Kamis, 11 Agustus 2022

JENIS-JENIS PENYAKIT IKAN

Di antara penyakit yang disebabkan oleh parasit yang perlu diketahui adalah tanda-tanda serangan serta cara penanggulangannya seperti berikut ini.

a. Bintik putih

Gejalanya berupa bintik-bintik berwarna putih sehingga disebur penyakit bintik putih (white spot). Bagian tubuh ikan yang menjadi sasarannya adalah sel-sel pigmen, Sel darah, dan sel lendir. Bila yang diserang bagian kepala, terutama permukaan insang, ikan biasanya akan sesak napas dan lama-kelamaan mati. Serangan yang ringan pada selaput lendir mengakibatkan ikan gatal-gatal. Jika serangannya menghebat, tak jarang terjadi perdarahan yang menandakan bahwa sel - sel darah dirusaknya. Sering juga ikan yang diserang penyakit bintik putih memperlihatkan gejala banyak mengeluarkan lendir atau warna tubuhnya menjadi pucat.

Pengendalian

Penyakit bintik putih sangat sulit diberantas karena pada tahap parasiter parasit ini hidup terbungkus selaput sel lendir ikan. Jadi larutan obat tidak dapat meresap ke dalam parasit tanpa merusak selaput lendir ikan yang bersangkuran. Dengan demikian, pemberantasan yang efektif hanya bisa dilakukan dengan jalan memutus rantai hidupnya. Parasit ini akan melepaskan diri dari tubuh ikan setelah 8 hari menempel. Selama itu pula tersedia kesempatan mengobati ikan yang sakit. Caranya adalah sebagai berikut:

1). Buatlah larutan baku obat tersebut dengan mencelupkan 1 g metil biru ke dalam 100 cc air bersih. Sementara itu disiapkan pula wadah yang cukup besar (bak semen atau Waskom plastik) untuk merendam ikan-ikan yang sakit.

2). Isilah wadah yang akan digunakan dengan air bersih dan teteskan larutan baku obat metil biru 2 - 4 cc untuk setiap 4 liter air.

3). Masukkan ikan-ikan yang sakit. Biarkan selama 24 jam.

4). Pengobatan diulang selama 3 - 5 kali selang 1 hari, menggunakan larutan obat baru setiap kali mengobati.

Pengobatan yang lebih murah menggunakan larutan garam dapur (NaCl) dengan konsentrasi 1 - 3% atau 1 - 3 g garam dapur dalam 100 cc air bersih. Rendam ikan-ikan yang diobati selama 5 - 10 menit kemudian dipindahkan ke dalam air bersih. Demikian seterusnya, setelah ikan kelihatan segar kembali perendaman bisa diulang 2 - 3 kali. Setelah pengobatan, usahakan air yang masuk ke tempat pemeliharaan dapat mengalir terus-menerus disertai pemberian pakan yang cukup jumlah maupun mutunya.

b. Lernaea

Lernaea bisa masuk ke komplek perkolaman melalui aliran air pada stadia nauplius, atau lernaea dewasa yang terbawa oleh ikan seribu (Lebistes reticulatus) sebagai vektor (inang pembawa). Akibat serangannya, kulit ikan menjadi luka dan membengkak. Bila parasitnya dicabut akan terlihat bekas lubang pada tubuh ikan sehingga ikan mudah terkena infeksi kedua oleh virus, bakteri, atau jamur. Ikan yang sudah parah karena lama ditempeli parasit ini badannya kurus. Parasit lernaea mudah sekali tumbuh dan berkembang biak pada kondisi lingkungan yang mengandung banyak bahan organik seperti sampah, sisa pemupukan atau sisa makanan. Juga dapat tumbuh pada bak atau kolam yang pengairannya tidak mengalir dan bersuhu tinggi. Agar pemberantasannya efektif, perlu diketahui sifat biologi terutama mengenai sikius hidupnya.

Telur-telur lernaea yang berada dalam kantong telur akan dikeluarkan setelah menetas dalam bentuk nauplius. Pada stadium nauplius, lernaea hidup bebas di dalam air seperti plankton. Setelah memasuki stadia copepodit, parasit ini mulai hidup di sekitar rongga mulut dan insang ikan. Selanjutnya pada stadia cyclopodid sudah terbentuk lernaea jantan dan betina kemudian lernaea betina melakukan pembunuhan terhadap lernaea jantan sehingga hanya lernaea betina saja yang hidup sampai dewasa.

Pengendalian

Usaha pemberantasan secara kimiawi dapat dilakukan terhadap lernaea pada stadia copepodid maupun cyclopodid sebah stadia tersebut sangat peka dengan obat-obatan. Jenis obat-obat yang dapat mematikan antara lain formalin (formaldehid murni/pro analisis) 25 ppm atau 2,5 cc formalin dicampur dengan 100 liter air bersih. Pengobatan melalui perendaman selama 10 menit dilakukan 2 - 3 kali berturut-turut dalam waktu 2 - 3 hari. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengobatan dengan formalin yaitu 1). selama pengobatan harus di tempat teduh, 2). lama pengobatan tidak boleh lebih dan 10 menit, 3) ikan - ikan yang telah diobati harus ditempat¬kan pada air bersih, serta 4). larutan formalin 25 ppm bisa digunakan ulang 2 - 3 kali, asalkan tidak terjadi pengenceran.

Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (Balitkanwar) Bogor, menganjurkan pemberantasan lernaea secara langsung di tempat pemeliharaan menggunakan insekrisida golongan organofosfat, seperti Sumithion 50 EC, Dipterex, dengan konsentrasi 0,5 ppm melalui penyemprotan sebanyak 4 kali berturut - turut selang waktu 4 hari.

