Senin, 12 Juli 2021

PENYAKIT IKAN GURAMI DAN CARA PENGENDALIANNYA

Ikan Gurami Terserang Penyakit
     Penyakit Mata Belo 

Penyakit mata belo disebabkan oleh cacing biasanya menyerang bagian insang dan kulit. Gejala yang terlihat oleh serangan penyakit ini adalah ikan terlihat lemah, mengambang di permukaan, tidak mau makan, dan warna kulit berubah menjadi pucat.

Penyakit mata belo diakibatkan oleh kualitas air yang tidak baik, wadah terlalu sempit sementara padat tebar yang terlalu banyak, kurangnya suplai cahaya matahari dan oksigen, dan suhu kolam yang terlalu rendah. Gurami menyukai air yang hangat yang terkena sinar matahari langsung, agar kondisi air stabil dan oksigen tersedia perlu ditambahkan sirkulasi air dengan menggunakan pompa atau aerator.

Padat tebar gurami idealnya 20 ekor/m3. Jika padat tebar terlalu tinggi maka akan rentan terkena berbagai macam penyakit dan penyakit mata belo ini penyebarannya sangat cepat melalui media air. Jika melihat gurami dengan ciri-ciri yang disebutkan di atas segera ikan diambil sebelum menularkan penyakit pada ikan lainnya.

Pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengobati mata belo ialah dengan memberikan garam dapur ke dalam kolam sebanyak 200 - 300 gr/m3 air di pagi hari dan menghentikan sirkulasi air selama 24 jam kemudian esok harinya diganti dengan air baru atau dapat juga menggunakan formalin yang dimasukkan kedalam kolam ikan dengan dosis 40 mg/m3 air diamkan selama 24 jam, kemudian ganti air keesokan harinya.

Penyakit Jamuran 

Penyakit jamur umumnya disebabkan oleh kualitas air yang buruk dan kurangnya kolam terkena sinar matahari langsung. Penyakit jamur akan sangat sulit dikendalikan bila sudah terserang apalagi terkena serangan berat dapat menyebabkan 70% ikan akan mati. Selain itu penyakit jamur termasuk penyakit yang tergolong sangat cepat menular pada ikan lainnya. Penularan dapat terjadi melalui kontak fisik langsung dan media air kolam.

Penyakit jamur disebabkan oleh jamur dari jenis Saprolegnia dan Achyla, gejala dapat dilihat dari sisik yang berubah warna, seperti ada benang-benang putih di sekujur tubuh, kehilangan nafsu makan, ikan terlihat lemas, dan sering mengapung pada permukaan kolam.

Pengendalian dapat dilakukan dengan cara mengambil ikan yang terkena penyakit dan memasukkan dalam wadah yang telah diberi garam dengan dosis 400 gr/m3 diamkan selama 24 jam, kemudian air diganti dengan yang baru. Lakukan pengobatan tersebut sampai ikan benar sehat dan tidak ada lagi terlihat jamur pada permukaan kulit.

Penyakit TBC

Penyebab dari penyakit ini adalah suhu kolam yang terlalu dingin, kurangnya oksigen, perubahan suhu yang ekstream, dan gas amonia dari sisa pakan dan kotoran. Bukan tidak mungkin jika keadaan kolam seperti di atas tingkat kematian gurami dapat mencapai angka di atas 80%. Kualitas air kolam yang tidak baik dan cuaca ekstream menyebabkan ikan gurami mudah stress dan keadaan kolam yang seperti ini sangat dimanfaatkan bakteri Mycobacterium sp untuk berkembang biak. 

Seperti yang diketahui penyakit TBC disebabkan oleh bakteri Myobacterium sp terutama dari bakteri jenis fortuitum. Gejala yang paling sering terlihat ialah nafsu makan yang menurun drastis, kulit terlihat gelap, dan terlihat bercak merah. Serangan berat dapat mengakibatkan benjolan-benjolan kecil pada tubuh ikan dan perut ikan juga terlihat ikut membengkak.

Penyakit TBC pada gurami termasuk penyakit mematikan dan sulit untuk diobati, namun jika melihat gejala-gejala awal yang ditimbulkan bisa saja ikan ini diobati dengan cara memisahkannya dari yang sehat, kemudian diberi perlakuan khusus dengan memberikan larutan antibiotik 10 mg - 20 mg/kg ikan. Penyakit ini membutuhkan waktu yang lama sekitar 6 bulan untuk dapat disembuhkan.

