Kamis, 08 Desember 2022

TANDA-TANDA IKAN SAKIT

Ikan yang sakit dapat dengan mudah dibedakan dengan ikan yang sehat. Untuk itu, tanda-tanda berikut ini perlu dipahami dahulu.

a. Tingkah laku

Ikan yang sakit biasanya memperlihatkan tingkah laku menyimpang, misalnya sering menggosok-gosokkan badannya pada benda-benda seperti batu, tanaman air, atau ke pinggiran pematang/dinding akuarium. Pada kasus lain, ikan kehilangan keseimbangan sehingga gerakan tidak terkontrol. Pada akhirnya, ikan diam di dasar dengan kedua sirip dada terbuka atau sekali-kali muncul ke permukaan air seperti menggantung. Ada pula ikan sakit yang membuka kedua tutup insangnya lebih lebar dan biasanya, frekuensi pernapasannya meningkat, dan tampak terengah-engah. Selain itu, tidak mustahil suatu saat ikan itu mogok makan karena kehilangan nafsu makan.

b. Kelainan warna tubuh

Jika tubuh ikan berubah menjadi pucat perlu dicurigai, barangkali sudah ditempeli parasit tertentu. Namun, perubahan warna tubuh ikan juga dapat disebabkan oleh kondisi terkejut karena terjadi pergantian intensitas cahaya dari gelap ke terang. Jika hal ini tenjadi, biasanya warna ikan kembali normal dalam waktu yang tidak terlalu lama. Perubahan warna tubuh juga sering terjadi jika ikan dalam keadaan takut atau sesaat setelah memijah (ikan betina). Berdasarkan hal itu, perubahan warna tubuh ikan dapat disebabkan oleh serangan parasit ataupun oleh faktor di luar penyakit. Kelainan warna dapat dianggap sebagai gejala dan suatu penyakit bila tidak ada penyebab lain seperti takut, terkejut, atau habis memijah. Perubahan warna yang disebabkan oleh penyakit biasanya bersifat permanen (berlangsung lama).

c. Produksi lendir

Ikan sakit seringkali memproduksi lendir berlebihan. Hal ini jelas terlihat pada ikan yang berwarna gelap. Sebaliknya, kelebihan lendir itu agak sulit diketahui pada ikan berwarna terang karena warna lendir itu bening hingga keabu-abuan. Produksi lendir yang berlebihan biasanya disebabkan oleh parasit yang menyerang bagian kulit. Banyaknya lendir tergantung pada intensitas serangan.

d. Kelainan bentuk organ

Serangan parasit tertentu akan menimbulkan kelainan pada bagian tubuh ikan, misalnya berupa bintik-bintik putih pada sirip, sisik, maupun bagian lain. Kelainan bentuk juga dapat terjadi pada perbatasan dua keping tutup insang terdapat tonjolan atau bengkak. Bila serangannya sangat hebat, akan terjadi infeksi yang parah sehingga tonjolan itu menyebar ke seluruh bagian tubuh seperti insang, mata, dan bagian kepala. Bagian kulit, termasuk juga otot, tak luput dan resiko terkena serangan parasit yang mengakibatkan bintik-bintik merah atau menunjukkan gejala adanya semacam tumor pada kulit.

e. Faktor kondisi

Menurut Scaperclaus (1974), terdapat korelasi antara bobot seekor ikan dengan panjangnya dikaitkan dengan kondisi kesehatan ikan yang bersangkutan. Bila perbandingan berat dan panjang tidak berimbang dalam arti hasilnya lebih kecil dibandingkan dengan angka indeks faktor kondisi ikan sehat maka ikan tersebut dikategorikan menderita sakit. Perhitungannya menggunakan rumus berikut.

Keterangan: W = bobot dalam satuan gram

                 L = panjang dalam satuan sentimeter


Di negara subtropis, khususnya Jerman, ikan karper mengalami stagnasi (berhenti makan) pada musim dingin, badannya menjadi sangat kurus, dan daya tahan tubuhnya menurun drastis sehingga mudah terserang penyakit. Di Indonesia yang beriklim tropis, pada saat pergantian musim tidak terjadi fluktuasi suhu yang mencolok yang dapat menyebabkan stagnasi. Kalaupun ikan di Indonesia bisa menjadi kurus oleh sebab serangan penyakit, tetapi kurusnya tidak akan sama seperti yang disebabkan oleh adanya stagnasi. Jadi, angka faktor kondisi tadi tidak akan sama.



Kamis, 01 Desember 2022

CARA-CARA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN HAMA IKAN


Hama adalah hewan / organisme hidup yang dapat menimbulkan gangguan pada kehidupan ikan yang dibudidayakan. Adapun pembagian jenis hama adalah sebagai berikut: 

Hama pada Budidaya Ikan
1. Predator (pemangsa) 

  • Hama yang secara langsung membunuh dan memakan ikan yang dipelihara
  • Contoh dari jenis ini adalah:  ikan lele, gabus, katak, ular

2. Sebagai penyaing (kompetitor) 

  • Hama yang menimbulkan persaingan dalam mendapatkan oksigen, pakan, dan ruang gerak
  • Contoh dari jenis ini adalah: ikan mujair, udang-udangan, dll.

3. Sebagai perusak 

  • Hama yang keberadaannya menimbulkan kerusakan seperti kebocoran pada konstruksi kolam
  • Contoh dari jenis ini adalah:  belut

Cara-cara pencegahan dan pengendalian hama yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut:

1. Cara fisik

  • Pengeringan dasar kolam. Bertujuan agar telur, larva hama akan mati
  • Perbaikan tanggul
  • Penangkapan langsung. Penangkapan hama jenis ini dapat dilakukan secara teratur selama pemeliharaan, misalnya dengan manangkapi ikan liar, kodok, serta ular.
  • Penyaringan air yang masuk. Air yang masuk ke kolam disaring terlebih dahulu, misalnya dengan memasang hapa halus di bagian inlet.
  • Menjaga agar wadah budidaya (kolam) dan sekitarnya tetap terawat dan terjaga kebersihannya, sebab hama akan sulit berkembang biak pada wadah budidaya yang terawat.

