Selasa, 29 Maret 2022

PERSIAPAN WADAH PEMELIHARAAN LARVA IKAN NILA

Pemeliharaan larva hasil pemijahan secara outdoor umumnya dilakukan di kolam pemijahan. Setelah memijah, induk betina dan jantan dipindahkan kembali ke kolam pemeliharaan induk. Setelah menetas, larva masih mepunyai cadangan makanan berupa kuning telur (yolk). Umur cadangan makanan tersebut berkisar 2 - 4 hari, tergantung jenis ikan. Kuning telur akan diserap habis dalam waktu antara 3 - 6 hari setelah menetas.

Fase penting dalam pemeliharaan larva ikan yaitu saat habisnya kuning telur sebagai cadangan makanannya. Saat kuning telur habis, larva akan mencari pakan yang sesuai dengan ukuran bukaan mulutnya. Jika pakan tersebut mudah ditemukan, pertumbuhan larva akan berlangsung dengan baik. Sebaliknya, larva akan mengalami kematian jika tidak tersedia pakan yang ukurannya sesuai dengan bukaan mulutnya.

Pada pembenihan di luar ruangan, penyediaan makanan untuk larva sudah dipersiapkan lewat penyediaan pakan alami melalui pemupukan dengan kotoran ayam. Ketersediaan pakan alami dalam jumlah terbanyak hendaknya tepat pada saat kuning telur ikan sudah terserap habis. Setelah 5 - 7 hari, larva mulai memakan pakan alami yang tersedia. Berkurangnya persediaan pakan ditandai dengan munculnya larva ikan di permukaan untuk mencari makanan. Jika demikian, berikan pakan tambahan berupa pelet atau tepung halus.

Pemberian pakan tambahan hendaknya merata ke seluruh area kolam. Hal ini untuk menjamin bahwa semua larva mempunyai kesempatan yang sama dalam mendapatkan makanannya sehingga tumbuh dengan baik dan mempunyai ukuran yang relatif seragam.

Tidak seperti pembenihan di luar ruangan (outdoor), pemeliharaan larva di dalam ruangan ini sangat tergantung pada ketersediaan pakan alami yang diberikan secara langsung kepada larva. Larva mulai dilatih untuk mengonsumsi pakan berupa artemia ataupun rebusan kuning telur yang diencerkan dengan air matang pada 2- 3 hari paska menetas (saat kuning telur masih tersedia). Tahapan ini dilakukan dalam waktu 3 - 4 hari.

Selanjutnya, larva mulai dilatih untuk mengonsumsi daphnia atau cacing rambut (tubifex). Agar bersih, tubifex perlu dicuci dengan larutan PK (kalium permanganat) dengan dosis 1 ppm selama 2 - 3 menit dan dibilas dengan air bersih sebelum diberikan pada larva. Pemberian pakan harus dilakukan secara bertahap dalam jumlah yang tidak terlampau banyak di awal pemberian. Setelah 5 - 7 hari, larva mulai dilatih untuk mengonsumsi pakan buatan berupa tepung pelet yang dibentuk sebagai pasta dengan air hangat. Pasta diletakkan pada tempat pakan berupa piring berlubang yang digantung dengan kedalaman 10 cm dari permukaan air.

Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam pemeliharaan larva agar angka mortalitas larva dapat ditekan seminimal mungkin, yaitu sebagai berikut:

Persiapan Wadah Pemeliharaan

Larva Ikan Nila

Persiapan wadah pemeliharaan larva merupakan hal yang harus dilakukan sebelum memulai pemeliharaan. Kegiatan persiapan tersebut melalui beberapa proses di antaranya pengeringan, pembersihan, perbaikan (wadah produksi, instalasi air, instalasi listrik, instalasi udara, serta saluranpembuangan), dan pengisian air. Penyiapan wadah pemeliharaan larva bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang optimal bagi larva sehingga bisa hidup, tumbuh dan berkembang, serta mengurangi serangan bakteri atau jamur. Wadah pemeliharaan larva harus sudah disiapkan 1 - 2 hari sebelum larva ditebarkan.

Persyaratan untuk pemeliharaan larva adalah air yang digunakan harus bersih dan jernih serta suhu air dan udaranya harus stabil dan tidak berfluktuasi. Sumber air bersih bisa berasal dari sumur pompa atau sumur gali. Untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air dan menguapkan gas-gas lain yang merugikan, sebelum digunakan sebagai media pemeliharaan, air diaerasi terlebih dahulu selama 1 - 2 hari atau dengan menampungnya terlebih dahulu dalam bak tandon air. Pada bak tandon tersebut juga dipasang aerasi dari blower atau aerator selama 24 jam.

Untuk mencegah timbulnya jamur dan bibit penyakit pada larva ikan, berikan larutan larutan methylene blue (MB) pada media pemeliharaan dengan takaran sesuai dengan aturan yang tercantum pada label kemasan. Perlakuan ini diberikan minimal 1 - 2 hari sebelum larva ikan dimasukkan.