Penyakit Kutu Ikan 

Penyakit kutu ikan disebabkan oleh parasit jenis Argulus indicus yang berupa seperti udang renik. Parasit ini menempel pada tubuh ikan dan menghisap darah dan cairan pada ikan gurami. Penyakit ini dapat menular melalui kontak langsung dan biasanya parasit ini muncul akibat kualitas air yang buruk. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara merendam ikan yang sakit pada air yang sudah diberi garam dengan dosis 20 gr/m3 selama 20 s/d 30 menit.

Penyakit pada Insang 

Penyakit yang paling sering terlihat pada insang ialah penyakit myxsosporeasis yang disebabkan oleh parasit Henneguya sp dan Thellohanelus. Penyakit ini rentan terjadi pada benih ikan berumur 1-2 bulan, gejala yang terlihat terjadi pembengkakan pada bagian insang dan badan ikan. Biasanya penyakit ini disebabkan oleh kualitas air yang buruk, kadar oksigen yang rendah dan padat tebar terlalu tinggi.

Untuk sementara ini belum ada antibiotik yang benar-benar efektif untuk mengendalikan parasit jenis ini. Cara yang biasa dilakukan ialah dengan mengambil ikan yang sakit dan merendam dalam larutan yang berisi formalin dengan dosis 20 mg/m3.

Penyakit pada Sirip Ikan 

Penyakit ini biasa disebut columnaris yang disebabkan oleh parasit Flexybacter columnaris menyerang bagian sirip dan insang ikan. Gejala yang tampak terlihat dari serangan bakteri ini ialah insang terkelupas, sirip rontok, nafsu makan menurun, dan pergerakan ikan menjadi lambat.

Penyakit ini biasa disebabkan oleh suhu yang tidak stabil, kandungan oksigen yang rendah pada air kolam, dan kondisi air kolam yang tidak baik, bisa juga dari peralatan kolam yang tidak steril. Oleh karena itu peralatan yang digunakan dapat disterilkan dulu dengan menggunakan larutan alkohol dan untuk pengobatan dapat menggunakan baytril 8-10 ppm direndam selama 24 jam.

KESIMPULAN 

Faktor kualitas air dan ketersediaan oksigen dalam kolam menjadi hal yang paling utama agar gurami terhindar dari berbagai macam penyakit yang dapat mengakibatkan kematian pada gurami. Selain itu pastikan padat tebar kolam tidak terlalu tinggi maksimal 20 ekor/m3. Sirkulasi air menjadi sangat penting jika ingin membudidayakan ikan gurami. Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Mengobati penyakit pada ikan membutuhkan banyak biaya dan memperpanjang waktu budidaya.

Selasa, 06 Juli 2021

PEMIJAHAN IKAN DISKUS

Merawat Calon Induk

Untuk akuarium dengan ukuran 80 x 40 cm dapat diisi calon induk sebanyak 24 ekor diskus yang menginjak remaja. Kriteria calon induk ikan diskus yang baik yaitu: calon induk harus sehat, sisik tersusun rapi, sirip tidak cacat ditunjang dengan bentuk yang bulat. Gerakannya wajar, tidak menyentak-nyentak ataupun terlalu lamban. Mata menonjol wajar, tidak melotot. Pilih diskus yang paling bongsor.

Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari dengan cacing sutra ataupun jentik-jentik nyamuk. Makanan alami yang masih hidup ini harus dibersihkan dahulu sebelum diberikan kepada diskus. Hal ini dilakukan untuk menghindari bibit penyakit. Selain itu akuarium perlu dibersihkan 3 hari sekali untuk membuang sisa makanan dan kotoran yaitu dengan cara cukup disifon dengan menggunakan selang

Akuarium pemeliharaan ini sebaiknya dilengkapi dengan filter sudut, selain dengan aerator yang secara rutin mengeluarkan gelembung udara. Untuk mengetahui suhu air setiap saat dipasang thermometer, sehingga dapat diambil langkah pencegahan sedini mungkin jika terjadinya kenaikan suhu maupun penurunan suhu secara drastis.