2. Cara kimiawi

Umumnya penanggulangan dengan cara kimiawi akan berhubungan dengan penggunaan pestisida. Penggolongan pestisida dapat didasarkan pada beberapa hal, yakni:

a. Berdasarkan organisme sasaran

  • Insektisida : digunakan untuk membunuh serangga
  • Pestisida : digunakan untuk membasmi ikan liar
  • Avisida : digunakan untuk membasmi burung

b. Berdasarkan sumbernya

  • Pestisida alami. Jenis pestisida ini adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari organisme hidup (saponin, rotenone, nikotine)
  • Pestisida sintetik. Jenis pestisida ini dibuat melalui suatu proses dengan struktur kimia seperti enzim yang ada pada tubuh hewan, dan mempunyai fungsi mengganggu proses metabolisme dalam tubuh organisma sasaran.

3. Cara biologi

Penganggulangan hama dengan cara biologi dapat dilakukan dengan cara menggunakan hewan yang dapat memangsa hama, tetapi tidak mengganggu hewan yang dipelihara. Selain itu, dapat pula dicoba dengan memelihara tanaman air pada bak penyaringan sebelum air masuk ke kolam, sehingga diharapkan dapat mengurangi jumlah hama yang akan masuk ke kolam budidaya. 


Kamis, 24 November 2022

HAMA BENIH IKAN

Hama (predator) merugikan ikan dengan cara memakan habis mangsanya. Di samping hama, terdapat organisme hidup yang juga merugikan karena menurunkan produksi akibat persaingan kebutuhan hidup yang sama dengan ikan peliharaan. Organisme semacam ini dikenal dengan sebutan kompetitor, contohnya ikan seribu (Lebistes reticulates). Ada pula organisme lain yang sejenis (disebut pest) yang mengganggu kehidupan ikan serta menurunkan produksi, tetapi belum jelas faktor penyebabnya, contohnya yaitu huhurangan (Streptocephalus javanicus). Jenis-jenis hama yang sering dijumpai antara lain ular, kodok, belus, biawak, sero/linsang, dan burung. Pemberantasannya dapat dilakukan secara mekanis dengan membunuhnya secara langsung atau dengan memasang perangkap.

Selain kelompok hama tersebut, masih terdapat pula golongan hewan yang termasuk dalam insekta air. Kelompok ini banyak ditemukan pada areal pembenihan atau pendederan, biasanya memangsa telur dan benih ikan yang masih kecil. Diantara insekta air yang perlu diketahui adalah sebagai berikut.

Notonecta (bebeasan)

Hewan ini membunuh mangsanya dengan alat penusuk yang sekaligus berfungsi sebagai alat pengisap cairan tubuh ikan yang diserang. Sasaran utamanya adalah telur, larva, dan benih ukuran 1 - 2 cm.  Akibat tusukannya, telur mudah terinfeksi jamur Achlya dan Saprolegnia. Seekor notonecta dapat membunuh 5 ekor benih ikan hanya dalam waktu lebih kurang 12 jam.

Pencegahan

Pasang saringan pada lubang pemasukan air dan retaskan telur secara terkontrol di dalam hapa.

Pemberantasan

Taburkan minyak tanah ke permukaan air sebanyak 0,5 liter/50 m2 luas permukaan, atau kolam disemprot dengan insektisida dosis 0,5 - 1,0 cc/m3 air.

Notonecta

Dytiscus (ucrit).

Ucrit merupakan larva dari Cybister atau kumbang air. Bentuk tubuhnya memanjang seperti ulat, berwarna kehijauan, panjangnya sekitar 3 - 5 cm.

Pencegahan

  • Gunakan sistem filter pada kolam pembenihan maupun kolam pendederan.
  • Hindari penebaran ikan pada kolam yang digenangi air lebih dari satu minggu.
  • Usahakan padat penebaran tidak terlalu tinggi.
  • Gunakan sumber air yang bebas dari hama dan parasit ikan.

Pemberantasan

Sangat sulit dilakukan pada kolam yang ada benih ikannya karena dosis yang aman bagi benih biasanya tidak mampu membasmi ucrit dan kumbang air.

Ucrit

Kini-kini

Kini-kini hidup dalam air sebagai hama berasal dari larva capung (Odonanta). Hewan ini dapat menangkap ikan dengan mudah, mengisap darah, atau memakan mangsanya secara bertahap. 

Pencegahan

Kurangi padat penebaran benih.

Pemberantasan

Sama sukarnya seperti ucrit dan kumbang air di kolam. Kini-kini sangat diwaspadai oleh pembudidaya ikan karena serangannya mengakibatkan kerugian besar.
Kini-kini


Kamis, 03 November 2022

BENTUK PAKAN IKAN

  1. Bentuk larutan. Larutan ada 2 macam, yaitu: 1) Emulsi, bahan yang terlarut menyatu dengan air pelarutnya; 2) Suspensi, bahan yang terlarut tidak menyatu dengan air pelarutnya.

    Pakan Ikan Berbentuk Larutan

  2. Bentuk tepung/meals. Tepung halus diperoleh dari remah yang dihancurkan atau dibuat komposisi dari berbagai sumber bahan baku seperti menyusun formulasi pakan

    Pakan Ikan Berbentuk Tepung

  3. Bentuk butiran/granules. Tepung kasar juga diperoleh dari remah yang dihancurkan atau dibuat sama seperti membuat formulasi pakan lengkap dan bentuknya dibuat menjadi butiran. 