Kecuali pengobatan secara kimiawi, pemberantasan parasit Lernaea bisa dilakukan secara mekanis. Caranya dengan menggunting sampai purus parasit lernaca yang menempel atau menggantung pada tubuh ikan. Potongannya dikumpulkan kemudian dikubur dalam tanah. Untuk mencegah infeksi kedua pada ikan yang bersangkutan diobati dengan chloramphenicol atau tetraciclin. Obat ini berbentuk kapsul biasanya berisi 250 mg. Satu kapsul dilarutkan dalam 500 liter air. Ikan yang sakit direndam dalam larutan obat tersebut selama 2 - 3 jam. Pengobatan diulang sampai 3 kali dalam waktu 3 hari. Untuk mempercepat kesembuhan, ikan yang telah diobati diberi pakan secukupnya serta ditempatkan pada air bersih dan mengalir.

c.    Argulus

Ikan yang terkena infeksi memperlihatkan gejala pertumbuhan menurun sebah parasit ini mengisap cairan tubuh serta memakan sel-sel darah korbannya. Tidak jarang terjadi perdarahan akibat komplikasi serangan oleh jamur Achlya dan Saprolegnia.

Argulus menempel pada tubuh ikan dengan sangat kuat, tetapi dapat dilepaskan secara mekanis dengan pinset. Siklus hidupnya mulai dari masa bertelur sampai dewasa membutuhkan waktu 28 hari. Selama 12 hari adalah masa bertelur sampai menetas dan sisanya 16 hari digunakan untuk pertumbuhan sampai menjadi parasit dewasa. Telurnya bisa diletakkan pada batu-batu atau ranting tanaman yang ada di dasar perairan.

Pengendalian

Telur atau larva yang baru menetas bisa dimusnahkan dengan pengeringan kolam dan atau pemberian kapur. Pengobatan menggunakan obat-obat kimiawi yaitu ikan-ikan yang terkena parasit dimandikan dalam larutan Neguvon (1 g Neguvon/liter air) selama 10 - 30 detik. Selain dengan cara perendaman, pengobatan ikan berukuran besar dilakukan dengan cara mengusapkan bedak talk atau mercurochrome pada bagian tubuh ikan yang ditempeli parasit dengan bantuan kapas. Setelah diobati, ikan dimasukkan ke dalam tempat yang berisi air bersih mengalir sambil tetap diberi pakan secukupnya.

d.   Velvet

Tanda-tanda serangan penyakit velvet dapat diketahui dari adanya semacam karat berwarna kuning pada kulit ikan. Penyakit ini disebabkan oleh parasit Qodinium. Sasaran utamanya adalah jaringan kulir dan sel - sel kulir ikan. Ada dua spesies penting dan Qodinium, yaitu Oodinium Lemniticum dan Oodinium pillularis.

Oodinium tumbuh menjadi dewasa dalam beberapa hari pada tubuh ikan. Oodinium berkembang biak dengan membentuk kista. Pada spesies tertentu, sebelum kista dibentuk, Oodinium melepaskan diri dari tubuh ikan dan tenggelam ke dasar perairan. Kista-kistanya diletakkan pada batu, tumbuhan air atau dinding akuanium. Di dalam kista, parasit ini akan berkembang kemudian kerika kisra pecah anak-anak Oodinium berhamburan melayang-layang di dalam air mencani inang baru (ikan). Bila dalam wakru 24 jam tidak menemukan inang, Oodinium akan mati.

Ikan-ikan yang terserang Oodinium memperlihatkan gejala kulit rusak dan terdapat lubang bekas gigitannya. Pada infeksi yang berat serangannya bukan hanya pada bagian kulit, tetapi bisa melebar pada rongga mulut bahkan ke insang sehingga insang menjadi bengkak.

Pengendalian

Cara terbaik untuk mengarasi penyakit velvet ini antara lain dengan melakukan karantina bagi ikan baru selama kurang lebih 10 hari sebelum dipelihara lebih lanjut. Ikan yang sudah terlanjur terinfeksi dapat diobati melalui perendaman menggunakan metil biru, quinine, atau sodium klorida. Dosis serta cara pengobatannya sama seperri pemberantasan penyakit bintik putih.

e. Cacing insang dan cacing kulit

Sasaran cacing insang (Dacrylogyrus) selain insang juga kulir, tetapi cacing kulit (Gyrodacrylus) semata-mata hanya menyerang kulit. Dua macam parasit ini selama hidupnya berada pada tubuh ikan. Bila ikannya mati maka parasit ini siap mencari ikan lain. Tidak jarang tempat baru yang ditemukan adalah ikan-ikan yang telah dijangkiti parasit lain. Bila selama 10 jam setelah lepas belum juga menemukan ikan baru mereka akan mati.

Ikan yang terserang parasit Dactylogyrus frekuensi pernapasannya meningkat karena insangnya dirusak dan sering menimbulkan perdarahan. Namun, bila kulit ikan banyak mengeluarkan lendir, warna tubuh pucat, ikan lemas, tidak suka bergerak, serta sirip-sirip kuncup dapat dipastikan itu adalah akibat serangan parasit Gyrodacrylus.

Pengendalian

Untuk mengatasi parasit Dactylogyrus dan Gyrodactylus dilakukan dengan mengeringkan kolam dan atau menaburkan kapur. Dalam upaya mengurangi berjangkitnya penularan penyakit pada ikan lain dianjurkan untuk mengurangi padat penebaran. Jika infeksi terjadi sangat parah dan tidak mungkin bisa diselamatkan, lebih baik ikan dimusnahkan saja. Pengobatan bagi ikan yang belum terlalu parah sangat ampuh menggunakan formalin 25 ppm, caranya sama seperti pada pengobaran parasit lernaea.

f. Trichodina

Trichodina sering menyerang ikan yang sudah terjangkit parasit lain. Bagian badan yang diserang parasit ini menjadi pucat terkadang disertai dengan perdarahan dan bagian tubuh yang terinfeksi banyak mengeluarkan lendir. Namun, parasit Trichodina tidak menimbulkan kerugian yang besar.