Untuk menjaga suhu air tetap dalam kondisi stabil, lengkapi wadah pemeliharaan dengan heater atau sumber panas yang berasal dari pemanas ruangan berupa lampu listrik atau kompor. Persiapan selanjutnya adalah pemasangan instalasi penetasan. Pada tahapan ini, penggunaan aerasi dari blower atau aerator ke dalam wadah pemeliharaan diperlukan untuk menyuplai oksigen terlarut. Hal ini karena larva patin sangat peka terhadap kekurangan oksigen. Aerasi dipasang pada setiap bak atau wadah pemeliharaan larva. Tekanan aerasi dibuatsedemikian rupa agar tidak terlalu kencang sehingga larva tidak mudah stres. Untuk mengurangi goncangan akibat gelembung air yang terlalu besar, pada ujung selang aerator bisa ditempatkan sebuah batu aerasi. Selama pemeliharaan larva berlangsung, aerasi harus selalu dihidupkan.

Selasa, 01 Maret 2022

PENGELOLAAN INDUK IKAN NILA

Menyiapkan Calon Induk

Calon induk yang akan digunakan sebagai bakalan penghasil bibit ikan nila harus diperhatikan kualitasnya. Banyak induk ikan nila yang ada di masyarakat sudah menurun kualitasnya. Induk yang kualitas genetisnya kurang baik, jika dipijahkan akan menghasilkan keturunan yang jelek dan kualitas benihnya rendah. Karena itu sebaiknya menggunakan induk yang berasal dari institusi yang ditunjuk sebagai penyedia benih, misalnya balai penelitian perikanan.

Induk yang akan digunakan adalah induk yang siap memijah atau induk yang belum siap memijah. Jika menggunakan induk yang siap memijah, dana yang disediakan cukup besar karena harganya relatif mahal. Sebaliknya jika menggunakan bakalan induk, diperlukan waktu pemeliharaan untuk membesarkan bakalan induk hingga mencapai ukuran dan umur untuk siap memijah (matang kelamin).

Tanda-tanda induk nila berkualitas baik sebagai berikut :

- Kondisi sehat.

- Bentuk badan normal.

- Sisik besar dan tersusun rapi.

- Kepala relatif kecil jika dibandingkan dengan badan.

- Badan tebal dan berwarna mengkilap (tidak kusam).

- Gerakan lincah.

- Memiliki respon yang baik terhadap pakan tambahan.

Jumlah induk yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan sangat tergantung dari besar-kecilnya target produksi yang akan dicapai. Artinya semakin tinggi target produksi yang direncanakan, jumlah induk yang diperlukan juga semakin banyak. Ikan nila tergolong ikan yang memiliki jumlah telor yang relatif sedikit dalam sekali memijah, sehingga jumlah larva yang dihasilkan juga sedikit Induk ikan nila betina sudah matang kelamin pada umur 5 s.d 6 bulan dengan berat 200 s.d 250 gram mengandung telur 500 s.d 1000 butir. Dari jumlah telur tersebut bisa diperoleh larva 200 s.d 400 ekor larva. Meskipun jumlah telurnya sedikit namun ikan nila mempunyai frekuensi memijah yang rekatif sering . Hal ini dapat kita lihat dari rentang waktu antarpemijahan yang singkat, yaitu 3 s.d 6 minggu. Masa produktif ikan nila 1,5 s.d 2 tahun. Jika telah berumur diatas 2 tahun, induk harus sudah diganti dengan induk baru. Jika induk yang tua tetap dipijahkan biasanya kualitas benih yang dihasilkan akan menurun.

Induk Ikan Nila

Berikut ini adalah ciri-ciri induk nila jantan dan induk nila betina :

Ciri-ciri Induk Jantan

- Bentuk tubuh: Lebih rendah dan memanjang

- Warna tubuh: Lebih gelap

- Jumlah lubang kelamin: Satu lubang (untuk keluar seperma sekaligus urin)

- Bentuk kelamin: Tonjolan agak meruncing

Ciri-ciri Induk Betina

- Bentuk tubuh: Lebih tingi dan membulat

- Warna tubuh: Lebih cerah

- Jumlah lubang kelamin: Dua lubang: Untuk mengeluarkan telur dan untuk mengeluarkan urin.

- Bentuk kelamin: Tidak menonjol dan bentuk bulat

Memelihara Induk

Sebelum dipijahkan induk jantan dan induk betina dipelihara dalam kolam terpisah. Posisi kolam induk dibuat sedemikian rupa sehingga air buangan dari induk betina tidah mengalir ke kolam induk jantan atau sebaliknya. Jika tidak dibuat demikian, maka bau tubuh induk betina yang terbawa arus air ke kolam induk jantan maka akan merangsang induk jantan untuk memijah, sehingga terjadi pemijahan liar. Keuntungan pemisahan antara induk jantan dengan induk betina antara lain:

- Kualitas telur yang dihasilkan lebih baik.

- Mudah melakukan seleksi induk.

- Bisa dengan mudah untuk menyeleksi induk yang sudah dengan yang belum dipijahkan.

Untuk mendukung kondisi induk, diusahakan kondisi lingkungan tempat pemeliharaan induk dalam keadaan baik. Selain itu pemberian pakan tambahan harus mencukupi agar perkembangan gonade (telur dan seperma) optimal. Untuk menciptakan kondisi ini kolam pemeliharaan induk air harus mengalir dan pakan tambahan yang diberikan harus mencukupi, yaitu ± 3 % dari bobot total induk yang dipelihara, dengan kandungan protein tinggi yaitu diatas 35%.