    Pakan Ikan Berbentuk Butiran

  4. Bentuk remahan/crumble. Remah berasal dari pellet yang dihancurkan menjadi butiran kasar. 
    Pakan Ikan Berbentuk Remahan

  5. Bentuk lembaran/flake. Pada saat akan dibentuk dapat menggunakan peralatan pencetak untuk bentuk lembaran atau secara sederhana dengan cara membuat komposisi pakan kemudian komposisi berbagai bahan baku tersebut dibuat emulsi yang kemudian dihamparkan di atas alas aluminium atau seng dan dikeringkan, kemudian diremas-remas. 
    Pakan Ikan Berbentuk Lembaran

  6. Bentuk pellet tenggelam/ sinking. Biasa digunakan untuk kegiatan pembesaran ikan air tawar maupun ikan air laut yang mempunyai kebiasaan tingkah laku ikan tersebut berenang di dalam perairan. Ukuran ikan yang mengkonsumsi pakan bentuk pellet bervariasi dari ukuran bukaan mulut lebih dari 2 mm maka ukuran pelet yang dibuat biasanya 50%nya yaitu 1 mm.
  7. Bentuk pellet terapung/floating. Biasa digunakan untuk kegiatan pembesaran ikan air tawar maupun ikan air laut yang mempunyai kebiasaan tingkah laku ikan tersebut berenang di permukaan perairan. Ukuran ikan yang mengkonsumsi pakan bentuk pellet bervariasi tergantung pada ukuran bukaan mulut ikan/biota air. Jika ukuran bukaan mulut lebih dari 2 mm maka ukuran pelet yang dibuat biasanya 50% dari ukuran bukaan mulutnya yaitu 1 mm.

Kamis, 13 Oktober 2022

APLIKASI PENGELOLAAN KESEHATAN IKAN TERHADAP BAKTERI

        Selama ini pengertian bakteri seolah-olah identik dengan istilah bakteri patogen, atau bakteri yang merugikan kesehatan ikan. Sebenarnya, banyak sekali jenis bakteri yang memiliki kegunaan bermanfaat bagi kehidupan ikan.  Bakteri jenis ini dikenal dengan sebutan bakteri non patogen. Salah satu media tumbuh bakteri non patogen adalah media biofilter pada sistem resiskulasi.  Secara sederhana, sistem resirkulasi digunakan dalam kondisi yangmenuntut tingkat produksi tinggi, akan tetapi dengan penggunaan air yang seminimal mungkin. Tetapi, konsekuensi dari sistem ini adalah:
  1. Timbulnya penumpukkan bahan organik sebagai hasil dari sisa-sisa metabolisma serta pakan.
  2. Pembentukan senyawa-senyawa yang beracun
  3. Meningkatnya penyerapan oksigen.
Kematian Benih Lele
        
      Biofilter sebagai salah satu bagian dari sistem resirkulasi, biasanya dilengkapi dengan substrat sebagai tempat penempelan bakteri non patogen ini. Lapisan bakteri yang menyelubungi substrat-substrat tersebut dikenal dengan istilah biofilm.  Bakteri non patogen yang hidup dan berkembang biak pada media ini memiliki sifat autotrof, yakni mampu memanfaatkan substrat an-organik sebagai sumber energi.

        Contoh dari bakteri non patogen ini adalah bakteri nitrosomonas dan nitrobacter. Kedua bakteri ini bekerja dalam upaya mengkonversi ammonia menjadi nitrat melalui bentuk intermediet (nitrit). Bakteri-bakteri ini juga berperan dalam merombak sisa-sisa metabolisme (40%-60% protein; 20-25% karbohidrat; 10% lemak).

        Adapun proses-proses yang terjadi pada media biofilter di mana bakteri non patogen ini tumbuh dan berkembang, meliputi:
  1. Degradasi bahan organik, baik secara anaerob maupun aerob
  2. Proses Nitrifikasi
  3. Proses Denitrifikasi
  4. Proses Oksidasi [Untuk garam-garam komplek tertentu]
  5. Proses Reduksi [Untuk garam-garam komplek tertentu]
        Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa pada wadah biofilter ini, harus dilengkapi dengan substrat penempelan bakteri. Jenis-jenis substrat yang dapat digunakan, antara lain adalah:
  1. Potongan kulit udang. Kulit udang ini baik sekali digunakan karena mengandung nilai kalsium yang tinggi.
  2. Potongan paralon
  3. Tutup botol dari plastik. Pemilihan jenis substrat di atas sebaiknya didasarkan pada ukuran, karena semakin kecil luas permukaan substrat, akan semakin baik sebagai media penempelan bakteri.

Kamis, 06 Oktober 2022

KESEHATAN IKAN

Bahasan sekitar penyakit ikan, selalu diungkapkan pernyataan bahwa upaya pencegahan jauh lebih baik dan lebih ekonomis dibanding mengobati. Karena itulah mengupayakan kesehatan ikan, dipandang jauh lebih efektif dari pada upaya pengobatan. Penyakit ikan dalam pengertiannya yang lebih luas diartikan sebagai salah satu faktor yang menekan atau menurunkan produksi ikan; dan hal ini bisa bersumber dari penyakit itu sendiri, kompetitor, predator, dan hama dalam sistem produksi yang sedang berjalan.

Penurunan produksi ikan dapat terlihat dari tampilan penurunan berat dan atau adanya ikan-ikan yang abnormal serta jumlah yang menurun akibat adanya mortalitas.  Secara umum, data yang ada selama ini memperlihatkan penurunan produksi ikan rata-rata sekitar 5 – 20 % pertahun. Melihat besarnya angka penurunan produksi akibat tidak tertanganinya dengan serius mengenai kesehatan ikan, diperkirakan upaya menghadirkan ikan-ikan sehat akan mampu meningkatkan produksi. Ruang lingkup penyakit ikan dalam pengertian umum, meliputi: (a) Penyakit karena infeksi; (b) Penyakit karena non-infeksi; serta (c) Kehadiran kompetitor, hama & predator. Uraian terstruktur dapat dilihat pada Gambar 1. Dalam kaitan dengan bahasan penyakit ikan, selain berakibat menurunkan produksi, kehawatiran lain adalah penularan penyakit ikan tertentu kepada manusia. Jadi dalam hal ini, ikan dapa menjadi inang penyakit tertentu yang menyerang manusia.  Pada bagian ini, penyakit ikan menjadi lebih serius untuk ditangani.

Ruang Lingkup Penurunan Kesehatan Ikan

Kehadiran atau keberadaan penyakit ikan di perairan melalui lima cara, yaitu: (a) terbawa oleh ikan; (b) terbawa oleh air; (c) terbawa oleh pakan yang diberikan atau buangan yang masuk dalam perairan; (d) berada pada wadah budidaya itu sendiri (kolam, tambak, jaring apung, dsb); dan (e) buruknya manajemen yang diberikan selama pemeliharaan. Oleh karena itu, upaya pencegahan selalu di arahkan kepada lima sumber atau jalur adanya suatu penyakit tersebut di atas. 

