan lincah.

- Memiliki respon yang baik terhadap pakan tambahan.

Jumlah induk yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan sangat tergantung dari besar-kecilnya target produksi yang akan dicapai. Artinya semakin tinggi target produksi yang direncanakan, jumlah induk yang diperlukan juga semakin banyak. Ikan nila tergolong ikan yang memiliki jumlah telor yang relatif sedikit dalam sekali memijah, sehingga jumlah larva yang dihasilkan juga sedikit Induk ikan nila betina sudah matang kelamin pada umur 5 s.d 6 bulan dengan berat 200 s.d 250 gram mengandung telur 500 s.d 1000 butir. Dari jumlah telur tersebut bisa diperoleh larva 200 s.d 400 ekor larva. Meskipun jumlah telurnya sedikit namun ikan nila mempunyai frekuensi memijah yang rekatif sering . Hal ini dapat kita lihat dari rentang waktu antarpemijahan yang singkat, yaitu 3 s.d 6 minggu. Masa produktif ikan nila 1,5 s.d 2 tahun. Jika telah berumur diatas 2 tahun, induk harus sudah diganti dengan induk baru. Jika induk yang tua tetap dipijahkan biasanya kualitas benih yang dihasilkan akan menurun.

Induk Ikan Nila

Berikut ini adalah ciri-ciri induk nila jantan dan induk nila betina :

Ciri-ciri Induk Jantan

- Bentuk tubuh: Lebih rendah dan memanjang

- Warna tubuh: Lebih gelap

- Jumlah lubang kelamin: Satu lubang (untuk keluar seperma sekaligus urin)

- Bentuk kelamin: Tonjolan agak meruncing

Ciri-ciri Induk Betina

- Bentuk tubuh: Lebih tingi dan membulat

- Warna tubuh: Lebih cerah

- Jumlah lubang kelamin: Dua lubang: Untuk mengeluarkan telur dan untuk mengeluarkan urin.

- Bentuk kelamin: Tidak menonjol dan bentuk bulat

Memelihara Induk

Sebelum dipijahkan induk jantan dan induk betina dipelihara dalam kolam terpisah. Posisi kolam induk dibuat sedemikian rupa sehingga air buangan dari induk betina tidah mengalir ke kolam induk jantan atau sebaliknya. Jika tidak dibuat demikian, maka bau tubuh induk betina yang terbawa arus air ke kolam induk jantan maka akan merangsang induk jantan untuk memijah, sehingga terjadi pemijahan liar. Keuntungan pemisahan antara induk jantan dengan induk betina antara lain:

- Kualitas telur yang dihasilkan lebih baik.

- Mudah melakukan seleksi induk.

- Bisa dengan mudah untuk menyeleksi induk yang sudah dengan yang belum dipijahkan.

Untuk mendukung kondisi induk, diusahakan kondisi lingkungan tempat pemeliharaan induk dalam keadaan baik. Selain itu pemberian pakan tambahan harus mencukupi agar perkembangan gonade (telur dan seperma) optimal. Untuk menciptakan kondisi ini kolam pemeliharaan induk air harus mengalir dan pakan tambahan yang diberikan harus mencukupi, yaitu ± 3 % dari bobot total induk yang dipelihara, dengan kandungan protein tinggi yaitu diatas 35%.

Adapun langkah-langkah penetasan secara intensif sebagai berikut :

Pematangan gonad bertujuan untuk mempercepat perolehan telur yang berkwalitas agar berdaya tetas tinggi. Artinya, ketika terjadi pemijahan, telur yang dikeluarkan oleh induk nila adalah telur yang matang dan siap dibuahi. Pematangan gonad ini dilakukan didalam beton atau di dalam hapa. Jika menggunakan bak beton, sebaiknya dipilih yang berukuran 20-30 m2. Namun jika menggunakan hapa, ukuran panjang 6m lebar 4m dan tinggi 1m. Hapa dipasang di kolam yang cukup luas, sekitar 1000-2000m2 dengan kedalaman 1-1,5m. Pemasangan hapa dilakukan sedemikian rupa sehingga mudah dikontrol. Agar posisi hapa kokoh, sebaiknya setiap sudutnya diikatkan di tiang bambu.