Adapun langkah-langkah penetasan secara intensif sebagai berikut :

Pematangan gonad bertujuan untuk mempercepat perolehan telur yang berkwalitas agar berdaya tetas tinggi. Artinya, ketika terjadi pemijahan, telur yang dikeluarkan oleh induk nila adalah telur yang matang dan siap dibuahi. Pematangan gonad ini dilakukan didalam beton atau di dalam hapa. Jika menggunakan bak beton, sebaiknya dipilih yang berukuran 20-30 m2. Namun jika menggunakan hapa, ukuran panjang 6m lebar 4m dan tinggi 1m. Hapa dipasang di kolam yang cukup luas, sekitar 1000-2000m2 dengan kedalaman 1-1,5m. Pemasangan hapa dilakukan sedemikian rupa sehingga mudah dikontrol. Agar posisi hapa kokoh, sebaiknya setiap sudutnya diikatkan di tiang bambu.

Jumlah pemasangan hapa ada 6 buah (3 untuk induk jantan dan 3 untuk induk betina). Hapa pertama berisi induk yang sudah dipijahkan. Hapa kedua untuk induk yang hampir matang gonad dan hapa ketiga untuk hapa yang sudah matang gonad atau siap dipijahkan. Pada penebaran dalam hapa 5-10 ekor/m2. Pematangan gonad terjadi dalam 2 minggu dan harus didukung dengan pemberian pakan bergizi tinggi dengan dosisi 5% dari berat total induk/ hari. Selain itu, air kolam harus jernih dan selalu mengalir agar suplai oksigen induk terpenuhi.

Kamis, 24 Februari 2022

PENEBARAN DAN PEMBERIKAN PAKAN LARVA IKAN NILA

Agar tidak menyebabkan larva stres, prosesi penebaran larva harus dilakukan secara hati-hati, yakni dengan cara memperhatikan kondisi air serta kesesuaian pada air pemeliharaan. Pada saat penebaran larva, aerasi sebaiknya dikecilkan; ketinggian air pada bak pemeliharaan diupayakan 20-50 cm; dan padat penebaran optimal 30 ekor larva/I dan 50-60 ekor/I. Seiring dengan pertumbuhan larva menjadi benih, perlu dilakukan pemindahan dan penjarangan kepadatan. Idealnya, penebaran larva dilakukan setelah larva berumur minimal 5 jam dari penetasan dan larva yang ditebar harus sudah terbebas dari sisa telur yang tidak menetas.Bila wadah penetasan telur juga difungsikan sebagai wadah pemeliharaan larva, tidak perlu dilakukan pemindahan larva.

Padat penebaran benih ikan nila di kolam tanah yaitu 5-10 ekor/m2, dengan ukuran 8-12 cm dengan berat rata-rata ± 30 gram/ekor. Padat penebaran benih tergantung dari tingkat kesuburan kolam, namun padat tebat yang dianjurkan 5-10 ekor/m2. Benih yang ditebar sebaiknya berukuran yang sama yaitu berukuran 8-12 cm atau berat lebih kurang 20 gram per ekor.

Penebaran benih ikan nila dapat dilakukan dengan beberapa langkah di bawah ini.
1. Padat penebaran sebaiknya 3 kg/m3 atau 30-40 ekor/m3 dengan ukuran 75-100 gram/ekor.
2. Sebaiknya benih yang akan ditebar, direndam dengan menggunakan garam grosok dengan dosis 5 gram/10 liter air selama 15 – 30 menit untuk sterilisasi.
3. Sebelum dilakukan penebaran benih perlu dilakukan penyesuaian suhu agar benih tidak stress (aklimatisasi).

Penebaran benih dapat dilakukan dengan cara :
1. Sebelum ditebar (jika diperlukan) benih disuci hamakan dengan direndam dalam larutan garam grosok sebanyak 5 gram/10 liter air dalam waktu 15-30 menit.
2. Adaptasi suhu, agar suhu air didalam kemasan ikan sama dengan suhu air di kolam, yaitu dengan cara wadah/kemasan benih direndam didalam air selama beberapa waktu sebelum ditebar kedalam wadah.
3. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada waktu pagi atau sore hari.
4. Benih ikan berukuran 20 gram/ekor dengan padat tebar 100 ekor/m2 atau 50 gram/ekor dengan padat tebar 20 ekor/m2.

Larva ikan nila akan berkembang menjadi benih yang telah kehabisan kuning telur makanan cadangan. Sebagai pengganti makanan cadangan tersebut maka perlu diberikan makanan tambahan. Makanan tambahan ini berupa tepung halus.Makanan ini terbuat dari campuran tepung ikan, minyak ikan, mineral, dan vitamin. 

Selain makanan alami yang tersedia dikolam diberikan makanan tambahan pakan (pelet) dengan kandungan protein minimal 25 %, dengan frekuensi pemberian pakan 2-3 kali sehari yaitu : pagi, siang dan sore hari. Jumlah pakan yang diberikan 3-5 % dari berat biomas ikan perhari.