Seleksi Induk

Membedakan kelamin diskus dapat dilihat dari bentuk mulut dan hidung. Pada diskus dewasa, betina mempunyai bibir yang simetris, sama besar antara bibir atas dan bibir bawah. Sedangkan jantan, bibir atasnya lebih menonjol. Jika melihat hidungnya, maka jantan mempunyai bentuk hidung agak bengkok, dan ujung sirip punggungnya meruncing.

Jika dilihat warna badan, maka akan terbukti induk jantan mempunyai badan yang lebih berwarna-warni dibandingkan dengan yang betina. Selain itu warnanya menyebar ke seluruh tubuh, ini dapat dibuktikan terutama pada Green Diskus. Betina Green Diskus mempunyai sedikit warna pada wajah dan badannya sedangkan jantan berwarna cerah seluruhnya.

Melihat gerakannya, rata-rata jantan mempunyai gerakan reflek lebih dominan dibandingkan dengan betina. Ini akan terlihat dari responnya menerima makanan. Jika diberikan makanan ke dalam akuarium, jantan akan menunjukan ketangkasannya dengan mencapai makanan lebih dulu.           

Cara yang di anggap paling tepat untuk membedakan jantan dan betina dengan cara melihat langsung alat reproduksi masing-masing induk. Karena alat kelamin ini tidak besar, cara satu-satunya dengan menggunakan kaca pembesar. Ikan jantan mempunyai alat kelamin agak runcing, sedangkan yang betina berbentuk lebar dan bulat. Di dalam akuarium pemeliharaan biasanya mereka akan memilih sendiri pasangannya lalu memisahkan diri dari kelompoknya. Pasangan inilah yang diambil untuk dijadikan induk.

Induk yang Sudah Berpasangan

Antara spesies yang satu dengan lainnya, waktu yang di perlukan untuk mencapai kematangan kelamin tidak sama. Brown misalnya, memerlukan paling sedikit 12 bulan sebelum bertelur. Lain dengan Blue Green yang rata-rata membutuhkan waktu 18 bulan. Sedangkan Red membutuhkan waktu antara 15-20 bulan sebelum mau bertelur. Silangan diskus dari berbagai spesies rata-rata membutuhkan waktu 18 bulan.

Untuk menjamin ketersediaan oksigen dan menguapkan karbondioksida ke dalam akuarium dimasukkan aerator. Selain itu juga diberikan heater untuk menjaga kestabilan suhu yang dikehendaki. Sebaiknya heater ini dipasang pada sisi belakang akuarium jangan sampai mengganggu gerakan dan penglihatan diskus. Dan jangan lupa memasang thermometer di dalam akuarium guna untuk memudahkan dalam pengecekan suhu.

Lokasi Akuarium

Carilah tempat yang tenang, namun menerima cahaya cukup dan sirkulasi udara lancar. Hindarkan penempatan akuarium di tempat yang banyak dilewati orang. Kebiasaan melempar segala macam makanan ke dalam akuarium sebaiknya ditinggalkan. Gerakan yang mengagetkan apalagi dilakukan dengan cepat akan membuat diskus ketakutan.

Proses Pemijahan

Induk Ikan Diskus yang sudah berpasangan dipisahkan dan ditempatkan dalam aquarium pemijahan. Dalam 3-10 hari kemudian biasanya proses perkawinan mulai berlangsung. Pasangan induk diskus saling berenang mengitari pasangannya, pada saat tersebut warna diskus akan terlihat sangat intens, sirip-sirip mengembang penuh dan matanya terlihat berbinar, kemudian mereka akan menentukan tempat bertelur berupa pipa PVC. Sebelum proses perkawinan berlangsung biasanya induk diskus secara bersama akan membersihkan substrat (tempat menempelnya telur). Setelah itu pasangan diskus akan mulai meletakkan telurnya, setelah telur pertama diletakkan, diskus jantan akan membuahinya selama beberapa jam, induk yang dipersiapkan dengan baik, rata-rata akan menghasilkan 100-200 butir telur. Terkadang mencapai 300-400 butir, tetapi ada juga yang hanya menghasilkan 50-75 butir.