Jumlah pemasangan hapa ada 6 buah (3 untuk induk jantan dan 3 untuk induk betina). Hapa pertama berisi induk yang sudah dipijahkan. Hapa kedua untuk induk yang hampir matang gonad dan hapa ketiga untuk hapa yang sudah matang gonad atau siap dipijahkan. Pada penebaran dalam hapa 5-10 ekor/m2. Pematangan gonad terjadi dalam 2 minggu dan harus didukung dengan pemberian pakan bergizi tinggi dengan dosisi 5% dari berat total induk/ hari. Selain itu, air kolam harus jernih dan selalu mengalir agar suplai oksigen induk terpenuhi.

Kamis, 24 Februari 2022

PENEBARAN DAN PEMBERIKAN PAKAN LARVA IKAN NILA

Agar tidak menyebabkan larva stres, prosesi penebaran larva harus dilakukan secara hati-hati, yakni dengan cara memperhatikan kondisi air serta kesesuaian pada air pemeliharaan. Pada saat penebaran larva, aerasi sebaiknya dikecilkan; ketinggian air pada bak pemeliharaan diupayakan 20-50 cm; dan padat penebaran optimal 30 ekor larva/I dan 50-60 ekor/I. Seiring dengan pertumbuhan larva menjadi benih, perlu dilakukan pemindahan dan penjarangan kepadatan. Idealnya, penebaran larva dilakukan setelah larva berumur minimal 5 jam dari penetasan dan larva yang ditebar harus sudah terbebas dari sisa telur yang tidak menetas.Bila wadah penetasan telur juga difungsikan sebagai wadah pemeliharaan larva, tidak perlu dilakukan pemindahan larva.

Padat penebaran benih ikan nila di kolam tanah yaitu 5-10 ekor/m2, dengan ukuran 8-12 cm dengan berat rata-rata ± 30 gram/ekor. Padat penebaran benih tergantung dari tingkat kesuburan kolam, namun padat tebat yang dianjurkan 5-10 ekor/m2. Benih yang ditebar sebaiknya berukuran yang sama yaitu berukuran 8-12 cm atau berat lebih kurang 20 gram per ekor.

Penebaran benih ikan nila dapat dilakukan dengan beberapa langkah di bawah ini.
1. Padat penebaran sebaiknya 3 kg/m3 atau 30-40 ekor/m3 dengan ukuran 75-100 gram/ekor.
2. Sebaiknya benih yang akan ditebar, direndam dengan menggunakan garam grosok dengan dosis 5 gram/10 liter air selama 15 – 30 menit untuk sterilisasi.
3. Sebelum dilakukan penebaran benih perlu dilakukan penyesuaian suhu agar benih tidak stress (aklimatisasi).

Penebaran benih dapat dilakukan dengan cara :
1. Sebelum ditebar (jika diperlukan) benih disuci hamakan dengan direndam dalam larutan garam grosok sebanyak 5 gram/10 liter air dalam waktu 15-30 menit.
2. Adaptasi suhu, agar suhu air didalam kemasan ikan sama dengan suhu air di kolam, yaitu dengan cara wadah/kemasan benih direndam didalam air selama beberapa waktu sebelum ditebar kedalam wadah.
3. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada waktu pagi atau sore hari.
4. Benih ikan berukuran 20 gram/ekor dengan padat tebar 100 ekor/m2 atau 50 gram/ekor dengan padat tebar 20 ekor/m2.

Larva ikan nila akan berkembang menjadi benih yang telah kehabisan kuning telur makanan cadangan. Sebagai pengganti makanan cadangan tersebut maka perlu diberikan makanan tambahan. Makanan tambahan ini berupa tepung halus.Makanan ini terbuat dari campuran tepung ikan, minyak ikan, mineral, dan vitamin. 

Selain makanan alami yang tersedia dikolam diberikan makanan tambahan pakan (pelet) dengan kandungan protein minimal 25 %, dengan frekuensi pemberian pakan 2-3 kali sehari yaitu : pagi, siang dan sore hari. Jumlah pakan yang diberikan 3-5 % dari berat biomas ikan perhari.

Pakan tambahan yang harus diberikan harus berprotein tinggi minimal 25 %.Pakan tambahan yang berprotein tinggi adalah pellet, baik berupa tepung maupun butiran. Walaupun kandungan protein tidak seperti pellet, namun dedak halus sangat disukai oleh ikan nila.