Pakan tambahan yang harus diberikan harus berprotein tinggi minimal 25 %.Pakan tambahan yang berprotein tinggi adalah pellet, baik berupa tepung maupun butiran. Walaupun kandungan protein tidak seperti pellet, namun dedak halus sangat disukai oleh ikan nila.

Pakan tambahan untuk benih gelondongan besar berupa pellet besar dengan kadar protein 25 %. Benih-benih yang masih kecil pakan tambahannya hanya sedikit, yang utama adalah pakan alami. Kalau pakan tambahan lebih diutamakan untuk benih yang masih kecil mengakibatkan pertumbuhannya lambat dan banyak kematian.

Selasa, 01 Februari 2022

MACAM WADAH PEMELIHARAAN LARVA IKAN NILA

Pemeliharaan larva ikan umumnya dilakukan di bak fiberglass, akuarium, dan bak terpal plastik. Wadah pemeliharaan larva ikan tersebut ditempatkan dalam ruangan yang terlindungi seperti di hatchery atau ruangan sederhana yang tertutup rapat sehingga bisa mencegah gangguan dari lingkungan luar seperti perubahan suhu, cuaca, curah hujan, angin, dan hama predator.

Pemeliharaan larva ikan dilakukan selama 21-30 hari atau jika benih ikan telah mencapai ukuran 3/4 - 1 inci/ekor. Benih ikan yang telah mencapai ukuran 1 inci selanjutnya didederkan ke kolam atau bak yang lebih luas.

Pemeliharaan larva di bak fiberglass

Fiberglass yang umum dipakai untuk pemeliharaan larva/benih ikan berukuran panjang 2 m, lebar 1 m, dan tinggi 0,5 m atau bak fiberglass bulat berdiameter 1,5 m. Bentuk bak fiberglass ada yang bulat/oval atau empat persegi. Untuk jumlah larva ikan sebanyak 200.000 ekor, diperlukan bak fiberglass sebanyak 12 buah. Tinggi air pada bak pemeliharaan berkisar 30-40 cm.

Bak Fiberglass

Bak fiberglass bisa diperoleh dengan membeli di toko akuarium atau di toko alat-alat perikanan. Bak fiberglass tergolong praktis dan mudah dalam pengelolaannya dan bisa dipindah-pindahkan. Namun, harga sebuah bak fiberglass masih terbilang mahal.

Seperti halnya di akuarium, pemeliharaan larva di bak fiberglass juga ditempatkan di dalam ruangan yang tertutup rapat dan terlindung. Tujuannya untuk mempertahankan suhu air dan suhu ruangan tetap stabil. Pada bak fiberglass juga dilengkapi dengan beberapa titik aerasi dan heater.

Pemeliharaan larva di akuarium

Selain berfungsi sebagai tempat penetasan telur, akuarium juga berfungsi sebagai tempat pemeliharaan larva sampai larva berkembang menjadi benih dengan ukuran tertentu atau berukuran 3/4-1 inci/ekor. Akuarium yang umum digunakan untuk pemeliharaan larva ikan antara lain berukuran panjang 80-100 m, lebar 40-60 cm, dan tinggi 40 cm. Akuarium ukuran tersebut dapat diisi dengan larva ikan sebanyak 5.000 ekor.

Akuarium sebagai tempat penetasan telur dan pemeliharaan larva

Untuk larva sebanyak 200.000 ekor, diperlukan akuarium sebanyak 40 buah. Namun, jumlah akuarium yang dibutuhkan tergantung dari larva yang akan dipelihara.

Akuarium-akuarium tersebut disusun dan diletakan pada rak-rak yang dibuat dari besi atau kayu. Setiap akuarium dilapisi dengan styrofoam atau gabus yang berfungsi untuk mencegah retak dan pecahnya akuarium. Jumlah akuarium yang dibutuhkan disesuaikan dengan jumlah telur dan larva yang akan dipelihara. Setelah menetas menjadi larva, benih tersebut kemudian dijarangkan menjadi beberapa akuarium. Pada setiap akuarium dilengkapi dengan beberapa titik aerasi dan heater.

Pemeliharaan larva di bak semen

Bak pemeliharaan untuk larva ikan dapat terbuat dari bak semen. Pemeliharaan larva ikan di bak semen hendaknya dilakukan setelah benih mulai makan cacing sutera atau sekitar umur 10 hari dari penetasan. Jika pemeliharaan larva dilakukan setelah larva menetas (umur 1 hari) tingkat kematian atau mortalitas benih sangat tinggi.

Bak semen untuk pemeliharaan larva ikan tersebut hendaknya ditempatkan di dalam ruangan tertutup dan terlindung. Tujuannya untuk mempertahankan suhu air dan ruangan tetap stabil. Jika pemeliharaan larva berada di ruang terbuka, maka pada wadah pemeliharaan tersebut di atas dan dindingnya diberi penutup atau pelindung berupa tutup plastik agar suhu di dalam wadah pemeliharaan tetap stabil. Pada bak semen tersebut dilengkapi dengan beberapa titik aerasi dan pemanas air (heater).