Induk Diskus Meletakkan Telur

Setelah proses pemijahan berakhir, pasangan diskus akan menunggui telurnya, mereka akan mengipasi telur tersebut dengan sirip dada, untuk mencegah adanya kotoran atau spora jamur yang melekat. Selama menjaga telurnya, induk tetap harus diberi pakan dan kondisi aquarium harus terlihat bersih. Dalam waktu 6 hari sejak proses pemijahan selesai, telur akan menetas menjadi larva-larva kecil, yang kemudian akan berkembang menjadi diskus dewasa. Induk diskus dapat dipijahkan kembali setelah satu bulan. Jika telur dipisahkan induk diskus dapat bertelur dalam sebulan 5-6 kali.

Pemeliharaan Larva

Untuk mendapatkan benih diskus yang berkualitas baik, harus diperhatikan cara penetasan telur dan perawatan larva. Ikan diskus tidak sepenuhnya dapat mengasuh anaknya, ada diskus yang tidak dapat mengasuh anaknya. Hal ini sulit untuk diketahui penyebab utamanya, untuk itu dalam pemeliharaan larvanya diterapkan tiga cara dalam pemeliharaan larva diskus diantaranya adalah:

a. Pemeliharaan larva secara alami

Telur yang dijaga oleh induknya pada saat penetasan. Dua hari setelah menetas larva diskus sudah dapat bergerak meskipun belum terarah. Larva diskus akan menempel pada induk untuk memakan lendir yang dihasilkan induknya hal ini berlangsung selama lima sampai tujuh hari. Kemudian setelah berumur satu minggu mulai diberi makanan hidup berupa naupli Artemia sampai diskus bisa memakan kutu air baru dihentikan dan diganti dengan pemberian cacing darah sampai ikan dewasa atau berumur 1 bulan.

b. Pemeliharaan Larva dengan Inang asuh

Penetasan telur secara buatan dilakukan dengan cara telur dipisahkan dari induknya kemudian telur akan menetas 2 - 3 hari, setelah larva berumur dua hari larva dipindahkan dari akuarium penetasan dengan cara disifon. Ambil ± 5 ekor larva kemudian masukkan kedalam akuarium induk yang sedang mengasuh anaknya yang ukurannya hampir sama dengan larva yang akan dimasukkan. Apabila setelah tiga menit larva tidak dimakan oleh induk tersebut dan dapat menempel pada tubuhnya, maka larva yang lain dapat dimasukkan kedalam akuarium tersebut.

Induk Diskus Merawat Larva

c. Pemeliharaan larva secara buatan

Larva yang sudah dapat berenang dipindahkan ke dalam baskom plastik dengan cara disifon, secara perlahan-lahan larva yang ada di baskom dimasukkan kedalam akuarium pemeliharaan larva. Pada tahap awal, makanan yang diberikan adalah kuning telur yang sudah direbus dicampur dengan Rotifera yang sudah dikeringkan, bila akan diberikan pada larva harus dicampur terlebih dahulu dengan putih telur agar makanan tersebut lebih lama menempel pada pinggir media pemeliharaan. Makanan diberikan 12 kali sehari atau dilakukan setiap tiga jam sekali selama 2 – 3 hari, hingga larva bisa diberi makan Artemia sampai diskus bisa memakan kutu air baru dihentikan dan diganti dengan pemberian cacing darah sampai ikan dewasa atau berumur 1 bulan dengan ukuran 1-1,5 inci.

Larva Dirawat tanpa Induk

Senin, 05 Juli 2021

MENGENAL IKAN DISKUS

Salah satu jenis ikan hias air tawar yang memiliki peluang yang cukup cerah dan banyak digemari konsumen adalah ikan Diskus. Diskus (Symphysodon diskus) yang dijuluki raja ikan hias air tawar dan banyak para hobiis memberi julukan “The King Of Akuarium”. Ikan diskus bukan asli ikan Indonesia, aslinya ikan ini berasal dari sungai Amazon, Brazil yang terkenal kaya akan beragam species tumbuhan dan binatang dan Rio Negro, Peru, dan Columbia. Dulunya di negara tersebut dikonsumsi sebagai pangan seperti layaknya ikan-ikan lain.