Pakan tambahan untuk benih gelondongan besar berupa pellet besar dengan kadar protein 25 %. Benih-benih yang masih kecil pakan tambahannya hanya sedikit, yang utama adalah pakan alami. Kalau pakan tambahan lebih diutamakan untuk benih yang masih kecil mengakibatkan pertumbuhannya lambat dan banyak kematian.

Selasa, 01 Februari 2022

MACAM WADAH PEMELIHARAAN LARVA IKAN NILA

Pemeliharaan larva ikan umumnya dilakukan di bak fiberglass, akuarium, dan bak terpal plastik. Wadah pemeliharaan larva ikan tersebut ditempatkan dalam ruangan yang terlindungi seperti di hatchery atau ruangan sederhana yang tertutup rapat sehingga bisa mencegah gangguan dari lingkungan luar seperti perubahan suhu, cuaca, curah hujan, angin, dan hama predator.

Pemeliharaan larva ikan dilakukan selama 21-30 hari atau jika benih ikan telah mencapai ukuran 3/4 - 1 inci/ekor. Benih ikan yang telah mencapai ukuran 1 inci selanjutnya didederkan ke kolam atau bak yang lebih luas.

Pemeliharaan larva di bak fiberglass

Fiberglass yang umum dipakai untuk pemeliharaan larva/benih ikan berukuran panjang 2 m, lebar 1 m, dan tinggi 0,5 m atau bak fiberglass bulat berdiameter 1,5 m. Bentuk bak fiberglass ada yang bulat/oval atau empat persegi. Untuk jumlah larva ikan sebanyak 200.000 ekor, diperlukan bak fiberglass sebanyak 12 buah. Tinggi air pada bak pemeliharaan berkisar 30-40 cm.

Bak Fiberglass

Bak fiberglass bisa diperoleh dengan membeli di toko akuarium atau di toko alat-alat perikanan. Bak fiberglass tergolong praktis dan mudah dalam pengelolaannya dan bisa dipindah-pindahkan. Namun, harga sebuah bak fiberglass masih terbilang mahal.

Seperti halnya di akuarium, pemeliharaan larva di bak fiberglass juga ditempatkan di dalam ruangan yang tertutup rapat dan terlindung. Tujuannya untuk mempertahankan suhu air dan suhu ruangan tetap stabil. Pada bak fiberglass juga dilengkapi dengan beberapa titik aerasi dan heater.

Pemeliharaan larva di akuarium

Selain berfungsi sebagai tempat penetasan telur, akuarium juga berfungsi sebagai tempat pemeliharaan larva sampai larva berkembang menjadi benih dengan ukuran tertentu atau berukuran 3/4-1 inci/ekor. Akuarium yang umum digunakan untuk pemeliharaan larva ikan antara lain berukuran panjang 80-100 m, lebar 40-60 cm, dan tinggi 40 cm. Akuarium ukuran tersebut dapat diisi dengan larva ikan sebanyak 5.000 ekor.

Akuarium sebagai tempat penetasan telur dan pemeliharaan larva

Untuk larva sebanyak 200.000 ekor, diperlukan akuarium sebanyak 40 buah. Namun, jumlah akuarium yang dibutuhkan tergantung dari larva yang akan dipelihara.

Akuarium-akuarium tersebut disusun dan diletakan pada rak-rak yang dibuat dari besi atau kayu. Setiap akuarium dilapisi dengan styrofoam atau gabus yang berfungsi untuk mencegah retak dan pecahnya akuarium. Jumlah akuarium yang dibutuhkan disesuaikan dengan jumlah telur dan larva yang akan dipelihara. Setelah menetas menjadi larva, benih tersebut kemudian dijarangkan menjadi beberapa akuarium. Pada setiap akuarium dilengkapi dengan beberapa titik aerasi dan heater.

Pemeliharaan larva di bak semen

Bak pemeliharaan untuk larva ikan dapat terbuat dari bak semen. Pemeliharaan larva ikan di bak semen hendaknya dilakukan setelah benih mulai makan cacing sutera atau sekitar umur 10 hari dari penetasan. Jika pemeliharaan larva dilakukan setelah larva menetas (umur 1 hari) tingkat kematian atau mortalitas benih sangat tinggi.