Pengendalian

Usaha pengobaran bag ikan yang tertulari parasit Trichodina bisa dimandikan dalam larutan garam dapur (NaCl) 2,5% atau 2,5 g NaCl dalam 100 cc air selama 30 menit, dilakukan berturut-turut 3 kali selama 3 hari. Obat lain adalah larutan HCl quinine (1 g/50 liter air), ikan direndam selama 6 - 24 jam dalam larutan tersebut, sedangkan pengobatan dengan formalin konsentrasinya 25 ppm atau 2,5 cc formalin yang dicampurkan dengan 100 liter air bersih. Rendamlah ikan-ikan yang menderita sakit dalam larutan formalin selama 10 menit ditempat yang teduh, pengobatan diulang 2-3 kali dalam waktu 2 - 3 hari.

g.  Bakteri dan virus

Penyakit ikan yang disebabkan oleh bakteri dan virus belum banyak diketahui. Jenis bakteri yang sudah diketahui dan sering menimbulkan infeksi pada ikan antara lain bakteri Haemophiluspiscium dan beberapa spesies dan genus Aeromonas. Gejala umum yang diperlihatkan ikan yang terkena serangan bakteri dan virus yaitu ikan selalu dalam posisi vertikal di permukaan air atau bergerak berputar-putar atau miring. Terdapat kerusakan pada kulit seperti luka bakar, eksem, atau busuk seperti terkena cacar. Selain pada kulit juga seluruh sirip termasuk ekor tak luput dari serangannya hingga bentuk dan ekornya compang-camping, kadang-kadang yang tersisa tinggal jari-jarinya saja. Kalau yang diserang organ tubuh bagian dalam, perut ikan membengkak tidak normal dan bila dipijit akan keluar cairan kekuning-kuningan atau bahkan sering disertai dengan darah.

Bakteri dan virus bisa tumbuh subur pada wadah pemeliharaan yang kurang terawat secara baik. Oleh karena itu, menjaga dan mempertahankan tempat pemeliharaan tetap bersih dan sehat merupakan upaya pencegahan yang dapat menekan kerugian.

Pengendalian

Pengobatan ikan-ikan yang sakit bisa dilakukan melalui perendaman, pengusapan, atau pemberian pakan yang telah dicampur obat.

1). Perendaman

Jenis obat adalah antibiotik chioramphenicol, yaitu tetracyclin atau kemicitin. Obat tersebut dapat dibeli di apotik dalam bentuk kapsul beratnya 250 mg. Buatlah larutan dari obat tersebut 1 buah kapsul dicampur dengan 500 liter air bersih. Ikan yang sakit direndam selama 2 jam. Pengobatan ini dilakukan 3 - 5 kali berturut - turut selama 3 - 5 hari. Setiap kali selesai mengobati, ikan dipindahkan ke tempat yang berisi air bersih sambil diberi pakan.

2).   Usapan/olesan

Jenis obat yang digunakan adalah mercurochrome (obat merah) yang biasa dijual bebas dalam botol berkadar 2% mercurochrome. Obat merah tadi diencerkan 10 kali, yaitu 1 bagian mercurochrome dicampur dengan 9 bagian air. Ikan yang menderita luka diolesi obat yang telah diencerkan tepat pada bagian yang luka, selanjutnya dipindahkan ke tempat berair mengalir agar sisa obat yang beracun bagi ikan tercuci.

3). Pemberian pakan

Pengobatan melalui pakan jarang dilakukan karena biasanya ikan yang sakit tidak mau makan. Pengobatan ini terutama ditujukan bagi ikan yang terinfeksi bakteri pada organ tubuh bagian dalam. Jenis obatnya adalah Tetramycin. Caranya, timbang Terramycin sebanyak 1,5 - 2,0 g lalu campurkan ke dalam 1 kg pakan. Pakan yang telah dicampuri obat diberikan kepada ikan sebanyak 3% dari berat total ikan per hari untuk pagi, siang dan sore hari.

h. Jamur

Ciri khas akibat serangan jamur adalah pada badan ikan terlihat ada benang-benang halus berwarna putih seperti kapas. Sasaran bukan hanya benih atau ikan dewasa, tetapi telur juga bisa terinfeksi. Penyerangan terjadi terutama pada ikan yang sebelumnya sudah terjangkiti parasit lain atau ikan mengalami luka fisik sehingga penyerangannya merupakan infeksi kedua. Infeksi yang parah mengakibatkan ikan berputar-putar waktu berenang. Bila tidak segera ditangani, ikan menjadi kurus dan ahkirnya mati.

Penyakit ini disebabkan oleh dua jenis jamur yaitu jamur Achlya dan Saprolegnia. Meskipun sikius hidup kedua jamur ini belum diketahui secara pasti, tetapi keduanya sangat berbahaya. Mewabahnya jamur ini sering teriadi pada kondisi lingkungan yang banyak mengandung bahan-bahan organik dan sedang terjadi proses pembusukan. Serangannya menghebat terutama jika terjadi penurunan suhu air karena pada kondisi demikian ikan-ikan yang sehat pun akan terjangkiti maka secepatnya harus diambil tindakan pengobatan.

Pengendalian

Agar telur yang akan ditetaskan terbebas dan infeksi jamur sehingga hasil penetasan memuaskan, sebaiknya telur direndam dulu dalam larutan malachyte green 0,15 ppm. Larutan tersebut dapat dibuat dengan mencampurkan 150 mg malachyte green ke dalam 1.000 liter air bersih kemudian telur-telur direndam dalam larutan ini selama 30 - 60 menit.  Setelah itu, barulah telur dipindahkan ke tempat penetasan. Obat, dosis, dan cara pemberantasan jamur pada benih atau ikan dewasa sama seperti perendaman telur, tetapi pengobatannya diulang sampai 3 kali berturut - turut selama 3 hari.

Pengobatan dengan cara olesan bisa dilakukan pada ikan berukuran besar dengan mercurochrome 2% yang diencerkan 10 kali. Caranya sama seperti pemberantasan penyakit bakteri, tetapi sebelum dioleskan jamurnya digunting atau dicabuti dengan tangan. Setelah pengobatan, ikan ditempatkan dalam bak yang dialiri air agar sisa mercurochnome yang bersifat racun bagi ikan segera hilang.