Diskus adalah salah satu ikan hias air tawar yang banyak peminatnya. Ikan ini mempunyai bentuk tubuh pipih dan agak membundar seperti cakram, mempunyai warna dasar tubuh yang menarik dengan garis-garis berombak beraneka ragam tak teratur mulai dari dahi sampai ke samping perut, selain itu terdapat garis-garis hitam vertical yang berjajar dari mata sampai ke pangkal ekor. Diskus termasuk ikan bertubuh cantik dan mampu menyaingi corak dan warna ikan laut. Di kalangan pembudidaya ikan hias, ia dikenal sebagai penyabar yang suka mengalah, damai adalah kesukaannya. Itulah alasannya mengapa lebih senang dipelihara tersendiri. Jenisnya bermacam-macam, pasarannya pun cukup bagus. Diskus juga mempunyai kebiasaan memijah yang unik. 

Klasifikasi dan Morfologi Ikan Diskus

Mengenai klasifikasi Ikan Diskus, ada sedikit perdebatan dari para ahli dan banyak orang mengklaim berdasarkan tempat asal, warna dan bentuk luarnya. Beberapa ahli perikanan berpendapat, terdapat dua speseis diskus yang asli, yaitu: Symphysodon discus dan Symphysodon aequifasciata. Spesies pertama berdiri tunggal, sedangkan yang disebutkan terakhir mempunyai beberapa sub spesies. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa semua diskus harus dimasukan dalam satu grup yang sama, Symphysodon.

Ikan ini dilengkapi dengan keindahan warna dan bentuk tubuhnya. Jika pada umumnya ikan hias mempunyai bentuk tubuh memanjang, diskus tidaklah demikian. Bentuk diskus unik seperti cakram. Warnanya sangat unik dan menarik sesuai dengan strain dan keturunannya.

Morfologi Ikan Diskus

Habitat dan Penyebarannya

Habitat alami ikan discus adalah air tergenang, aliran airnya lambat, dangkal, bersih dan umumnya berada di daerah sungai dan danau yaitu di daerah Sungai Amazon di Brazilia, Colombia, Peru, dan Venezuela. Discus hidup pada air ber pH 5 – 6 dengan kesadahan 10 – 30 ppm dan suhu 28 – 30 oC, dan kandungan oksigen terlarut ≥ 5 ppm, tetapi ikan diskus bisa toleran sampai 2 ppm.

Jenis-Jenis Diskus dan Strainnya

Ada empat jenis diskus yang berlainan, yang sering di temukan di perairan alamnya. Penyebarannya di alam aslinya dari keempat jenis diskuks ini tidak sama. Dari keempat jenis diskus inilah didapatkan diskus strain baru. Adapun jenis-jenis diskus yang ditemukan di alam, adalah diskus yang mempunyai ciri-ciri seperti di bawah ini :

Symphysoodon aequifasciata Pellegrin

Ikan ini dikenal sebagai Green Diskus. Green Diskus mempunyai dua tipe. Yang pertama disebut Teffe Green sebab ia berasal dari danau teffe dekat Amazon. Warna dasar Teffe Green coklat tua (merah) hingga kuning keemasan. Di sekujur tubuhnya dihiasi garis berwarna hijau muda dan hijau tua yang memanjang. Pada sirip-siripnya dihiasi warna merah pada pinggirnya. Tipe kedua dikenal sebagai Peruvian Green mempunyai warna yang kurang cerah. Warna dasarnya sama dengan tipe pertama, merah kecoklatan hingga keemasan. Sirip-siripnya pun dihiasi warna merah pada pinggirnya. Hanya saja pada sekujur badannya masih dihiasi dengan bintik-bintik merah. Diskus ini dikenal sebagai diskus yang terkuat dari diskus liar. Pertama kali dikumpulkan dari daerah Peru. Green Diskus mampu tumbuh hingga panjang total badannya mencapai 30 cm.