Untuk memudahkan pemantauan kehadiran penyakit atau melakukan deteksi dini penanganan kesehatan ikan, maka perlu diperhatikan jenis penyebab yang dikaitkan dengan sumber penyebab penurunan kesehatan ikan dimaksud.

Upaya Pemantauan Penurunan Kesehatan Ikan


Kamis, 08 September 2022

UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT IKAN

Tindakan pencegahan terutama ditujukan untuk mencegah masuknya wabah penyakit ke dalam tempat budi daya ikan, untuk mencegah meluasnya wilayah yang terkena penyakit, dan untuk mengurangi kerugian produksi ikan akibat timbulnya wabah penyakit.

1. Sanitasi kolam

Sanitasi kolam dilaksanakan melalui pengeringan, penjemuran, dan pengapuran bak/ kolam dengan kapur tembok Ca(OH)2 sebanyak 200 g/m yang ditebarkan merata di permukaan tanah dasar kolam dalam keadaan macak-macak. Kondisi ini dibiarkan selama 7 - 10 hari, setelah itu barulah kolam diairi dan siap ditebari ikan. Bahan lain yang bisa digunakan yaitu kalium permanganat (PK) yang ditebarkan pada kolam berair sebanyak 10 - 20 g/m3 air dan dibiarkan selama 1 jam. Ikan - ikan dimasukkan setelah air berubah normal kembali karena adanya penggantian air.

2. Sanitasi ikan tebaran

Ikan yang akan ditebarkan diperiksa dahulu, apabila menunjukkan gejala kelainan atau sakit harus dikarantina untuk diobati.  Ikan tebaran yang dianggap sehat pun harus direndam dalam larutan PK (20 g/m3 air), malachyte green (40 mg/ 10 liter air), atau dengan formalin (1 cc/10 liter air) masing - masing selama 10 - 15 menit.

Sanitasi Benih Tebar

3. Sanitasi perlengkapan dan peralatan

Perlengkapan atau peralatan kerja sebaiknya selalu dalam keadaan suci hama, yaitu dengan cara merendamnya dalam larutan PK atau larutan kaporit selama 30 - 60 menit. Pengunjung dari luar pun tidak boleh sembarangan memegang dan atau mencelupkan bagian tubuh ke dalam media air pemeliharaan sebelum disucihamakan.

4. Menjaga lingkungan tempat budi daya

Upaya perlindungan dan gangguan hama dan parasit ikan adalah dengan menjaga lingkungan tempat budidaya dan perairan.  Pematang kolam dibersihkan dan tumbuhan air yang sering menjadi tempat persembunyian hewan darat seperti ular dan kodok. Pohon yang rindang dikurangi agar tidak menghalangi masuknya sinar matahari. Setiap kolam/bak diusahakan mendapat pemasukan air yang baru dan masih segar. Selain itu, bahan - bahan organik seperti sampah yang memungkinkan masuk ke dalam wadah budidaya dikurangi.


Kamis, 01 September 2022

TIPS DALAM USAHA BUDIDAYA LELE

1. Membuat kolam

Banyak jenis kolam yang bisa dimanfaatkan untuk memelihara lele, seperti: kolam terpal, kolam beton/cor, kolam tanah, tergantung dari konsentrasi ukuran lele yang akan dipelihara. Kolam terpal biasanya digunakan untuk lele yang berukuran kecil sekitar 2-3 s.d. 9-12 (ukuran dalam lele). Kalau ingin berkonsentrasi memelihara lele dalam ukuran yang lebih besar hingga konsumsi disarankan untuk memilih kolam tanah. Apalagi kalau memanfaatkan makanan alternatif seperti maggot (belatung) menyebabkan air di kolam terpal menjadi cepat bau karena tidak ada resapan ke tanah. Untuk ukuran kolam sebaiknya memanjang seperti 2,5 × 4 m.

2. Memilih air

Air adalah sumber utama lele untuk hidup, disarankan memilih sumber air yang baik untuk memelihara lele, dari air pula biasanya sumber pertama dari penyakit maka dari itu memilih sumber air yang baik itu penting. Diamkan (tando) air terlebih dahulu kurang lebih sekitar satu minggu agar air menjadi lebih baik dan aplikasikan obat pencegahan penyakit bisa dengan cara tradisional atau modern.

3. Memilih benih

Pastikan ketika membeli benih lele dengan orang yang dikenal dan dapat dipercaya. Dalam kegiatan para pembudidaya lele ada istilah sortiran (ayakan), kalau bisa untuk membeli benih lele harus mengusahakan membeli sortiran pertama, biasanya pertumbuhan lele sortiran pertama itu lebih cepat besar.

4. Cara memberi makan

Cukup beri lele makanan dua kali dalam sehari yaitu pagi dan malam hari, untuk pagi berilah makanan sewajarnya saja, tetapi untuk malam hari berilah makanan sampai lele benar-benar kenyang karena lele merupakan hewan yang aktif di malam hari. Logikanya lele aktif memerlukan banyak energi, ketika kekurangan energi lele menjadi lambat pertumbuhanya.

5. Rajin mensortir (memilih sesuai dengan ukuran tubuh lele)

Salah satu manfaat mensortir selain membuat lele menjadi seragam ukurannya juga mencegah kanibalisme, ingat lele merupakan hewan kanibal, mereka saling memakan apalagi ketika melihat lele yang lebih kecil, itu merupakan buruan empuk bagi lele yang lebih besar. Perhatikan juga cara mensortir yang baik. Satu hari ketika akan disortir lele jangan diberi makan terlebih dahulu ini menghindari lele menjadi muntah saat di sortir dan terjadi lecet di perut karena masih menyimpan banyak makanan di dalamnya.

6. Beri lele sentuhan kasih sayang

Tidak cukup hanya dengan teori dan ilmu yang tinggi untuk memelihara makhluk bernyawa, perlu ada perhatian khusus, kepekaan khusus, dan pengamatan khusus.

7. Perhatikan kondisi air

Air merupakan sumber dari segala penyakit, kalau kondisi air tidak baik lele mudah sekali terserang penyakit, jangan sampai air menimbulkan bau yang tidak sedap. Kalau sampai mengalami masalah yang seperti itu, segeralah ganti dengan air yang baru.