Kamis, 04 Agustus 2022

PENYEBAB IKAN SAKIT

Terganggunya kesehatan ikan dapat pula diakibatkan oleh kondisi lingkungan seperti sifat fisika dan kimia air yang tidak cocok bagi ikan atau karena pakan yang tidak baik.

a. Kondisi pH

Kondisi pH yang dapat menggangu kehidupan ikan adalah pH yang terlalu rendah (sangat asam) atau sebaliknya terlalu tinggi (sangat basa). Setiap jenis ikan memperlihatkan respon berbeda terhadap fluktuasi perubahan pH, dan dampak yang ditimbulkannya pun bermacam - macam. Secara spesifik, keadaan pH akan berpenga­ruh dalam pemijahan ikan tertentu, seperti halnya dengan diskus hanya mau kawin dalam lingkungan sedikit asam yaitu pada pH 6, sedangkan kondisi optimal untuk penetasan telurnya pada pH 5. 

Di luar kondisi pH tersebut, pemijahan maupun penetasan telur diskus sering mengalami kegagalan. Oleh sebab itu, pengukuran pH untuk mengetahui pola perkembangannya perlu dilakukan agar dicapai produksi setinggi - tingginya.

b. Kekurangan oksigen

Gejala umum ikan yang kekurangan oksigen akan terlihat stres. Ikan sering muncul ke permukaan air mengambil napas langsung dari udara bebas dan berenang menghentak - hentak. Beberapa hal yang menjadi penyebab antara lain padat penebaran tenlalu tinggi, suhu tinggi, kurang atau tidak ada tanaman air sama sekali, kurang sinar matahari, dan tertimbunnya bahan organik dan sisa pakan ataupun tanaman air yang mati

Konsentrasi oksigen terlarut dalam wadah budi daya yang sa­ngat rendah menyebabkan ikan mudah terserang penyakit dan parasit, kadang - kadang tidak mau makan, dan tidak dapat berkem­bang biak dengan baik terutama pada konsentrasi oksigen kurang dari 4 ppm (4 mg/liter).  Oleh karena itu, tempat/wadah budi daya diupayakan tetap bersih, padat penebaran, dikurangi, kebutuhan sinar matahani cukup, tetapi intensitasnya tidak terlalu tinggi atau sebaliknya. Selain itu, penambahan tanaman air atau pemasangan aerator dapat menyumbangkan oksigen. Semuanya diatur sehingga tercapai keseimbangan yang tepat antara luas wadah budi daya, jumlah ikan yang ditanam, serta unsur - unsur lain yang dibutuhkan untuk kehidupan ikan yang ada di dalamnya.

c. Keracunan

Kerugian akibat keracunan biasanya fatal karena kematian terjadi secara massal, serentak, dan berlangsung cepat sehingga tidak sempat menyelamatkan ikan dan keadaan darurat tersebut. Penyebab kera­cunan bisa berasal dari pakan yang busuk atau adanya gas beracun seperti gas rawa, amonia, dan asam belerang.

Kondisi yang paling berbahaya adalah keracunan pestisida. Kadang - kadang pestisida sudah tercampur pada sumber air utama yang masuk ke lokasi budi daya sehingga seluruh areal perkolaman tercemari. Apalagi kalau sistem pengairannya secara paralel, semua kolam/bak masing - masing mendapat air baru dan saluran yang sama.

Penanggulangan sementara, saluran air yang masuk ke lokasi budi daya ditutup kalau racunnya berasal dari sumber air utama. Ikan yang belum terlalu parah (belum mati) dipunguti kemudian ditempatkan di kolam lain yang terbebas dari pencemaran. Kolam yang dijadikan tempat pengungsian, airnya harus mengalir dan bersih. Sebaiknya dipasang blower kemudian segera diperiksa air di sepanjang saluran untuk mengetahui bahwa aliran air itu masih beracun atau sudah normal kembali dengan melihat kehidupan organisme air yang ada di dalamnya. Jika sudah aman, pintu air dibuka dan dibiarkan hingga larutan racun yang ada di kolam hilang oleh aliran air baru.

d. Pakan Tidak Baik

Pakan dapat menimbulkan kerugian jika menjadi sumber infeksi penyakit, terutama bila komposisi gizinya buruk, misalnya kekurang­an vitamin atau mengandung bahan yang busuk dan beracun. Kualitas pakan yang buruk serta cara pemberian yang kurang tepat akan memicu peradangan yang serius pada saluran pencernaan se­hingga perut ikan terlihat membengkak dan terjadi perdarahan.

Komposisi pakan yang perbandingannya tidak sesuai, misalnya kandungan lemak atau karbohidrat berlebihan, dapat mengakibatkan penimbunan lemak sehingga organ seperti hati, ginjal, maupun jan­tung yang merupakan alat dalam tubuh ikan tidak dapat bekerja secara sempurna karena tertutup lapisan lemak. Pada ikan dewasa kelebihan lemak akan menghambat pemijahan. Jika gejala ini belum terlalu parah, penanggulangannya dilakukan dengan menghentikan pemberian pakan beberapa hari sampai kondisi ikan normal kembali. Dampak lain terutama dan pakan yang mengandung minyak ikan sering terjadi hipervitaminosis yang dapat memperlemah daya tahan tubuh, rerutama dari serangan bakteri maupun infeksi lainnya.

e. Perubahan suhu

Perubahan suhu yang mendadak mengakibatkan ikan menga­lami shock dan menderita stres. Nafsu makan ikan berkurang sejalan denhgan penurunan suhu.

Aklimatisasi benih ikan sebelum ditebarkan ke wadah baru

Jika penurunannya besar dan drastis, ikan akan berhenti makan, pertumbuhannya lambat, bahkan terhambat. Sebaliknya, jika terjadi kenaikan suhu yang ekstrem, ikan menjadi sulit bernapas. Jika hal ini berlangsung lama, ikan menjadi sangat rentan terhadap serangan penyakit dan parasit.