Bak semen yang umum digunakan untuk pemeliharaan larva ikan berukuran lebar 1 m, panjang 2-4 meter dan tinggi 0,8 m. Bak pemeliharaan dilengkapi dengan saluran pemasukan atau pengeluaran yang terbuat dari pipa paralon. Fungsi kedua seluran tersebut adalah untuk memudahkan pengeringan dan pengisian air. Tinggi air pada bak pemeliharaan larva ikan dapat diatur mulai dari 20-50 cm. Pemeliharaan larva ikan di bak semen dilakukan sampai dengan benih ukuran 3/4-1 inci/ekor. Setelah benih mencapai ukuran tersebut, benih dipindahkan ke kolam pendederan yang lebih luas.

Pemeliharaan larva di bak terpal plastik

Terpal plastik bisa dijadikan sebagai alternatif tempat pemeliharaan larva ikan. Metode pemeliharaan pada terpal sudah banyak dipakai oleh para pembudidaya patin karena praktis dalam pengelolaannya dan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi.

Bak terpal plastik yang umum digunakan untuk pemeliharaan larva ikan berukuran 2 m x 1 m x 0,5 m. Pembuatan bak terpal adalah dengan membuat rangka bak dari bahan kayu, kemudian sebagai dasar bak serta sisi-sisi dinding bak digunakan plastik terpal. Bak terpal plastik untuk pemeliharaan larva, ditempatkan dalam ruangan yang tertutup rapat dan terlindung seperti di hatchery.

Padat penebaran larva di bak terpal plastik adalah 40 ekor/l. Untuk jumlah larva ikan sebanyak 200.000 ekor, diperlukan bak terpal plastik sebanyak 12-14 buah. Waktu pemeliharaan larva ikan di dalam bak terpal plastik yaitu 21-30 hari atau jika benih ikan telah mencapai ukuran 3/4-1 inci/ekor. Selanjutnya, benih dipindahkan atau didederkan lebih lanjut ke kolam lain yang lebih luas.

Kamis, 27 Januari 2022

PENDEDERAN IKAN NILA

Pendederan adalah suatu kegiatan pemeliharaan benih ikan setelah periode larva sampai dihasilkan ukuran benih tertentu yang siap didederkan kembali atau siap ditebarkan di kolam pembesaran. Pendederan juga menjadi tahapan yang tepat untuk menyeleksi benih-benih unggul.

Pendederan benih ikan dimulai dari benih ukuran 3/4-1 inci (umur 21-30 hari) dari hasil pembenihan. Namun umumnya pembudidaya ikan mulai melakukan pendederan dari benih yang berukuran 1 inci/ekor.

Tahapan Pendederan Benih Ikan

Pendederan benih ikan nila dilakukan dalam 2 tahap, yaitu tahap pertama dan tahap kedua. Pada pendederan tahap pertama, pemeliharaan benih dilakukan hingga benih mencapai ukuran 2 - 3 inci/ekor, yakni selama 1 bulan pemeliharaan. Sedangkan pada pendederan tahap kedua, pemeliharaan dilakukan pada benih hasil pendederan pertama (ukuran 2 inci/ekor) hingga ukuran benih mencapa 3 - 4 inci/ekor, yakni selama 1 bulan pemeliharaan. Selanjutnya, benih ukuran 3 - 4 inci tersebut pun siap untuk ditebarkan di kolam pembesaran.

Kolam Pendederan

Pendederan benih ikan dapat dilakukan di kolam tanah, kolam semen, dan bak terpal plastik. Luas kolam untuk pendederan benih sebaiknya jangan terlalu luas untuk memudahkan pengelolaan dan pengawasan selama pemeliharaan. Kolam pendederan idealnya berbentuk empat persegi panjang serta mempunyai saluran pemasukan dan pengeluaran air. Pada bagian tengah dasar kolam dilengkapi dengan saluran tengah atau kemalir yang berfungsi untuk memudahkan penangkapan ikan saat dipanen.

1. Pendederan di kolam tanah

Secara teknis, pendederan di kolam tanah lebih sederhana dengan investasi yang lebih rendah. Petakan kolam budidaya umumnya berbentuk empat persegi panjang. Pada kolam tanah, jenis tanah untuk kolam pendederan menjadi faktor utama. Dasar dan dinding kolam harus kedap air dan kuat menahan air kolam secara permanen dan tanah dipilih yang tidak porous (dapat menahan air), berstruktur kuat, dan tidak berbatu. Jenis tanah yang baik untuk dijadikan kolam adalah tanah liat atau lempung. Secara umum, patin lebih menyukai kolam yang bersifat alami sehingga sebaiknya dasar kolam tetap dari tanah. Sedangkan untuk pematang dapat dibuat dari tanah atau semen/tembok.

Kolam pemeliharaan umumnya berukuran 50-500 m2 per kolam. Pada budidaya ikan secara intensif, luas kolam dianjurkan jangan terlalu luas karena akan mempersulit ketika melakukan pengelolaan air dan pengawasan hama penyakit. Luas kolam sebaiknya disesuaikan dengan lokasi, ketersediaan lahan, dan suplai air.

Ketinggian air dari dasar kolam dapat diatur, mulai dari ketinggian 50-80 cm atau tergantung dari ukuran benih dan padat penebaran. Jika benih ikan yang dipelihara masih berukuran kecil, kedalaman air kolam cukup 40 - 50 cm. Semakin besar ukuran ikan dan padat populasinya, ketinggian air harus ditambah sampai ketinggiannya optimal (kira-kira 80 cm). 