8. Jangan mudah menyerah

Tidak ada keberhasilan dilakukan dengan waktu yang singkat, di dalamnya ada proses yang dinamakan belajar, sebagai pemula jangan karena hasil tidak maksimal, kematian tinggi hingga menyebabkan putus asa, terus belajarlah pelajari dari mulai hal terkecil hingga bisa menemukan solusi dalam setiap permasalahan yang sedang dialami dalam budidaya lele. 

sumber bacaan: www.bacamedi.com

Kamis, 11 Agustus 2022

JENIS-JENIS PENYAKIT IKAN

Di antara penyakit yang disebabkan oleh parasit yang perlu diketahui adalah tanda-tanda serangan serta cara penanggulangannya seperti berikut ini.

a. Bintik putih

Gejalanya berupa bintik-bintik berwarna putih sehingga disebur penyakit bintik putih (white spot). Bagian tubuh ikan yang menjadi sasarannya adalah sel-sel pigmen, Sel darah, dan sel lendir. Bila yang diserang bagian kepala, terutama permukaan insang, ikan biasanya akan sesak napas dan lama-kelamaan mati. Serangan yang ringan pada selaput lendir mengakibatkan ikan gatal-gatal. Jika serangannya menghebat, tak jarang terjadi perdarahan yang menandakan bahwa sel - sel darah dirusaknya. Sering juga ikan yang diserang penyakit bintik putih memperlihatkan gejala banyak mengeluarkan lendir atau warna tubuhnya menjadi pucat.

Pengendalian

Penyakit bintik putih sangat sulit diberantas karena pada tahap parasiter parasit ini hidup terbungkus selaput sel lendir ikan. Jadi larutan obat tidak dapat meresap ke dalam parasit tanpa merusak selaput lendir ikan yang bersangkuran. Dengan demikian, pemberantasan yang efektif hanya bisa dilakukan dengan jalan memutus rantai hidupnya. Parasit ini akan melepaskan diri dari tubuh ikan setelah 8 hari menempel. Selama itu pula tersedia kesempatan mengobati ikan yang sakit. Caranya adalah sebagai berikut:

1). Buatlah larutan baku obat tersebut dengan mencelupkan 1 g metil biru ke dalam 100 cc air bersih. Sementara itu disiapkan pula wadah yang cukup besar (bak semen atau Waskom plastik) untuk merendam ikan-ikan yang sakit.

2). Isilah wadah yang akan digunakan dengan air bersih dan teteskan larutan baku obat metil biru 2 - 4 cc untuk setiap 4 liter air.

3). Masukkan ikan-ikan yang sakit. Biarkan selama 24 jam.

4). Pengobatan diulang selama 3 - 5 kali selang 1 hari, menggunakan larutan obat baru setiap kali mengobati.

Pengobatan yang lebih murah menggunakan larutan garam dapur (NaCl) dengan konsentrasi 1 - 3% atau 1 - 3 g garam dapur dalam 100 cc air bersih. Rendam ikan-ikan yang diobati selama 5 - 10 menit kemudian dipindahkan ke dalam air bersih. Demikian seterusnya, setelah ikan kelihatan segar kembali perendaman bisa diulang 2 - 3 kali. Setelah pengobatan, usahakan air yang masuk ke tempat pemeliharaan dapat mengalir terus-menerus disertai pemberian pakan yang cukup jumlah maupun mutunya.

b. Lernaea

Lernaea bisa masuk ke komplek perkolaman melalui aliran air pada stadia nauplius, atau lernaea dewasa yang terbawa oleh ikan seribu (Lebistes reticulatus) sebagai vektor (inang pembawa). Akibat serangannya, kulit ikan menjadi luka dan membengkak. Bila parasitnya dicabut akan terlihat bekas lubang pada tubuh ikan sehingga ikan mudah terkena infeksi kedua oleh virus, bakteri, atau jamur. Ikan yang sudah parah karena lama ditempeli parasit ini badannya kurus. Parasit lernaea mudah sekali tumbuh dan berkembang biak pada kondisi lingkungan yang mengandung banyak bahan organik seperti sampah, sisa pemupukan atau sisa makanan. Juga dapat tumbuh pada bak atau kolam yang pengairannya tidak mengalir dan bersuhu tinggi. Agar pemberantasannya efektif, perlu diketahui sifat biologi terutama mengenai sikius hidupnya.

Telur-telur lernaea yang berada dalam kantong telur akan dikeluarkan setelah menetas dalam bentuk nauplius. Pada stadium nauplius, lernaea hidup bebas di dalam air seperti plankton. Setelah memasuki stadia copepodit, parasit ini mulai hidup di sekitar rongga mulut dan insang ikan. Selanjutnya pada stadia cyclopodid sudah terbentuk lernaea jantan dan betina kemudian lernaea betina melakukan pembunuhan terhadap lernaea jantan sehingga hanya lernaea betina saja yang hidup sampai dewasa.

Pengendalian

Usaha pemberantasan secara kimiawi dapat dilakukan terhadap lernaea pada stadia copepodid maupun cyclopodid sebah stadia tersebut sangat peka dengan obat-obatan. Jenis obat-obat yang dapat mematikan antara lain formalin (formaldehid murni/pro analisis) 25 ppm atau 2,5 cc formalin dicampur dengan 100 liter air bersih. Pengobatan melalui perendaman selama 10 menit dilakukan 2 - 3 kali berturut-turut dalam waktu 2 - 3 hari. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengobatan dengan formalin yaitu 1). selama pengobatan harus di tempat teduh, 2). lama pengobatan tidak boleh lebih dan 10 menit, 3) ikan - ikan yang telah diobati harus ditempat¬kan pada air bersih, serta 4). larutan formalin 25 ppm bisa digunakan ulang 2 - 3 kali, asalkan tidak terjadi pengenceran.

Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (Balitkanwar) Bogor, menganjurkan pemberantasan lernaea secara langsung di tempat pemeliharaan menggunakan insekrisida golongan organofosfat, seperti Sumithion 50 EC, Dipterex, dengan konsentrasi 0,5 ppm melalui penyemprotan sebanyak 4 kali berturut - turut selang waktu 4 hari.