Untuk mengurangi risiko fatal akibat perubahan atau perbe­daan suhu, ikan yang akan dipindahkan ke tempat lain sebaiknya diberi penyesuaian (aklimatisasi) antara air lama sebagai media pengangkut dengan air di tempat baru.

Kamis, 21 Juli 2022

KLORIN DAN KLORAMIN

Chloramine

Klorin dan kloramin merupakan bahan kimia yang biasa digunakan sebagai pembunuh kuman (disinfektan) di perusahaan-perusahaan air minum seperti PAM atau PDAM. Klorin (Cl2) merupakan gas berwarna kuning kehijauan dengan bau lumayan menyengat. Bau ini bisa dikenali seperti bau air kolam renang yang biasanya secara intensif diberi perlakuan klorinasi dengan kaporit. Sedangkan kloramin merupakan senyawa klorin-amonia (NH4Cl).  

Klorin relatif tidak stabil di dalam air sehingga biasanya akan segera terbebas ke udara, sedangkan kloramin jauh lebih stabil dibandingkan klorin sehingga beberapa perusahan pengolah air minum (di luar negeri) tidak sedikit yang menggunakan bahan ini sebagai pengganti klorin. Baik klorin maupun kloramin sangat beracun bagi ikan. Keduanya akan bereaksi dengan air membentuk asam hipoklorus yang diketahui dapat merusak sel-sel protein dan sistem enzim ikan. Tingkat keracunan klorin dan kloramin secara alamiah akan meningkat pada pH lebih rendah dan temperatur lebih tinggi, karena pada kondisi demikian proporsi asam hipoklorus yang terbentuk akan meningkat.

Untuk menghindari efek kronis dari bahan tersebut maka residu klorin dalam air harus dijaga agar tidak lebih dari 0.003 ppm. Klorin pada konsentrasi 0.2 - 0.3 ppm sudah cukup untuk membunuh ikan dengan cepat. 

Tanda-tanda Keracunan

Ikan yang terkena klorin akan menunjukkan gejala seperti ingin keluar dari akuarium/tank, meluncur kesana kemari dengan cepat dalam usaha mencari daerah yang bebas dari klorin atau kloramin. Selanjutnya ikan akan gemetar dan warna menjadi pucat, lesu dan lemah. Klorin dan kloramin secara langsung akan merusak insang sehingga dapat menimbulkan gejala hipoxia, meningkatkan kerja insang dan ikan tampak tersengal-sengal di permukaan. Apabila ada aerasi atau aliran air, maka ikan-ikan tersebut akan tampak berkerumun disana.

Pencegahan dan Perlakuan

Air keran harus selalu di deklorinasi sebelum digunakan, baik secara kimiawi maupun fisika. Klorin dapat dihilangkan dengan pemberian aerasi secara intensif, atau dengan menyemburkan air keras-keras pada wadah (penampungan), atau dengan cara yang lebih sederhana yaitu dengan membiarkan (mengendapkan) air selama semalam. Dengan cara demikian maka gas klorin akan terbebas ke udara.

Cara lain adalah dengan menggunkan bahan deklorinator atau lebih dikenal dengan nama anti klorin yang biasa dijual di toko-toko akuarium. Penggunaan anti-klorin lebih dianjurkan untuk air-air yang diolah dengan kloramin. Sebelumnya pastikan bahwa anti klorin tersebut dapat bekerja baik untuk klor maupun kloramin, karena tidak semua produk anti klorin bisa menangani keduanya sekaligus. Pada umumnya anti-klorin mengandung natrium tiosulfat yang akan segera mengikat klorin. 

Kloramin relatif lebih sulit diatasi oleh natrium tiosulfat saja dibandingkan dengan klorin, karena maskipun gas klorinnya dapat diikat dengan baik, tetapi akan menghasilkan amonia. Anti klorin yang ditujukan untuk mengatasi kloramin, biasanya akan mengandung bahan kimia lain yang akan mengingat amonia tersebut. Apabila tidak maka dianjurkan untuk mengalirkan air hasil deklorinasi tersebut melewati zeolit.

Anti klorin hendaknya digunakan pada air sebelum air tersebut dimasukkan kedalam akuarium. Pemberian secara langsung di dalam akuarium disarankan hanya dilakukan dalam keadaan darurat saja.

Pada kasus terjadinya keracunan klorin, segera pindahkan ikan yang terkena kedalam akuarium/wadah yang tidak terkontaminasi. Dalam keadaan terpaksa tambahkan anti-klorin pada akuarium yang terkontaminasi untuk menetralisir/ menghilangkan residu klorin sesegera mungkin. Tingkatkan intensitas aerasi untuk mengatasi kemungkinan terjadinya stres pernapasan pada ikan-ikan di dalamnya.


Kamis, 14 Juli 2022

DIANOSA PENYAKIT IKAN SECARA SEDERHANA

Faktor X dalam budidaya ikan yang dapat menurunkan produktivitas para pembudidaya pada musim-musim sekarang ini adalah penyakit. Memang banyak faktor bila diteliti lebih mendalam tentang penyebab munculnya wabah penyakit. Dalam usaha budidaya yang intensif, kita mencoba memelihara ikan dalam kondisi yang terkontrol (padat tebar tinggi, pakan tambahan, aerasi dan lain-lain). Semuanya ini mengakibatkan perubahan baik terhadap biologi, nutrisi atau bentuk-bentuk polutan. Dalam banyak hal, kegiatan budidaya telah mengakibatkan banyak kerugian dimana penyakit telah membunuh sebagian besar atau bahkan seluruh stok ikan yang dipelihara. Lebih umum lagi, keberadaan penyakit telah membuat usaha budidaya tidak ekonomis. Kita sebenarnya dapat memelihara dan memproduksi ikan yang sehat baik pada hatchery maupun pada usaha pembesaran. Ini bisa dicapai apabila kita mengerti kompleks interaksi dari faktor-faktor yang menyebabkan suatu penyakit dan menerapkan pengetahuan ini dalam usaha budidaya yang intensif. 