Green Discus

Symphysodon discus (Heckle)

Diskus Heckle sering disebut sebagai Red Discus atau Poumpadour discus. Namun tidak jarang orang memanggilnya sebagai Heckee Discus atau Poumpadour Fish. Ikan ini pertama kali ditemukan oleh Dr. Johan Heckel pada tahun 1840 di Rio Negro dekat Manaus, Brazil. Untuk mengabadikannya, maka ikan ini mempunyai panggilan akrab Heckel Diskus, sedangkan nama ilmiah diberikan oleh penemunya adalah Symphysodon discus. Garis-garisnya berombak tidak teratur, yang mulai dari dahi sampai perut. Pada keseluruhannya badannya dipotong-potong oleh garis berwarna hitam. Dari sembilan buah garis yang ada, tiga diantaranya tampak jelas. Sedangkan lain-lainnya hanya tampak samar-samar. Dengan matanya yang tampak selalu merah itu, diskus ini dapat dengan mudah untuk dibedakan dengan kerabatnya. Jenis ini hanya dapat mencapai panjang total 15 cm.

Red Discus

Symphysodon aequifasciata axelrodi

Jenis yang ketiga ini adalah Symphysodon aequifasciata Laxelrodi yang dikenal sebagai Brown Discus.  Suku kata terakhir dimaksudkan untuk mengenang Dr. Herbert R. Axelrod yang telah banyak jasanya dalam pengembangan budidaya diskus. Warna dasar tubuhnya cokelat tua sampai gelap, dengan 9 buah garis vertical memotong sekujur badannya, tidak ketinggalan kepalanya. Garis biru terlihat memanjang dari dahi kepunggung hiongga mencapai sirip ekor, dan diakhiri dengan warna merah. Ikan ini dating dari Belem di muara sungai Amazon. Panjang total tubuhnya mencapai 13 cm.

Brown Discus
Symphysodon aequifasciata haraldi

Jenis terakhir adalah Symphysodon aequifasciata haraldi yang dikenal sebagai Blue discus. Pertama kali ditemukan dekat Manaus. Sekujur tubuhnya ditutupi oleh garis-garis pendek berwarna biru, dengan kekecualian pada sirip dubur dan punggung tepinya berwarna merah. Ikan ini dapat mencapai panjang total 20 cm, dengan kematangan kelamin terjadi pada ukuran setengahnya.

Blue Discus

Kamis, 01 Juli 2021

JENIS-JENIS IKAN GURAMI

Gurami Soang
Gurami Soang atau Gurami Angsa 

Ukuran tubuh cukup besar, bahkan mampu mencapai 8 kg. Pertumbuhan gurami soang juga cukup cepat 0,7 – 1,2 kg/tahunnya. Bentuk gurami soang pipih ke samping dan sedikit memanjang, panjangnya dapat mencapai 65 cm, sisik badan sedikit membulat dan ukurannya besar warnanya kecoklatan dengan bintik-bintik hitam pada dasar sirip dada. Tonjolan pada dahi menjadikan gurami soang mudah dikenali, karena pada gurami jenis lain tidak terdapat tonjolan pada dahi. Gurami soang juga sangat rakus dan gesit sehingga tidak mudah terserang penyakit. Produktivitas telur gurami soang terbilang cukup tinggi, sekali memijah gurami soang mampu menghasilkan telur 5.000 – 7.000 butir/ekor. Untuk indukan gurami yang baik biasanya pada usia 3-5 tahun.

Gurami Jepun
Gurami Jepang atau Jepun 

Jenis gurami ini sangat familiar di Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Probolinggo. Gurami jepun memiliki panjang tubuh maksimal 45 cm dengan berat badan 3-4 kg/ekornya. Ciri khas yang bisa dilihat pada gurami jepun adalah warna hitam pekat pada bagian atas tubuhnya, sisik putih dengan garis gelap pada bagian perut. Sekali memijah produktivitas telur gurami jepun mampu mencapai 2.000 - 3.000 butir/ekornya.

Gurami Porselin

Gurami Porselin

Gurami ini memiliki ciri warna merah muda atau keperakan, sedangkan tubuh bagian bawah berwarna putih, ukuran kepala relatif kecil dibanding ukuran tubuhnya. Sekali pemijahan gurami porselen mampu menghasilkan 8.000 - 10.000 butir telur/ekor. Jumlah yang sangat banyak dibandingkan dengan gurami jenis lainnya. Itu juga yang menjadi alasan gurami jenis porselen sangat baik dijadikan bisnis pembibitan. Pertumbuhan gurami porselen juga terbilang cukup cepat dan berat rata-rata gurami ini berkisar 1.5 kg - 2 kg/ ekor.