Tiap petakan kolam mempunyai pintu pemasukan (inlet) dan pintu pengeluaran (outlet) yang terpisah untuk keperluan penggantian air, penyiapan kolam sebelum ditebari benih, dan pemanenan. Dasar kolam dibuat miring antara 3-5% ke arah pintu pembuangan air atau kemalir.

Pada dasar kolam dibuat kemalir, yaitu saluran air tengah dengan ukuran lebar 50-100 cm dan kedalaman antara 30-50 m dari pelataran kolam. Posisi kemalir melintang dari pintu pemasukan ke arah pintu pengeluaran. Dasar kemalir sedikit miring ke arah pembuangan untuk memudahkan pengeringan air dan pengumpulan patin pada waktu panen. Selain untuk mempermudah penangkapan ikan pada waktu panen, kemalir berfungsi sebagai tempat berteduh bagi ikan pada siang hari karena air yang dalam itu menyebabkan suhu di dasar kemalir tetap dingin.

2. Pendederan di kolam semen

Kolam pendederan untuk benih patin bisa terbuat dari tembok yang disemen. Kolam pemeliharaan dapat dibuat dari semen seluruhnya dengan dasar kolam diberi pasir atau dindingnya saja dari tembok, sedangkan dasarnya masih tanah. Kolam pemeliharaan umumnya berukuran 20-200 m2 per kolam. Maksudnya agar pengelolaan air dan pengawasannya lebih mudah.

Ketinggian air dari dasar kolam bisa diatur, mulai dari ketinggian 50-80 cm atau tergantung dari ukuran benih dan padat penebaran. Jika patin yang dipelihara masih berukuran kecil, kedalaman air kolam cukup 40-50 cm. Namun, semakin besar ukuran ikan dan padat populasinya, ketinggian air harus ditambah sampai ketinggian optimal (sekitar 80 cm). Tiap petakan kolam memiliki pintu pemasukan (inlet) dan pintu pengeluaran (outlet) yang terpisah yang dibutuhkan untuk beberapa kegiatan seperti penggantian air, penyiapan kolam sebelum ditebari benih, dan pemanenan. Dasar kolam idealnya dibuat miring antara 3 - 5 % ke arah pintu pembuangan air atau kemalir.

Seperti halnya di kolam tanah, pada kolam semen juga harus dilengkapi dengan kemalir, yaitu saluran air tengah kolam yang berukuran lebar 5 0 - 8 0 cm dengan kedalaman 3 0 - 5 0 m dari pelataran kolam. Posisi kemalir dibuat melintang dari pintu pemasukan ke arah pintu pengeluaran. Oleh karena disesuaikan dengan dasar kolam, dasar kemalir juga dibuat sedikit miring, yakni ke arah pembuangan. Hal ini untuk memudahkan pengeringan air dan pengumpulan patin ketika panen. Selain itu, kemalir berfungsi sebagai tempat berteduh bagi ikan pada siang hari karena air yang berada di bagian dalam kemalir suhunya tetap dingin.

Pintu pemasukan dan pengeluaran air pada kolam semen bisa terbuat pipa paralon PVC (ukuran 2-4 inci) yang disusun sebagai sistem pipa goyang atau sistem sipon. Sistem ini sudah umum diaplikasikan pada usaha pendederan patin secara intensif dan modern. Melalui sistem ini, penggantian air, pembuangan kotoran, serta sisa-sisa pakan di dasar kolam diharapkan akan menjadi lebih mudah.

Pemasangan pipa paralon dan keni dibuat rata dengan dasar kemalir dan dengan tanah di luar kolam. Ujung pipa paralon yang terdapat di dalam petakan kolam perlu dibungkus dengan kawat kasa sebagai saringan. Tujuannya agar patin tidak lolos melalui lubang paralon ketika air diganti atau ketika ikan dipanen.

3. Pendederan di kolam terpal plastik

Penggunaan kolam terpal untuk pemeliharaan ikan nila merupakan salah satu alternatif wadah pendederan yang sering digunakan oleh para pembudidaya ikan nila. Terpal yang digunakan harus berupa plastik kualitas nomor satu, yakni memiliki ketebalan A5 atau A6 dengan ukuran lebar 6-8 m dan panjang 8-12 m. Ukuran tersebut dapat menghasilkan sebuah kolam terpal dengan ukuran lebar 4-6 m, panjang 6-10 m, dan tinggi sekitar 1 m.