Kecuali pengobatan secara kimiawi, pemberantasan parasit Lernaea bisa dilakukan secara mekanis. Caranya dengan menggunting sampai purus parasit lernaca yang menempel atau menggantung pada tubuh ikan. Potongannya dikumpulkan kemudian dikubur dalam tanah. Untuk mencegah infeksi kedua pada ikan yang bersangkutan diobati dengan chloramphenicol atau tetraciclin. Obat ini berbentuk kapsul biasanya berisi 250 mg. Satu kapsul dilarutkan dalam 500 liter air. Ikan yang sakit direndam dalam larutan obat tersebut selama 2 - 3 jam. Pengobatan diulang sampai 3 kali dalam waktu 3 hari. Untuk mempercepat kesembuhan, ikan yang telah diobati diberi pakan secukupnya serta ditempatkan pada air bersih dan mengalir.

c.    Argulus

Ikan yang terkena infeksi memperlihatkan gejala pertumbuhan menurun sebah parasit ini mengisap cairan tubuh serta memakan sel-sel darah korbannya. Tidak jarang terjadi perdarahan akibat komplikasi serangan oleh jamur Achlya dan Saprolegnia.

Argulus menempel pada tubuh ikan dengan sangat kuat, tetapi dapat dilepaskan secara mekanis dengan pinset. Siklus hidupnya mulai dari masa bertelur sampai dewasa membutuhkan waktu 28 hari. Selama 12 hari adalah masa bertelur sampai menetas dan sisanya 16 hari digunakan untuk pertumbuhan sampai menjadi parasit dewasa. Telurnya bisa diletakkan pada batu-batu atau ranting tanaman yang ada di dasar perairan.

Pengendalian

Telur atau larva yang baru menetas bisa dimusnahkan dengan pengeringan kolam dan atau pemberian kapur. Pengobatan menggunakan obat-obat kimiawi yaitu ikan-ikan yang terkena parasit dimandikan dalam larutan Neguvon (1 g Neguvon/liter air) selama 10 - 30 detik. Selain dengan cara perendaman, pengobatan ikan berukuran besar dilakukan dengan cara mengusapkan bedak talk atau mercurochrome pada bagian tubuh ikan yang ditempeli parasit dengan bantuan kapas. Setelah diobati, ikan dimasukkan ke dalam tempat yang berisi air bersih mengalir sambil tetap diberi pakan secukupnya.

d.   Velvet

Tanda-tanda serangan penyakit velvet dapat diketahui dari adanya semacam karat berwarna kuning pada kulit ikan. Penyakit ini disebabkan oleh parasit Qodinium. Sasaran utamanya adalah jaringan kulir dan sel - sel kulir ikan. Ada dua spesies penting dan Qodinium, yaitu Oodinium Lemniticum dan Oodinium pillularis.

Oodinium tumbuh menjadi dewasa dalam beberapa hari pada tubuh ikan. Oodinium berkembang biak dengan membentuk kista. Pada spesies tertentu, sebelum kista dibentuk, Oodinium melepaskan diri dari tubuh ikan dan tenggelam ke dasar perairan. Kista-kistanya diletakkan pada batu, tumbuhan air atau dinding akuanium. Di dalam kista, parasit ini akan berkembang kemudian kerika kisra pecah anak-anak Oodinium berhamburan melayang-layang di dalam air mencani inang baru (ikan). Bila dalam wakru 24 jam tidak menemukan inang, Oodinium akan mati.

Ikan-ikan yang terserang Oodinium memperlihatkan gejala kulit rusak dan terdapat lubang bekas gigitannya. Pada infeksi yang berat serangannya bukan hanya pada bagian kulit, tetapi bisa melebar pada rongga mulut bahkan ke insang sehingga insang menjadi bengkak.

Pengendalian

Cara terbaik untuk mengarasi penyakit velvet ini antara lain dengan melakukan karantina bagi ikan baru selama kurang lebih 10 hari sebelum dipelihara lebih lanjut. Ikan yang sudah terlanjur terinfeksi dapat diobati melalui perendaman menggunakan metil biru, quinine, atau sodium klorida. Dosis serta cara pengobatannya sama seperri pemberantasan penyakit bintik putih.

e. Cacing insang dan cacing kulit

Sasaran cacing insang (Dacrylogyrus) selain insang juga kulir, tetapi cacing kulit (Gyrodacrylus) semata-mata hanya menyerang kulit. Dua macam parasit ini selama hidupnya berada pada tubuh ikan. Bila ikannya mati maka parasit ini siap mencari ikan lain. Tidak jarang tempat baru yang ditemukan adalah ikan-ikan yang telah dijangkiti parasit lain. Bila selama 10 jam setelah lepas belum juga menemukan ikan baru mereka akan mati.

Ikan yang terserang parasit Dactylogyrus frekuensi pernapasannya meningkat karena insangnya dirusak dan sering menimbulkan perdarahan. Namun, bila kulit ikan banyak mengeluarkan lendir, warna tubuh pucat, ikan lemas, tidak suka bergerak, serta sirip-sirip kuncup dapat dipastikan itu adalah akibat serangan parasit Gyrodacrylus.

Pengendalian

Untuk mengatasi parasit Dactylogyrus dan Gyrodactylus dilakukan dengan mengeringkan kolam dan atau menaburkan kapur. Dalam upaya mengurangi berjangkitnya penularan penyakit pada ikan lain dianjurkan untuk mengurangi padat penebaran. Jika infeksi terjadi sangat parah dan tidak mungkin bisa diselamatkan, lebih baik ikan dimusnahkan saja. Pengobatan bagi ikan yang belum terlalu parah sangat ampuh menggunakan formalin 25 ppm, caranya sama seperti pada pengobaran parasit lernaea.

f. Trichodina

Trichodina sering menyerang ikan yang sudah terjangkit parasit lain. Bagian badan yang diserang parasit ini menjadi pucat terkadang disertai dengan perdarahan dan bagian tubuh yang terinfeksi banyak mengeluarkan lendir. Namun, parasit Trichodina tidak menimbulkan kerugian yang besar.