Gurami Kapas
Gurami Kapas 

Jenis ikan ini memiliki warna putih keperakan hampir mirip dengan warna kapas. Ukuran sisik lebih lebar dibanding jenis gurami lainnya dan sedikit lebih keras. Pertumbuhan gurami kapas juga terbilang cukup cepat, namun diantara semua jenis gurami, jenis gurami kapas lah yang memiliki bobot paling ringan yaitu berat maksimal hanya 1.5 kg. Sekali memijah produktivitas gurami kapas hanya mampu menghasilkan sekitar 3000 butir telur/ekor.

Gurami Bastar
Gurami Bastar 

Gurami bastar memiliki warna abu-abu kehitaman namun pada bagian kepala berwarna putih. Jenis gurami bastar sering dikenal dengan gurami pedaging karena ukurannya yang besar dan laju pertumbuhan yang cepat. Bobot gurami bastar mampu mencapai 6 - 9 kg/ekor nya, namun soal produktivitas telur gurami bastar terbilang rendah bila dibandingkan gurami soang. Sekali memijah gurami bastar hanya mampu menghasilkan sekitar 4.000 – 4.500 butir telur/ekor nya.

Gurami Blue Safir
Gurami Blue Safir

Jenis gurami yang satu ini memiliki warna merah muda dan cerah, hampir sama pada umumnya dengan ikan jenis gurami lainnya. Panjang gurami ini hanya 35 cm dengan berat maksimal 2 kg, namun kemampuan bertelur lebih baik bila dibandingkan gurami paris. Sekali pemijahan gurami blue safir mampu mencapai 4.000 – 5.000 butir telur/ekornya.

Gurami Paris
Gurami Paris

Gurami ini berwarna merah muda cerah namun kepala nya berwarna putih dengan bintik-bintik hitam di sekujur bagian tubuhnya. Gurami paris memiliki ukuran yang lebih kecil bila dibandingkan dengan jenis gurami lainnya, berat maksimal hanya 1.5 kg. Selain dikonsumsi jenis gurami paris juga banyak dijadikan ikan hias bagi penghoby ikan hias. Produktivitas telur gurami paris lumayan besar, gurami ini mampu mencapai 5.000-6.000 butir/ekor.

Selasa, 29 Juni 2021

AGAR BAU TANAH PADA IKAN HILANG

Rendam dengan Jeruk Nipis atau Lemon

Pada saat membersihkan ikan sebelum dimasak, sebaiknya ikan dilumuri dengan air jeruk nipis atau lemon selama beberapa saat. Pastikan bahwa ikan dilumuri secara rata hingga pada bagian tubuh yang tersembunyi dan bercelah. Setelah 30 menit, air lemon pada ikan dibersihkan menggunakan air mengalir.

Rendam dengan Garam

Selain menggunakan jeruk nipis atau lemon, dapat juga menggunakan garam. Caranya sama, yakni melumuri ikan dengan garam secara merata dan tunggu selama 30 menit dan selanjutnya dibilas dengan air mengalir hingga bersih. Cara ini dinilai cukup efektif, namun kekurangannya adalah daging ikan akan terasa sedikit asin.

Ikan Goreng

Digoreng

Cara selanjutnya adalah tergantung dari cara memasaknya. Untuk menghindari bau tanah pada ikan, maka sebaiknya hindari memasaknya dengan cara mengukus, dibakar, atau dimasak kuah. Lebih baik ikan digoreng, sehingga bau tanah akan hilang dan tergantikan dengan bau minyak goreng yang lebih gurih dan enak.