Bak semen untuk pemeliharaan larva ikan tersebut hendaknya ditempatkan di dalam ruangan tertutup dan terlindung. Tujuannya untuk mempertahankan suhu air dan ruangan tetap stabil. Jika pemeliharaan larva berada di ruang terbuka, maka pada wadah pemeliharaan tersebut di atas dan dindingnya diberi penutup atau pelindung berupa tutup plastik agar suhu di dalam wadah pemeliharaan tetap stabil. Pada bak semen tersebut dilengkapi dengan beberapa titik aerasi dan pemanas air (heater).

Bak semen yang umum digunakan untuk pemeliharaan larva ikan berukuran lebar 1 m, panjang 2-4 meter dan tinggi 0,8 m. Bak pemeliharaan dilengkapi dengan saluran pemasukan atau pengeluaran yang terbuat dari pipa paralon. Fungsi kedua seluran tersebut adalah untuk memudahkan pengeringan dan pengisian air. Tinggi air pada bak pemeliharaan larva ikan dapat diatur mulai dari 20-50 cm. Pemeliharaan larva ikan di bak semen dilakukan sampai dengan benih ukuran 3/4-1 inci/ekor. Setelah benih mencapai ukuran tersebut, benih dipindahkan ke kolam pendederan yang lebih luas.

Pemeliharaan larva di bak terpal plastik

Terpal plastik bisa dijadikan sebagai alternatif tempat pemeliharaan larva ikan. Metode pemeliharaan pada terpal sudah banyak dipakai oleh para pembudidaya patin karena praktis dalam pengelolaannya dan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi.

Bak terpal plastik yang umum digunakan untuk pemeliharaan larva ikan berukuran 2 m x 1 m x 0,5 m. Pembuatan bak terpal adalah dengan membuat rangka bak dari bahan kayu, kemudian sebagai dasar bak serta sisi-sisi dinding bak digunakan plastik terpal. Bak terpal plastik untuk pemeliharaan larva, ditempatkan dalam ruangan yang tertutup rapat dan terlindung seperti di hatchery.

Padat penebaran larva di bak terpal plastik adalah 40 ekor/l. Untuk jumlah larva ikan sebanyak 200.000 ekor, diperlukan bak terpal plastik sebanyak 12-14 buah. Waktu pemeliharaan larva ikan di dalam bak terpal plastik yaitu 21-30 hari atau jika benih ikan telah mencapai ukuran 3/4-1 inci/ekor. Selanjutnya, benih dipindahkan atau didederkan lebih lanjut ke kolam lain yang lebih luas.

Kamis, 27 Januari 2022

PENDEDERAN IKAN NILA

Pendederan adalah suatu kegiatan pemeliharaan benih ikan setelah periode larva sampai dihasilkan ukuran benih tertentu yang siap didederkan kembali atau siap ditebarkan di kolam pembesaran. Pendederan juga menjadi tahapan yang tepat untuk menyeleksi benih-benih unggul.

Pendederan benih ikan dimulai dari benih ukuran 3/4-1 inci (umur 21-30 hari) dari hasil pembenihan. Namun umumnya pembudidaya ikan mulai melakukan pendederan dari benih yang berukuran 1 inci/ekor.

Tahapan Pendederan Benih Ikan

Pendederan benih ikan nila dilakukan dalam 2 tahap, yaitu tahap pertama dan tahap kedua. Pada pendederan tahap pertama, pemeliharaan benih dilakukan hingga benih mencapai ukuran 2 - 3 inci/ekor, yakni selama 1 bulan pemeliharaan. Sedangkan pada pendederan tahap kedua, pemeliharaan dilakukan pada benih hasil pendederan pertama (ukuran 2 inci/ekor) hingga ukuran benih mencapa 3 - 4 inci/ekor, yakni selama 1 bulan pemeliharaan. Selanjutnya, benih ukuran 3 - 4 inci tersebut pun siap untuk ditebarkan di kolam pembesaran.

Kolam Pendederan

Pendederan benih ikan dapat dilakukan di kolam tanah, kolam semen, dan bak terpal plastik. Luas kolam untuk pendederan benih sebaiknya jangan terlalu luas untuk memudahkan pengelolaan dan pengawasan selama pemeliharaan. Kolam pendederan idealnya berbentuk empat persegi panjang serta mempunyai saluran pemasukan dan pengeluaran air. Pada bagian tengah dasar kolam dilengkapi dengan saluran tengah atau kemalir yang berfungsi untuk memudahkan penangkapan ikan saat dipanen.