Banyak orang percaya bahwa apabila suatu biological (zat hidup) atau chemical agent (zat kimia) berada dalam atau pada organisme peliharaan, maka organisme tersebut akan menderita sakit. Hal ini memang benar adanya. Terdapat banyak faktor yang menentukan seekor ikan menjadi sakit. Para pakar Aquaculture menggambarkan sebuah diagram keterkaitan faktor-faktor dalam budidaya ikan yang rentan dituding sebagai asal muasal penyakit, sebagai berikut :

Diagram keteraitan faktor budidaya ikan

Faktor utamanya adalah Host (organisme peliharaan / inang), Pathogen (microba, parasit) dan Environment (lingkungan / air). Penyakit merupakan ekspresi dari kompleks interaksi antara host-pathogen-environment.

Analisis deskriptif

Siklus penyebaran penyakit seperti gambar diatas dapat dianalisa dengan pemikiran dasar / logika tanpa diagnosa rumit dan membutuhkan alat ukur / biaya yang mahal. 

Lingkaran pertama adalah inang (ikan), artinya bahwa masuknya penyakit ke dalam tubuh ikan tergantung dari sejauh mana tingkat kesehatan dan kekebalan tubuh ikan tersebut. Kondisi optimal atau ikan sehat dengan gerakan lincah dan sistem metabolisme normal (nafsu makan baik) merupakan modal awal untuk menjaga daya hidupnya. Sebuah ilmu mengatakan bahwa microba berupa bakteri dapat masuk dalam tubuh ikan meskipun dalam kondisi sehat, namun selama bakteri baik dalam tubuh yang berfungsi membantu kerja metabolisme dengan menghasilkan enzym tersebut dapat berperan bagus, maka bakteri pathogen tidak akan bisa menandinginya. Sebaliknya dengan microba virus yang dikenal mematikan tidak akan dapat masuk atau menyerang ke dalam tubuh ikan dengan kondisi tubuh fit. Ia akan menjadi pathogen yang bersifat parasit (menempel dan membunuh) pada ikan yang kurang sehat atau stress. Untuk itu, perlunya kita memperhatikan dan mengenal kondisi ikan budidaya secara kontinu atau perlunya dilakukan sampling (ambil contoh) untuk memastikan kondisi ikan tersebut.

Kedua, masalah Pathogen (microba, bakteri, parasit atau virus) yang merupakan sumber malapetaka penyakit. Dilihat dari segi ekosistem air budidaya, bahwa media budidaya ikan tidak lepas dari mikroorganisme baik fyto atau zoo (tumbuhan atau hewan) yang mewarnai siklus budidaya. Kehadiran mereka justru diharapkan guna menyeimbangkan perairan budidaya, dalam artian bahwa lebih baik budidaya dengan kondisi perairan dengan ekosistem yang terjaga dari pada budidaya dalam air mineral yang steril.

Ekosistem Perairan

Di atas digambarkan, bahwa kondisi perairan sesungguhnya didominasi oleh rangkaian ekosistem yang tak terelakkan, dihuni oleh mikroorganisme, bakteri, virus, jamur dan parasit yang siap mengancam kesehatan perairan dan ikan. Disisi lain hal tersebut dapat dimanfaatkan secara positif dalam kondisi baik. Seperti halnya mikrorganisme (fytoplankton dan zooplankton) yang biasanya membentuk warna air (kehijauan/kecoklatan) merupakan pakan alami untuk ikan. Selain itu, fytoplankton dikenal sebagai pemasok oksigen terlarut (DO) dalam air terbesar dengan bantuan sinar matahari. Namun beberapa jenis fyto dan zooplankton ada yang bersifat toxic (beracun) dalam perairan tidak stabil.

Jenis bakteri dan virus akan muncul seiring dengan menurunnya kualitas air kolam. Banyak faktor yang membuat perubahan tesebut, misalnya tumpukan sisa pakan dan kotoran didasar kolam yang merupakan zat organik yang sifatnya akan membusuk jika tidak terjadi dekomposisi (perombakan), perubahan cuaca dari panas ke hujan atau sebaliknya sehngga mengguncang parameter suhu, pH (keasaman), kandungan oksigen dan parameter fisika dan kimia air lainnya. Puncak kejahatan bakteri dan virus adalah jika mereka dapat memanfaatkan kondisi ikan yang kurang sehat dan menjadikannya wabah yang dapat ditularkan manakala terjadi kontak fisik, air dan bahkan melalui udara ke kolam lainnya.

Sedangkan jamur dan parasit kerap muncul dan memperburuk kondisi perairan yang keruh atau pekat akibat pencemaran ataupun menumpuknya zat organik seperti sisa pakan. Sifat dari jamur dan parasit selalu berkembang biak selama media hidupnya dapat ditempeli. Tak jarang dapat membentuk spora,kista atau telur yang akan semakin merebak pada kolam. Menempel pada tubuh ikan dan menggerogoti sistem jaringan luar epidermis (kulit atau sisik) sehingga menjadikannya luka yang apabila tidak segera diatasi dapat menyebar dan mematikan.  

Faktor yang terakhir adalah lingkungan (air media budidaya). Tidak hanya membahas tentang bagaimana kondisi parameter kualitas air, namun juga hal-hal yang berpengaruh dengan lingkungan tersebut. Keseimbangan air yang merupakan parameter penting dalam pengelolaanya, karena ada beberapa hal yang sering disoroti para pakar budidaya ikan, yakni : parameter air (fisika dan kimia), kepadatan dan pakan ikan.

Keseimbangan Perairan

Macam-macam penyakit ikan air tawar

Beberapa macam penyakit ikan yang menyerang dan telah mewabah di daerah potensi perikanan wilayah indonesia masih menjadi kendala dan pasang surut produktivitas petani budidaya. Keadaan cuaca/iklim dan kondisi lingkungan yang menunjukkan penurunan daya dukung lahan semakin kentara. Disisi lain, tidak diimbanginya mutu perbenihan yang semakin anjlok, meskipun telah muncul berbagai varian genetik ikan air tawar, namun persebarannya kurang merata dan harus dilakukan adapatasi yang memakan waktu mengingat posisi alam indonesia pada belahan bumi tropis.