Rabu, 23 Juni 2021

KULTUR ARTEMIA UNTUK PAKAN BENIH IKAN

Artemia
Langkah-langkah dalam kultur artemia

  • Siapkan air garam atau air laut dengan nilai salinitas berkisar 10-35 per mil, pH 7,5-8,5 dan suhu 25-30 derajat celcius
  • Sebelum ditetaskan, artemia terlebih dahulu dicuci menggunakan air tawar, kemudian saring dengan saringan lalu tiriskan. Padat penetasan dalam media yang baik adalah 5-6 gram artemia per liter air.
  • Setelah telur menetas, selanjutnya benih artemia ditebar ke dalam kolam dengan media air garam atau air laut
  • Pemberian pakan rutin dilakukan demi menunjang pertumbuhan artemia
  • Artemia siap dipanen pada saat berumur 18 hari dan siap untuk dijadikan sebagai pakan
Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum menetaskan artemia.
  • Kadar garam. Gunakan garam laut dengan takaran 1 hingga 2 sendok makan untuk setiap liter air.
  • pH. Untuk proses penetasan artemia yang optimal, usahakan pH air berkisar 8 atau lebih tinggi.
  • Suhu. Suhu optimum untuk menetaskan artemia dalam waktu 24 jam adalah 26 sampai 28 derajat celcius. Suhu dibawah itu akan membuat proses penetasan berjalan lebih lama.
  • Cahaya. Pencahayaan sangat perlu dilakukan untuk memicu mekanisme penetasan. Mempertahankan sumber cahaya selama masa inkuvasi sangatlah dianjurkan demi mendapatkan hasil yang optimal.
  • Aerasi. Diperlukan untuk menjaga artemia tetap hidup serta aktif menyuplai oksigen untuk menetaskan artemia.
  • Kadar penebaran. Jangan sampai penebaran terlalu banyak, karena akan menghasilkan persentase menetas berkurang. Kadar penebaran yang baik adalah 1 gram per liter.
  • Wadah penetasan. Wadah yang paling tepat untuk menetaskan artemia adalah berbentuk kerucut atau V guna menjaga tekanan yang tepat agar penetasan terjadi secara optimal.
  • Masa inkubasi. Biasanya, waktu inkubasi telur artemia adalah 24 jam. Namun, telur yang telah disimpen selama lebih dari 3 bulan mungkin saja memerlukan waktu inkubasi yang lebih lama.

Setelah beberapa hal di atas sudah terpenuhi, maka sudah bisa menetaskan telur artemia. Prosedur penetasannya adalah sebagai berikut.

  • Pertama, tempatkan wadah berbentuk kerucut pada tempat yang kokoh dan bercahaya remang. Agar cahaya gampang masuk, sebaiknya gunakan wadah yang semi transparan.
  • Kedua, isi wadah kerucut tersebut dengan air kemudian tempatkan pada suhu penetasan yang optimum, yaitu 28 derajat celcius. Kemudian masukkan artemia dengan takaran optimum 1 gram per liter air.
  • Ketiga, gunakan aerasi yang memadai demi menjaga tekanan yang ada pada wadah.
  • Keempat, matika aerasi setelah artemia menetas lalu tunggu beberapa saat sampai cangkang dan anakan artemia terpisah secara sempurna. Artemia yang baru menetas biasanya akan bergerak ke arah sumber cahaya atau bagian bawah wadah kerucut.

Selasa, 22 Juni 2021

APAKAH LELE BAGUS SEBAGAI MAKANAN PENDAMPING ASI (MPASI)

Pemberian Makanan Tambahan untuk Balita

Lele merupakan jenis ikan yang bisa menjadi menu andalan dalam membuat MPASI. Berikut ini beberapa kelebihannya.


Mudah Ditemukan dan Terjangkau


Ikan lele termasuk jenis ikan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, untuk menemukan ikan lele di pasar merupakan perkara yang mudah. Selain itu, harga ikan lele juga cukup terjangkau, hal ini tentu menjadi solusi yang tepat bagi para ibu untuk memanfaatkannya sebagai menu MPASI.


Mengandung Banyak Nutrisi


Walaupun murah, kandungan nutrisi ikan lele tak kalah dari jenis ikan yang lebih mahal darinya. Ikan lele mengandung protein, omega-3, omega-6, dan vitamin yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.


Kandungan Merkuri Rendah


Merkuri termasuk jenis logam berat yang berbahaya apabila dikonsumsi oleh manusia. Merkuri paling banyak terkandung dalam ikan laut. Ikan lele merupakan air tawar yang tentu saja hampir tidak mengandung merkuri pada dagingnya. Hal ini tentu membuatnya lebih aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak.


Rasanya Enak


Hal yang paling penting bagi MPASI adalah rasanya, karena anak-anak tidak akan mau memakannya jika rasanya tidak enak. Untungnya, ikan lele memiliki rasa yang enak, sehingga anak-anak akan menyukainya. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga sangat suka dengan rasa dari ikan lele.