Pengendalian

Usaha pengobaran bag ikan yang tertulari parasit Trichodina bisa dimandikan dalam larutan garam dapur (NaCl) 2,5% atau 2,5 g NaCl dalam 100 cc air selama 30 menit, dilakukan berturut-turut 3 kali selama 3 hari. Obat lain adalah larutan HCl quinine (1 g/50 liter air), ikan direndam selama 6 - 24 jam dalam larutan tersebut, sedangkan pengobatan dengan formalin konsentrasinya 25 ppm atau 2,5 cc formalin yang dicampurkan dengan 100 liter air bersih. Rendamlah ikan-ikan yang menderita sakit dalam larutan formalin selama 10 menit ditempat yang teduh, pengobatan diulang 2-3 kali dalam waktu 2 - 3 hari.

g.  Bakteri dan virus

Penyakit ikan yang disebabkan oleh bakteri dan virus belum banyak diketahui. Jenis bakteri yang sudah diketahui dan sering menimbulkan infeksi pada ikan antara lain bakteri Haemophiluspiscium dan beberapa spesies dan genus Aeromonas. Gejala umum yang diperlihatkan ikan yang terkena serangan bakteri dan virus yaitu ikan selalu dalam posisi vertikal di permukaan air atau bergerak berputar-putar atau miring. Terdapat kerusakan pada kulit seperti luka bakar, eksem, atau busuk seperti terkena cacar. Selain pada kulit juga seluruh sirip termasuk ekor tak luput dari serangannya hingga bentuk dan ekornya compang-camping, kadang-kadang yang tersisa tinggal jari-jarinya saja. Kalau yang diserang organ tubuh bagian dalam, perut ikan membengkak tidak normal dan bila dipijit akan keluar cairan kekuning-kuningan atau bahkan sering disertai dengan darah.

Bakteri dan virus bisa tumbuh subur pada wadah pemeliharaan yang kurang terawat secara baik. Oleh karena itu, menjaga dan mempertahankan tempat pemeliharaan tetap bersih dan sehat merupakan upaya pencegahan yang dapat menekan kerugian.

Pengendalian

Pengobatan ikan-ikan yang sakit bisa dilakukan melalui perendaman, pengusapan, atau pemberian pakan yang telah dicampur obat.

1). Perendaman

Jenis obat adalah antibiotik chioramphenicol, yaitu tetracyclin atau kemicitin. Obat tersebut dapat dibeli di apotik dalam bentuk kapsul beratnya 250 mg. Buatlah larutan dari obat tersebut 1 buah kapsul dicampur dengan 500 liter air bersih. Ikan yang sakit direndam selama 2 jam. Pengobatan ini dilakukan 3 - 5 kali berturut - turut selama 3 - 5 hari. Setiap kali selesai mengobati, ikan dipindahkan ke tempat yang berisi air bersih sambil diberi pakan.

2).   Usapan/olesan

Jenis obat yang digunakan adalah mercurochrome (obat merah) yang biasa dijual bebas dalam botol berkadar 2% mercurochrome. Obat merah tadi diencerkan 10 kali, yaitu 1 bagian mercurochrome dicampur dengan 9 bagian air. Ikan yang menderita luka diolesi obat yang telah diencerkan tepat pada bagian yang luka, selanjutnya dipindahkan ke tempat berair mengalir agar sisa obat yang beracun bagi ikan tercuci.

3). Pemberian pakan

Pengobatan melalui pakan jarang dilakukan karena biasanya ikan yang sakit tidak mau makan. Pengobatan ini terutama ditujukan bagi ikan yang terinfeksi bakteri pada organ tubuh bagian dalam. Jenis obatnya adalah Tetramycin. Caranya, timbang Terramycin sebanyak 1,5 - 2,0 g lalu campurkan ke dalam 1 kg pakan. Pakan yang telah dicampuri obat diberikan kepada ikan sebanyak 3% dari berat total ikan per hari untuk pagi, siang dan sore hari.

h. Jamur

Ciri khas akibat serangan jamur adalah pada badan ikan terlihat ada benang-benang halus berwarna putih seperti kapas. Sasaran bukan hanya benih atau ikan dewasa, tetapi telur juga bisa terinfeksi. Penyerangan terjadi terutama pada ikan yang sebelumnya sudah terjangkiti parasit lain atau ikan mengalami luka fisik sehingga penyerangannya merupakan infeksi kedua. Infeksi yang parah mengakibatkan ikan berputar-putar waktu berenang. Bila tidak segera ditangani, ikan menjadi kurus dan ahkirnya mati.

Penyakit ini disebabkan oleh dua jenis jamur yaitu jamur Achlya dan Saprolegnia. Meskipun sikius hidup kedua jamur ini belum diketahui secara pasti, tetapi keduanya sangat berbahaya. Mewabahnya jamur ini sering teriadi pada kondisi lingkungan yang banyak mengandung bahan-bahan organik dan sedang terjadi proses pembusukan. Serangannya menghebat terutama jika terjadi penurunan suhu air karena pada kondisi demikian ikan-ikan yang sehat pun akan terjangkiti maka secepatnya harus diambil tindakan pengobatan.

Pengendalian

Agar telur yang akan ditetaskan terbebas dan infeksi jamur sehingga hasil penetasan memuaskan, sebaiknya telur direndam dulu dalam larutan malachyte green 0,15 ppm. Larutan tersebut dapat dibuat dengan mencampurkan 150 mg malachyte green ke dalam 1.000 liter air bersih kemudian telur-telur direndam dalam larutan ini selama 30 - 60 menit.  Setelah itu, barulah telur dipindahkan ke tempat penetasan. Obat, dosis, dan cara pemberantasan jamur pada benih atau ikan dewasa sama seperti perendaman telur, tetapi pengobatannya diulang sampai 3 kali berturut - turut selama 3 hari.

Pengobatan dengan cara olesan bisa dilakukan pada ikan berukuran besar dengan mercurochrome 2% yang diencerkan 10 kali. Caranya sama seperti pemberantasan penyakit bakteri, tetapi sebelum dioleskan jamurnya digunting atau dicabuti dengan tangan. Setelah pengobatan, ikan ditempatkan dalam bak yang dialiri air agar sisa mercurochnome yang bersifat racun bagi ikan segera hilang.