1. Pendederan di kolam tanah

Secara teknis, pendederan di kolam tanah lebih sederhana dengan investasi yang lebih rendah. Petakan kolam budidaya umumnya berbentuk empat persegi panjang. Pada kolam tanah, jenis tanah untuk kolam pendederan menjadi faktor utama. Dasar dan dinding kolam harus kedap air dan kuat menahan air kolam secara permanen dan tanah dipilih yang tidak porous (dapat menahan air), berstruktur kuat, dan tidak berbatu. Jenis tanah yang baik untuk dijadikan kolam adalah tanah liat atau lempung. Secara umum, patin lebih menyukai kolam yang bersifat alami sehingga sebaiknya dasar kolam tetap dari tanah. Sedangkan untuk pematang dapat dibuat dari tanah atau semen/tembok.

Kolam pemeliharaan umumnya berukuran 50-500 m2 per kolam. Pada budidaya ikan secara intensif, luas kolam dianjurkan jangan terlalu luas karena akan mempersulit ketika melakukan pengelolaan air dan pengawasan hama penyakit. Luas kolam sebaiknya disesuaikan dengan lokasi, ketersediaan lahan, dan suplai air.

Ketinggian air dari dasar kolam dapat diatur, mulai dari ketinggian 50-80 cm atau tergantung dari ukuran benih dan padat penebaran. Jika benih ikan yang dipelihara masih berukuran kecil, kedalaman air kolam cukup 40 - 50 cm. Semakin besar ukuran ikan dan padat populasinya, ketinggian air harus ditambah sampai ketinggiannya optimal (kira-kira 80 cm). 

Tiap petakan kolam mempunyai pintu pemasukan (inlet) dan pintu pengeluaran (outlet) yang terpisah untuk keperluan penggantian air, penyiapan kolam sebelum ditebari benih, dan pemanenan. Dasar kolam dibuat miring antara 3-5% ke arah pintu pembuangan air atau kemalir.

Pada dasar kolam dibuat kemalir, yaitu saluran air tengah dengan ukuran lebar 50-100 cm dan kedalaman antara 30-50 m dari pelataran kolam. Posisi kemalir melintang dari pintu pemasukan ke arah pintu pengeluaran. Dasar kemalir sedikit miring ke arah pembuangan untuk memudahkan pengeringan air dan pengumpulan patin pada waktu panen. Selain untuk mempermudah penangkapan ikan pada waktu panen, kemalir berfungsi sebagai tempat berteduh bagi ikan pada siang hari karena air yang dalam itu menyebabkan suhu di dasar kemalir tetap dingin.

2. Pendederan di kolam semen

Kolam pendederan untuk benih patin bisa terbuat dari tembok yang disemen. Kolam pemeliharaan dapat dibuat dari semen seluruhnya dengan dasar kolam diberi pasir atau dindingnya saja dari tembok, sedangkan dasarnya masih tanah. Kolam pemeliharaan umumnya berukuran 20-200 m2 per kolam. Maksudnya agar pengelolaan air dan pengawasannya lebih mudah.

Ketinggian air dari dasar kolam bisa diatur, mulai dari ketinggian 50-80 cm atau tergantung dari ukuran benih dan padat penebaran. Jika patin yang dipelihara masih berukuran kecil, kedalaman air kolam cukup 40-50 cm. Namun, semakin besar ukuran ikan dan padat populasinya, ketinggian air harus ditambah sampai ketinggian optimal (sekitar 80 cm). Tiap petakan kolam memiliki pintu pemasukan (inlet) dan pintu pengeluaran (outlet) yang terpisah yang dibutuhkan untuk beberapa kegiatan seperti penggantian air, penyiapan kolam sebelum ditebari benih, dan pemanenan. Dasar kolam idealnya dibuat miring antara 3 - 5 % ke arah pintu pembuangan air atau kemalir.

Seperti halnya di kolam tanah, pada kolam semen juga harus dilengkapi dengan kemalir, yaitu saluran air tengah kolam yang berukuran lebar 5 0 - 8 0 cm dengan kedalaman 3 0 - 5 0 m dari pelataran kolam. Posisi kemalir dibuat melintang dari pintu pemasukan ke arah pintu pengeluaran. Oleh karena disesuaikan dengan dasar kolam, dasar kemalir juga dibuat sedikit miring, yakni ke arah pembuangan. Hal ini untuk memudahkan pengeringan air dan pengumpulan patin ketika panen. Selain itu, kemalir berfungsi sebagai tempat berteduh bagi ikan pada siang hari karena air yang berada di bagian dalam kemalir suhunya tetap dingin.