4. Pendederan di KJA

Pendederan Nila di KJA

Pendederan di Keramba Jaring Apung (KJA) bertujuan untuk efisiensi penggunaan lahan. Pendederan di KJA bisa dilakukan di KJA yang berukuran 7 x 7 x 1,1 m (54 m2) dibuat dari jaring yang mata jaringnya berukuran kecil (waring). KJA ditempatkan di dalam waduk atau danau. Penebaran ikan nila di KJA dapat dilakukan dengan kepadatan yang tinggi tetapi kondisi air di danau atau waduk baik. Pendederan dilakukan untuk menjaga ketersediaan benih tepat waktu untuk pembesaran di KJA. Dengan demikian, tingkat kelangsungan hidup selama pembesaran di KJA lebih tinggi dibandingkan benih hasil pendederan yang dilakukan di kolam atau sawah. Perbedaan yang mendasar yang membedakan pendederan di KJA dan pendederan II di kolam adalah padat tebar bisa ditingkatkan menjadi 185 ekor/m3 atau 10.000 ekor/petak. Pemeliharaan di KJA pada umunya dilakukan lebih lama yakni 3 bulan dengan ukuran tebar minimal 15 gram/ekor. Dengan demikian, ukuran panennya akan lebih besar, yakni 30-50 gram/ekor. Ukuran tersebut cukup ideal untuk pembesaran lebih lanjut di KJA untuk diperoleh hasil panen ukuran ekspor yakni 500-600 gram/ekor.

Tingkat kelangsungan hidup pada pendederan relatif tinggi, yakni sekitar 70%. Pada pendederan di KJA, pakan tambahan mutlak diberikan karena jumlah pakan alami di dalam danau atau waduk relatif sedikit. Pakan tambahan yang diberikan berupa pelet. Frekwensi pemberiaan pakan dilakukan 3 kali sehari sebanyak 3% dari berat total ikan yang dipelihara. Untuk mengetahui berat ikan yang dipelihara, secara periodik setiap satu minggu dilakukan sampling sehingga jumlah pakan yang diberikan tepat dan dapat dimanfaatkan secara optimal. Pemanenan di KJA lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan pemanenan di sawah, kolam, dan tambak karena tidak perlu mengeringkan air, tetapi cukup menarik jaring ke atas permukaan dan ikan terlihat ditangkap dengan menggunakan seser. Cara lain yang dapat diterapkan adalah menggiring ikan ke salah satu sudut jaring ikan terkumpul dan menangkapnya. Ikan yang sudah ditangkap selanjutnya dimasukan di dalam ember atau hapa yang berukuran kecil, kemudian ditebar ke KJA k usus pembesaran (Khairuman dan Amri, 2003).

Selasa, 11 Januari 2022

PENGELOLAAN AIR PEMELIHARAAN LARVA IKAN NILA

Pengelolaan air merupakan salah satu kunci keberhasilan pemeliharaan larva ikan. Pengelolaan air bertujuan menyediakan lingkungan hidup yang optimal bagi larva agar dapat hidup, berkembang, dan tumbuh secara optimal. Prinsip pengelolaan air adalah memasukkan zat yang bermanfaat seperti O2 atau air baru ke dalam wadah budidaya dan mengeluarkan yang tidak bermanfaat bahkan merugikan seperti sisa pakan, kotoran ikan, amoniak (NH3), atau CO2.

Pengelolaan air dapat dilakukan dengan melakukan penggantian sebagian air media pemeliharaan larva. Air merupakan media yang paling vital bagi kelangsungan hidup ikan. Suplai air yang memadahi akan mencegah berbagai masalah dalam budidaya ikan secara intesif, yaitu dengan cara menghanyutkan kumpulan dari bahan buangan dan bahan beracun, sehingga kondisi air tetap terpelihara. Selain jumlahnya, kualitas air yang memenuhi syarat merupakan salah satu keberhasilan kunci budidaya. Ada beberapa parameter air yang bisa diamati untuk menentukan kualitas suatu perairan.

Suhu
Setiap ikan mempunyai temperatur tertentu untuk mempertahankan pertumbuhan ikan agar tetap normal. Di luar kisaran temperatur tersebut ikan akan mengalami gangguan. Perubahan temperatur yang terlalu drastis dapat menimbulkan gangguan terhadap laju respirasi, aktifitas jantung, aktifitas metabolisme dan aktifitas lainnya.

Pertumbuhan ikan yang baik memerlukan temperatur optimum 25-29 C dan perubahan suhu pada siang hari dan malam hari tidak lebih 5 C. Suhu air yang optimal untuk ikan nila adalah 25 C sampai 30 C. Perubahan (fluktuasi) suhu yang terlalu tinggi dapat menggangu kelangsungan hidup ikan nila. Kehidupan ikan nila mulai tergganggu pada suhu di bawah 14 C atau diatas 38 C. Ikan nila akan mati apabila pada perairan yang suhunya di bawah 6 C atau di atas 42 C. Suhu yang optimal untuk pertumbuhan ikan nila adalah 28-32 C.

pH
Derajat keasaman ditentukan oleh konsentrasi ion H+ yang dinyatakan dalam angka 1-14. Derajat keasaman air sangat berkaitan dengan tingkat kesuburan air untuk memelihara ikan. pH yang cocok untuk sebagian besar ikan air tawar berkisar antara 6,5-7,5. Keasaman air yang ideal untuk memelihara ikan berkisar 7,5-8,5 namun pH 6,5-9 masih tergolong baik untuk memelihara ikan dan darajat keasaman dan konsentrasi diatas 11 akan bersifat racun bagi ikan. Ikan nila dapat tumbuh dengan pH optimum yang dapat menunjang perkembangan dengan baik adalah 6,5-8