Kamis, 04 Agustus 2022

PENYEBAB IKAN SAKIT

Terganggunya kesehatan ikan dapat pula diakibatkan oleh kondisi lingkungan seperti sifat fisika dan kimia air yang tidak cocok bagi ikan atau karena pakan yang tidak baik.

a. Kondisi pH

Kondisi pH yang dapat menggangu kehidupan ikan adalah pH yang terlalu rendah (sangat asam) atau sebaliknya terlalu tinggi (sangat basa). Setiap jenis ikan memperlihatkan respon berbeda terhadap fluktuasi perubahan pH, dan dampak yang ditimbulkannya pun bermacam - macam. Secara spesifik, keadaan pH akan berpenga­ruh dalam pemijahan ikan tertentu, seperti halnya dengan diskus hanya mau kawin dalam lingkungan sedikit asam yaitu pada pH 6, sedangkan kondisi optimal untuk penetasan telurnya pada pH 5. 

Di luar kondisi pH tersebut, pemijahan maupun penetasan telur diskus sering mengalami kegagalan. Oleh sebab itu, pengukuran pH untuk mengetahui pola perkembangannya perlu dilakukan agar dicapai produksi setinggi - tingginya.

b. Kekurangan oksigen

Gejala umum ikan yang kekurangan oksigen akan terlihat stres. Ikan sering muncul ke permukaan air mengambil napas langsung dari udara bebas dan berenang menghentak - hentak. Beberapa hal yang menjadi penyebab antara lain padat penebaran tenlalu tinggi, suhu tinggi, kurang atau tidak ada tanaman air sama sekali, kurang sinar matahari, dan tertimbunnya bahan organik dan sisa pakan ataupun tanaman air yang mati

Konsentrasi oksigen terlarut dalam wadah budi daya yang sa­ngat rendah menyebabkan ikan mudah terserang penyakit dan parasit, kadang - kadang tidak mau makan, dan tidak dapat berkem­bang biak dengan baik terutama pada konsentrasi oksigen kurang dari 4 ppm (4 mg/liter).  Oleh karena itu, tempat/wadah budi daya diupayakan tetap bersih, padat penebaran, dikurangi, kebutuhan sinar matahani cukup, tetapi intensitasnya tidak terlalu tinggi atau sebaliknya. Selain itu, penambahan tanaman air atau pemasangan aerator dapat menyumbangkan oksigen. Semuanya diatur sehingga tercapai keseimbangan yang tepat antara luas wadah budi daya, jumlah ikan yang ditanam, serta unsur - unsur lain yang dibutuhkan untuk kehidupan ikan yang ada di dalamnya.

c. Keracunan

Kerugian akibat keracunan biasanya fatal karena kematian terjadi secara massal, serentak, dan berlangsung cepat sehingga tidak sempat menyelamatkan ikan dan keadaan darurat tersebut. Penyebab kera­cunan bisa berasal dari pakan yang busuk atau adanya gas beracun seperti gas rawa, amonia, dan asam belerang.

Kondisi yang paling berbahaya adalah keracunan pestisida. Kadang - kadang pestisida sudah tercampur pada sumber air utama yang masuk ke lokasi budi daya sehingga seluruh areal perkolaman tercemari. Apalagi kalau sistem pengairannya secara paralel, semua kolam/bak masing - masing mendapat air baru dan saluran yang sama.

Penanggulangan sementara, saluran air yang masuk ke lokasi budi daya ditutup kalau racunnya berasal dari sumber air utama. Ikan yang belum terlalu parah (belum mati) dipunguti kemudian ditempatkan di kolam lain yang terbebas dari pencemaran. Kolam yang dijadikan tempat pengungsian, airnya harus mengalir dan bersih. Sebaiknya dipasang blower kemudian segera diperiksa air di sepanjang saluran untuk mengetahui bahwa aliran air itu masih beracun atau sudah normal kembali dengan melihat kehidupan organisme air yang ada di dalamnya. Jika sudah aman, pintu air dibuka dan dibiarkan hingga larutan racun yang ada di kolam hilang oleh aliran air baru.

d. Pakan Tidak Baik

Pakan dapat menimbulkan kerugian jika menjadi sumber infeksi penyakit, terutama bila komposisi gizinya buruk, misalnya kekurang­an vitamin atau mengandung bahan yang busuk dan beracun. Kualitas pakan yang buruk serta cara pemberian yang kurang tepat akan memicu peradangan yang serius pada saluran pencernaan se­hingga perut ikan terlihat membengkak dan terjadi perdarahan.

Komposisi pakan yang perbandingannya tidak sesuai, misalnya kandungan lemak atau karbohidrat berlebihan, dapat mengakibatkan penimbunan lemak sehingga organ seperti hati, ginjal, maupun jan­tung yang merupakan alat dalam tubuh ikan tidak dapat bekerja secara sempurna karena tertutup lapisan lemak. Pada ikan dewasa kelebihan lemak akan menghambat pemijahan. Jika gejala ini belum terlalu parah, penanggulangannya dilakukan dengan menghentikan pemberian pakan beberapa hari sampai kondisi ikan normal kembali. Dampak lain terutama dan pakan yang mengandung minyak ikan sering terjadi hipervitaminosis yang dapat memperlemah daya tahan tubuh, rerutama dari serangan bakteri maupun infeksi lainnya.

e. Perubahan suhu

Perubahan suhu yang mendadak mengakibatkan ikan menga­lami shock dan menderita stres. Nafsu makan ikan berkurang sejalan denhgan penurunan suhu.

Aklimatisasi benih ikan sebelum ditebarkan ke wadah baru

Jika penurunannya besar dan drastis, ikan akan berhenti makan, pertumbuhannya lambat, bahkan terhambat. Sebaliknya, jika terjadi kenaikan suhu yang ekstrem, ikan menjadi sulit bernapas. Jika hal ini berlangsung lama, ikan menjadi sangat rentan terhadap serangan penyakit dan parasit.

Untuk mengurangi risiko fatal akibat perubahan atau perbe­daan suhu, ikan yang akan dipindahkan ke tempat lain sebaiknya diberi penyesuaian (aklimatisasi) antara air lama sebagai media pengangkut dengan air di tempat baru.