Pintu pemasukan dan pengeluaran air pada kolam semen bisa terbuat pipa paralon PVC (ukuran 2-4 inci) yang disusun sebagai sistem pipa goyang atau sistem sipon. Sistem ini sudah umum diaplikasikan pada usaha pendederan patin secara intensif dan modern. Melalui sistem ini, penggantian air, pembuangan kotoran, serta sisa-sisa pakan di dasar kolam diharapkan akan menjadi lebih mudah.

Pemasangan pipa paralon dan keni dibuat rata dengan dasar kemalir dan dengan tanah di luar kolam. Ujung pipa paralon yang terdapat di dalam petakan kolam perlu dibungkus dengan kawat kasa sebagai saringan. Tujuannya agar patin tidak lolos melalui lubang paralon ketika air diganti atau ketika ikan dipanen.

3. Pendederan di kolam terpal plastik

Penggunaan kolam terpal untuk pemeliharaan ikan nila merupakan salah satu alternatif wadah pendederan yang sering digunakan oleh para pembudidaya ikan nila. Terpal yang digunakan harus berupa plastik kualitas nomor satu, yakni memiliki ketebalan A5 atau A6 dengan ukuran lebar 6-8 m dan panjang 8-12 m. Ukuran tersebut dapat menghasilkan sebuah kolam terpal dengan ukuran lebar 4-6 m, panjang 6-10 m, dan tinggi sekitar 1 m.

4. Pendederan di KJA

Pendederan Nila di KJA

Pendederan di Keramba Jaring Apung (KJA) bertujuan untuk efisiensi penggunaan lahan. Pendederan di KJA bisa dilakukan di KJA yang berukuran 7 x 7 x 1,1 m (54 m2) dibuat dari jaring yang mata jaringnya berukuran kecil (waring). KJA ditempatkan di dalam waduk atau danau. Penebaran ikan nila di KJA dapat dilakukan dengan kepadatan yang tinggi tetapi kondisi air di danau atau waduk baik. Pendederan dilakukan untuk menjaga ketersediaan benih tepat waktu untuk pembesaran di KJA. Dengan demikian, tingkat kelangsungan hidup selama pembesaran di KJA lebih tinggi dibandingkan benih hasil pendederan yang dilakukan di kolam atau sawah. Perbedaan yang mendasar yang membedakan pendederan di KJA dan pendederan II di kolam adalah padat tebar bisa ditingkatkan menjadi 185 ekor/m3 atau 10.000 ekor/petak. Pemeliharaan di KJA pada umunya dilakukan lebih lama yakni 3 bulan dengan ukuran tebar minimal 15 gram/ekor. Dengan demikian, ukuran panennya akan lebih besar, yakni 30-50 gram/ekor. Ukuran tersebut cukup ideal untuk pembesaran lebih lanjut di KJA untuk diperoleh hasil panen ukuran ekspor yakni 500-600 gram/ekor.

Tingkat kelangsungan hidup pada pendederan relatif tinggi, yakni sekitar 70%. Pada pendederan di KJA, pakan tambahan mutlak diberikan karena jumlah pakan alami di dalam danau atau waduk relatif sedikit. Pakan tambahan yang diberikan berupa pelet. Frekwensi pemberiaan pakan dilakukan 3 kali sehari sebanyak 3% dari berat total ikan yang dipelihara. Untuk mengetahui berat ikan yang dipelihara, secara periodik setiap satu minggu dilakukan sampling sehingga jumlah pakan yang diberikan tepat dan dapat dimanfaatkan secara optimal. Pemanenan di KJA lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan pemanenan di sawah, kolam, dan tambak karena tidak perlu mengeringkan air, tetapi cukup menarik jaring ke atas permukaan dan ikan terlihat ditangkap dengan menggunakan seser. Cara lain yang dapat diterapkan adalah menggiring ikan ke salah satu sudut jaring ikan terkumpul dan menangkapnya. Ikan yang sudah ditangkap selanjutnya dimasukan di dalam ember atau hapa yang berukuran kecil, kemudian ditebar ke KJA k usus pembesaran (Khairuman dan Amri, 2003).