1. KHV (Koi Herpes Virus) 

Koi Herpes Virus yang kabarnya masih menjadi momok bagi pembudidaya ikan mas (Cyprinus carpio sp.). Dari data Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan dan Balai Riset Perikanan Budidaya (Ditkeskanling dan BRPB) bahwa penyebaran virus KHV telah merambah di seluruh nusantara.

Penyebaran penyakit, terutama infeksi virus akan terus menyebar tanpa bisa dikendalikan, karena dapat melelui media udara. Jika kita kembalikan kepada pemahaman tentang sifat virus sendiri yang tidak dapat masuk ke dalam tubuh inang selama ikan tersebut dalam kondisi sehat, berarti masih ada sebuh harapan besar yang dapat kita jadikan tuntunan bahwa begitu pentingnya menjaga kesehatan ikan atau melakukan sebuah langkah pencegahan. Karena apabila sudah terinfeksi dan virus telah dapat merusak sistem organ dalam tubuh ikan, tidak akan ada harapan dan yang terjadi adalah menunggu kematian ikan.

Gejala timbulnya penyakit KHV berawal dari kondisi suhu perairan dan lingkungan yang tidak bersahabat, lonjakan naik turunnya suhu kerap menimbulkan efek negative. Diketahui dari hasil riset internasional bahwa pertumbuhan KHV terjadi pada suhu 15 – 25 oC. Aktivitas serangan virus bersifat akut (mematikan) hingga 80 – 100% kematian pada ikan, menghasilkan kerusakan jaringan cukup luas dan menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Infeksi virus sering dilanjutkan dengan infeksi sekunder oleh bakteri ataupun didahului oleh infeksi sekunder oleh organisme parasit misalnya Argulus (kutu ikan), Lernea dan lain-lain.

Insang Terserang KHV

Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa kondisi ikan mas yang terserang penyakit KHV selalu ditandai dengan luka atau memar merah pada bagian insang ikan. Diawali dengan tingkah laku ikan yang berenang tanpa arah atau memutar-mutar, bernafas dengan terengah-engah (megap-megap) pada permukaan air, keluarnya lendir, mata cekung dan bengkak pada bagian insang. Virus menginfeksi dengan serangan pertama pada insang yang merupakan organ vital dalam pernafasan ikan, kemudian menjangkit pada organ dalam tubuh ikan yakni ginjal dan merusak system pencernaan usus sehingga nafsu makan turun drastis. Virus tetap infectif selama 4 jam didalam air sehingga dapat menular pada ikan yang lain dengan kondisi labil. Infeksi sekunder bakteri juga menyebabkan banyak terjadi luka-luka pada bagian sisik atau tubuh ikan. Hingga sekarang ini, KHV dapat mewabah sewaktu-waktu pada budidaya kolam kita, untuk itu tindakan insentif dalam pencegahan harus tetap dilakukan dengan pengelolaan air yang baik, pemberian multivitamin atau supplemen untuk membantu menguatkan daya tahan tubuh ikan perlu diterapkan.

2. Aeromonas hidrophyla

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri aeromonas ini dapat menjangkit semua jenis ikan air tawar di Indonesia. Dimana-mana bakteri-bakteri ini hampir selalu ditemukan dan hidup di air kolam, di permukaan tubuh ikan dan pada organ-organ tubuh bagian dalam ikan. Bakteri ini mudah berkembang biak dalam kondisi perairan dengan segala suhu dan perubahan lingkungan. 

Keberadaannya tidak begitu berbahaya, namun dalam jumlah yang banyak di perairan, bakteri selalu siaga mengintai kondisi labil ikan dan ketidakstabilan air untuk bergerak dan menimbulkan penyakit. Infeksi yang sering terjadi biasanya berkaitan dengan kondisi stress ikan yang diakibatkan oleh beberapa hal. Untuk itu perlu diperhatikan secara lebih serius. 

Faktor kepadatan (kuantitas) ikan dalam kolam adalah penyebab yang sering mengakibatkan ikan stress. Daya tampung benih harus diperhitungkan secara matang agar tidak terjadi over capacity yang mengakibatkan ikan kekurangan ruang gerak dan oksigen untuk bernafas pada saat usia dewasa, atau dapat dilakukan sortir atau pendederan. 

Malnutrisi atau pola makan yang tidak seimbang antara frekwensi pembarian pakan dan nilai gizi pakan. Kebutuhan pakan ikan dapat dipenuhi dengan adanya pakan alami dalam perairan ataupun pakan buatan yang disuplai dari luar. Untuk lebih memaksimalkan pertumbuhan dan mencegah terjadinya malnutrisi dapat digunakan supplemen tambahan yang membantu menambah nilai gizi pakan. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan ikan dengan melakukan sampling setiap minggunya agar diketahui secara pasti kurang labihnya kebutuhan pakan yang diberikan.

Ikan Terserang Aeromonas

Ilmu pengetahuan yang berkembang menyatakan bahwa Aeromonas hydrophila dapat memanfaatkan albumin, kasein, fibrinogen, dan gelatin sebagai substrat protein. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bakteri ini bersifat proteolotik (Shotts et al. 1985), sehingga berpotensi besar sebagai patogen ikan. Adanya enzim proteolitik akan merusak dinding intenstin, sehingga terjadi penebalan dinding, udem dan semi transparan (Munro 1982). Ketika Aeromonas hydrophila masuk ke dalam tubuh inang, maka toksin yang dihasilkan akan menyebar melalui aliran darah menuju organ.