Kamis, 19 Agustus 2021

KUNCI SUKSES BUDIDAYA BAWAL

Tempat Budidaya

Budidaya ikan bawal lebih efektif jika dilakukan pada kolam air deras mengingat ikan bawal bisa hidup di sungai yang mengalir deras. Walaupun demikian bawal juga bisa dibudidayakan di kolam air tenang. Budidaya ikan di karamba dan jaring apung pun mampu mendatangkan keuntungan yang besar. Budidaya ikan bawal pada kolam air deras dapat dilakukan apabila di lokasi tersedia debit air yang lebih besar dari 20 liter/detik. Untuk mengukur debit air bisa dilakukan mengukur L (lebar) X T (tinggi) X P (panjang) saluran yang akan dijadikan sampel. Misalnya, lebar 30 cm, dan panjang saluran 10 m (diberi batas). dengan menggunakan stop watch, kita bisa mengukur kecepatan air di sepanjang saluran. Untuk itu kita perlu menggunakan bahan yang terapung. Bila hasilnya, misalkan 30 detik, maka debit airnya adalah 0,3 m X 0,3 m X 10 m/30 detik = 0,9 m3/30 detik = 900 lt/30 detik = 30 liter/detik. Ikan bawal bisa di pelihara di karamba yang diletakkan di sungai atau saluran irigasi. Lokasi yang digunakan untuk meletakkan karamba hendaknya dipilih yang airnya tidak tercemar limbah kimia.

Benih

Benih merupakan komponen yang sangat penting untuk diperhatikan dalam suatu budidaya, termasuk budidaya ikan bawal. Benih ikan bawal yang akan ditebar hendaknya dipilih yang berkualitas. Benih unggul diperoleh dari indukan unggul. Kriteria induk unggul yaitu saat masih muda sudah berbadan besar dan sangat matang gonad (berumur 3 tahun), bobotnya minimal 3 kg.

Benih Bawal

Benih ikan bawal yang di tebar untuk pembesaran secara intensif adalah berukuran panjang 3,2 - 3,5 cm, berumur kurang lebih 45 hari. benih ikan bawal ukuran tersebut untuk bobot 400 - 500 gr membutuhkan waktu 5 - 6 bulan. Padat tebar menurut jenis wadah budidaya intensif adalah :

  • Kolam air deras (KAD) : 50 ekor/m3.
  • Karamba : 20 ekor/m3.
  • Karamba jaring apung (KJA) : 50 ekor/m3.

Benih yang baik mempunyai ciri tubuh normal, pergerakan aktif dan lincah terhadap arus maupun rangsangan dari luar. Ukuran benih seragam.

Pengelolaan Pakan

Pemberian pakan harus dilakukan dengan jumlah yang tepat. Artinya, pakan yang diberikan tidak berlebih atau kurang. Pakan berlebih akan memperburuk kualitas air karena sisa pakan, sementara kekurangan pakan akan mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi lambat. Pakan ikan untuk budidaya ikan bawal bisa dibuat sendiri atau dengan membeli. Kandungan protein pakan yang diberikan untuk pembesaran minimal 25% dalam sehari jumlah pakan diberikan adalah 3 % dari berat total ikan aktual (biomass), yaitu berat rata-rata ikan X jumlah populasi dalam kolam. Pakan sejumlah itu dibagi menjadi tiga, yaitu untuk diberikan pagi, siang, dan malam. Misalnya berat rata-rata ikan 100 gram, populasi dalam kolam 10.000, berarti biomass dalam kolam 1.000 kg. Jumlah pakan perhari adalah 1,000 kg X 3 % = 30 kg. Dalam sehari pakan yang diberikan adalah 30 kg untuk tiga kali pemberian. Nafsu makan ikan dipengaruhi oleh suhu air. Pada pagi hari suhu air sekitar 22 ⁰C. Pada suhu ini nafsu makan ikan kurang baik. Oleh sebab itu jumlah pakan yang diberikan dikurangi untuk ditambahkan pada pemberian pada siang dan sore hari.

Pengelolaan Kualitas Air

Pada budidaya pada kolam air deras dan karamba, kualitas air yang digunakan untuk budidaya perlu diperhatikan. Apabila ada tanda bahwa kondisi berbahaya bagi ikan maka harus dilakukan tindakan penyelamatan.

Pencegahan Penyakit

Pada budidaya ikan bawal yang dilakukan di kolam air deras, karamba, atau karamba jaring apung, air terus berganti sehingga serangan penyakit cukup jarang terjadi. Namun demikian pembudidaya ikan harus tetap waspada akan kemungkinan serangan hama penyakit. Untuk mengantisipasi secara dini serangan penyakit, beberapa hal dapat dilakukan, yaitu:

  1. Untuk kolam air deras, sebelum kolam diisi air, lakukan pengeringan selama 14 hari dan sekaligus lakukan pengapuran.
  2. Jagalah sanitasi lingkungan.
  3. Lakukan penebaran benih dalam jumlah yang optimum, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit.
  4. Pemberian pakan tidak boleh berlebih, tetapi juga jangan sampai kurang.
  5. Tangani ikan dengan baik agar tidak terjadi luka yang akan mungkin akan memicu terjadinya infeksi.
  6. Cegah masuknya binatang liar seperti burung, siput, ataupun kepiting yang mungkin dapat membawa penyakit.