LPS dapat menyebabkan peradangan, demam, penurunan kadar besi, dan pembekuan darah. Disamping mampu memproduksi eksotoksin dan endotoksin sebagai faktor virulensi, Aeromonas hydrophila patogen juga memiliki kemampuan untuk menempel pada sel tubuh ikan melalui aktifitas adhesins

Serangan yang ditimbulkan bersifat akut dan apabila kondisi lingkungan terus merosot, dapat menyebabkan kematian missal. Ditandai dengan timbulnya luka-luka memar atau borok di sekujur tubuh dan kepala ikan. Penyakit ini dapat menular bebas melalui air, kontak badan dan peralatan yang tersemar olah bekteri tersebut. Untuk itu faktor kepadatan dan kualitas air harus benar-benar dijaga dengan system pencegahan yang lebih efektif.

3. Bintik putih “ich”

Penyebaran penyakit ini sangat cepat, terutama pada suhu optimalnya (15-25°C). pada suhu 30° C atau lebih, penyakit ini akan mati atau siklusnya berhenti. Siklus hidup parasit ini terbagi dalam beberapa fase, yaitu parasiter (tropozoit), pre-kista (tomont), kista (trophont), post-kista (theront).

Siklus Perkembangbiakan "ich"

Siklus hidup ini terjadi selama 6 hari pada suhu 25°C, 10 hari pada suhu 15°C, dan lebih sebulan pada suhu 10° C. Fase parasiter merupakan fase aktif yang membentuk nodula (spot atau bintik) putih di kulit dan epitel insang ikan. Bila sudah dewasa, parasit akan keluar dari nodula dan membentuk pre-kista yang berenang bebas mencari tempat menempel seperti akuarium, serokan, dan tanaman air. Di tempat menempelnya pre-kista akan berkembang menjadi kista yang di dalamnya berisi tomite.

Tomite inilah yang akan membelah menjadi banyak. Pembelahan tomite menyebabkan kista pecah sehingga tomite keluar. Tomite selanjutnya akan berkembang menjadi bentuk post-kista. Fase inilah yang aktif menyerang ikan. Jumlahnya di dalam air sangat banyak. Setiap kista dapat menghasilkan lebih dari 1.000 post-kista.

Berdasarkan sumber lain, bahwa penyakit ini sering terjadi pada musim hujan dengan suhu berkisar 20 - 24°C, selain itu pH perairan yang cepat naik turun pada musim penghujan juga memperkuat argument bahwa fluktuasi air kolam lebih drastis. 

Ikan Terserang Penyakit Bintik Putih

Ikan yang terserang akan kehilangan fungsi insang sehingga mengganggu respirasi. Selain itu ikan menjadi malas berenang dan Akibat serangan penyakit berbahaya ini, tubuh ikan banyak dijumpai bintik-bintik putih sehingga penyakit ini disebut White spot. Apabila telah menyebar keseluruh tubuh, dapat menimbulkan kematian. Terkesan lebih tragis bahwa pada serangan cukup serius, ikan akan menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding akuarium atau kolam sehingga menimbulkan luka. Luka dapat mengalami infeksi sekunder oleh cendawan.

Walaupun kebanyakan yang diserang adalah benih ikan berukuran 1-5 cm, namun penyakit ini pun sering menyerang ikan besar maupun kecil. Begitu hebat perkembangan siklus hidup dan penyebaran parasit ini, untuk itu perlu lebih significant dalam melakukan tindakan pencegahan, minimal dengan cara memberok ikan pada air mengalir atau kepadatan ikan dikurangi. 

4. Streptococcus

Streptococcosis memang tidak masuk ke dalam daftar penyakit ikan yang dianggap sangat berbahaya oleh Komisi Kesehatan Ikan dan Lingkungan, sebagaimana MAS, KHV, WSSV atau pun VNN. Tetapi, meski tak masuk dalam daftar tersebut, bukan berarti penyakit streptococcosis bisa dianggap remeh oleh para pembudidaya ikan nila. Pada manajemen budidaya yang kurang baik, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian masal. “Pada fase pembesaran, kematian bisa sampai 100%.

Penyakit streptococcosis ini biasanya muncul pada saat adanya perubahan cuaca secara drastis, dari panas ke hujan maupun sebaliknya. “Jika siangnya panas terik, kemudian sore harinya terjadi hujan, penyakit ini berpotensi akan muncul”.

Dalam banyak kasus, bakteri Streptococcus menyerang ikan nila pada ukuran tertentu. “Biasanya pada saat ukuran ikan menjelang 50 gram. Setelah itu, dia akan menyerang lagi saat ikan berukuran antara 100-250 gram,” ujarnya. Ini berarti ancaman yang sama besar ditujukan baik kepada para pendeder (saat ikan berukuran di bawah 50 gram) maupun pembudidaya pembesaran (saat ikan berukuran 100-250 gram).

Bakteri Streptococcus ini akan masuk ke  dalam tubuh ikan nila lewat infeksi melalui sistem pencernaan. Gejala ditandai dengan penampakan perut ikan yang terlihat agak kembung. Selanjutnya bakteri akan masuk aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh, hingga ke ginjal. “Jika dilakukan bedah bangkai ginjal kelihatan pucat dan bengkak,”

Pada fase ini, nafsu makan ikan akan berkurang, sehingga ikan lebih mudah stres, daya tahan menurun. Tahap lanjut, toksin (racun-red) dari bekteri mulai menyebar mengganggu syaraf, hingga akhirnya menyerang syaraf pusat, yaitu otak. “Kalau sudah sampai syaraf, sulit untuk diatasi. Pada fase ini ikan menunjukkan gejala berputar-putar (whirling) menyerupai gangsing, dan akhirnya ikan tersebut mati.

Celakanya, waktu yang dibutuhkan bakteri streptococcus ini dari menginfeksi ikan nila sampai pada fase whirling relatif singkat. “Rata-rata hanya butuh waktu antara 7-14 hari, tergantung dari kondisi ikan nila,” sambung Heny. Serangan bakteri Streptococcus ini ternyata tidak hanya mengakibatkan ikan berputar-putar dan kemudian mati, tetapi juga dapat mengakibatkan penyakit popeye, dengan ciri-ciri; mata menonjol, bengkak dan berdarah. (artikel Akibat Streptococcosis, Rusak Nila Sekolam, 2006)

Penyakit Ikan Mendolo